PHK Toshiba dan Panasonic, Perjuangan Dua Raksasa untuk Hidup

Pekerja melintas di lokasi pabrik PT Panasonic Manufacturing Indonesia di Jalan Raya Bogor KM.29, Gandaria, Jakarta Timur, Rabu (3/2). Perusahaan raksasa elektornik Panasonic berencana menutup usaha dua pabriknya di Indonesia yaitu PT Panasonic Lighting di Cikarang, Jawa Barat dan Pasuruan, Jawa Timur akibat sepinya pasar dan penurunan daya beli. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
- 26 Februari 2016
Dibaca Normal 7 menit
Toshiba dan Panasonic mulai rentan. Sedikit demi sedikit pangsa pasar mereka digerogoti oleh produk Cina dan Korea Selatan yang lebih murah dengan kualitas tidak jauh berbeda. Tutupnya sebagian operasional Toshiba dan Panasonic di Indonesia merupakan bagian dari rencana besar induk perusahaan dalam melakukan restrukturisasi. Tutupnya kedua pabrik ini di Indonesia menambah daftar perusahaan yang melakukan PHK.
tirto.id - Pada tahun periode 1960 hingga 1970-an, industri elektronik Jepang berada di puncak kejayaannya. Ekspansi besar-besaran dilakukan sehingga Jepang menjadi salah satu penguasa dunia. Mereka bahkan mampu mematahkan dominasi industri elektronik dari Barat. Memasuki tahun 2000, industri elektronik Jepang mulai goyah ketika Cina dan
Korea Selatan secara perlahan mulai menancapkan pengaruhnya.

Kini, Jepang bukan lagi pemain utama industri elektronik dunia. Ketatnya persaingan dan produk-produk yang terus bergeser trennya membuat produsen Jepang mulai kewalahan. Satu per satu industri elektronik Jepang bertumbangan. Yang masih hidup, berjuang mati-matian dengan melakukan restrukturisasi, termasuk Panasonic dan Toshiba.

Di Indonesia, Panasonic dan Toshiba baru saja membuat kejutan dengan pengumuman penutupan pabriknya. Ratusan karyawan harus terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Di pasar yang gemuk seperti Indonesia, Panasonic dan Toshiba seharusnya mampu mendulang laba. Sayangnya, mereka harus melakukan restrukturisasi sebagai “obat” penyembuh luka bisnis mereka yang sedang berdarah-darah di pasar global.

Hengkangnya Dua Raksasa

Toshiba dan Panasonic memiliki sejarah panjang di industri elektronika global. Cikal bakal Toshiba sudah hadir sebelum tahun 1900, sementara Panasonic baru hadir pada tahun 1931. Seiring makin majunya industri Jepang, Toshiba dan Panasonic semakin menjadi penguasa dunia. Keduanya masuk dalam daftar 2.000 perusahaan publik “raksasa”, “The World's Biggest Public Companies” di 2015 versi Forbes, berdasarkan penjualan, aset, keuntungan, dan market value. Toshiba menempati urutan ke-356 dengan penjualan USD 63,2 miliar dan Panasonic berada di peringkat ke-553 dengan penjualan USD 71,5 miliar.

Meski masih menjadi perusahaan publik terbesar, tetapi sejatinya sudah lama bisnis Toshiba dan Panasonic mulai rentan. Sedikit demi sedikit pangsa pasar mereka digerogoti oleh produk Cina dan Korea Selatan yang lebih murah dengan kualitas tidak jauh berbeda. Kabar-kabar tentang rencana restrukturisasi, efisiensi secara berkala menghiasai media massa. Tak terkecuali kabar efisiensi mereka di Indonesia.

Awal Februari 2016, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) Said Iqbal buka suara soal rencana penutupan pabrik serta PHK di pabrikan TV dan lampu Toshiba dan Panasonic. Kabar ini sempat membuat pemerintahan tak percaya, karena industri elektronika termasuk yang pasar dan investasinya tumbuh baik di dalam negeri.

"Kalau dilihat secara keseluruhan, sebenarnya terjadi peningkatan komitmen investasi di sektor tersebut (elektronik) hingga 106 persen," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani dikutip dari Antara.

Toshiba dan Panasonic sebenarnya telah mengungkapkan soal rencana dramatis mereka di Indonesia sejak tahun lalu. Misalnya sejak Agustus lalu, Nikkei melaporkan soal rencana Panasonic ingin memindahkan pabrik Light Emitting Diode (LED) mereka di Indonesia ke Jepang. Alasannya, 80 persen hasil produk LED Indonesia yang paling besar pasarnya di Jepang. Biaya impor yang tinggi terkait pelemahan yen juga menjadi pertimbangan.

Mencuatnya kabar penutupan pabrik sempat menimbulkan keresahan. Presiden Komisaris Grup Panasonic Gobel, Rachmat Gobel buru-buru angkat suara. Ia menegaskan Panasonic tak menutup pabriknya di Indonesia. Menurut dia, Panasonic justru sedang menggabungkan (merger) dua unit bisnis lampunya untuk mengikuti perkembangan teknologi dan pemperkuat daya saing. Gobel menegaskan Panasonic masih optimistis berbisnis di Indonesia.

“Kami tidak akan hengkang,” tegas mantan menteri perdagangan ini, seperti dikutip dari Antara.

Gobel menjelaskan, Panasonic Indonesia melakukan restrukturisasi pabrik lampu mereka di Pasuruan (Jawa Timur), Cikarang dan Cileungsi (Jawa Barat). Panasonic melakukan pergantian proses produksi dan mengganti teknologi lampu lama Hemat Energi/Compact Fluorencent Lamp (LHE/CFL) menjadi LED. Saat ini, PT Panasonic Lighting Indonesia di Pasuruan memproduksi LHE yang permintaannya mulai lesu di pasar global.

Data National Electrical Manufacturers Association (NEMA) menunjukkan, penjualan produk LHE secara global sejak 2011 sudah stagnan. Sementara lampu LED yang dianggap lebih hemat energi menunjukkan tren kenaikan permintaan. Tren pasar lampu di dunia maupun Indonesia, saat ini mengarah pada lampu LED. Pada periode Januari-September 2014 penjualan CFL turun 13 persen dibandingkan periode 2013. Sedangkan lampu LED A-Line dan Hologen A-Line tumbuh masing-masing 53,8 persen dan 37,7 persen.

Perusahaan lainnya yang memroduksi lampu yaitu PT Panasonic Gobel Eco Solution Manufacturing Indonesia sudah memproduksi LED. Kegiatan produksinya ada di Cikarang dan Cileungsi. Dua pabrik yang ada di Cikarang dan Pasuruan dilebur untuk memperkuat teknologi lampu LED. Setelah peleburan, lokasi pabrik LED Panasonic akan dikonsentrasikan di Pasuruan dan Cileungsi

Panasonic memberi tiga pilihan kepada pekerja pabrik di Cikarang yang jumlahnya 425 orang . Pertama, tetap bergabung di perusahaan untuk bergabung dalam proses produksi di Pasuruan atau Cileungsi. Kedua, diusahakan bergabung dalam kelompok Panasonic Gobel sesuai kemampuan dan keahlian masing-masing. Ketiga, memilih mengundurkan diri dari Panasonic.

Berbeda dengan Panasonic, Toshiba Corporation secara resmi telah mengumumkan penjualan PT Toshiba Consumer Product Indonesia yang memroduksi TV kepada Skyworth, sebuah perusahaan manufaktur asal Cina. Pabrik yang berlokasi di East Jakarta Industrial Park (EJIP), Cikarang, Jawa Barat itu dijual dengan harga kurang dari 3 miliar yen atau sekitar USD 25 juta. Transaksinya diharapkan tuntas pada Maret 2016. Skyworth selanjutnya menjadi pemegang lisensi Toshiba di Indonesia. Toshiba juga menutup pabrik pembuatan mesin cuci di lokasi yang sama. Lahan dan fasilitas produksi pabriknya dijual.

Penjualan ini masuk dalam program reformasi bisnis di segmen visual (TV). Toshiba memutuskan semua pengembangan, produksi, dan penjualan di luar Jepang, akan memakai pendekatan lisensi merek. Toshiba akan fokus pada produk visual untuk pasar Jepang saja. Pemberian lisensi merek seperti yang akan berlaku di Indonesia sudah berlangsung di pabrik-pabrik TV Toshiba di Amerika Utara dan Eropa. Hal yang sama akan berlaku di Timur Tengah dan Afrika melalui skema joint venture, termasuk di Brasil.

Induk Sakit, Anak Meriang

Tutupnya sebagian operasional Toshiba dan Panasonic di Indonesia merupakan bagian dari rencana besar induk perusahaan dalam melakukan restrukturisasi. Presiden Direktur dan CEO Toshiba Corporation, Masashi Muromachi pada 21 Desember 2015 telah menyampaikan program “Rencana Aksi Revitalisasi Toshiba”' dan mengumumkan proyeksi kerugian 550 miliar yen untuk periode 2016. Saham Toshiba anjlok 12 persen setelah pengumuman tersebut. Belum lama ini, Toshiba merevisi proyeksi kerugiannya menjadi 720 miliar yen atau USD 6 miliar.

Program reformasi besar-besaran Toshiba ini antara lain mencakup reformasi struktur bisnis perusahaan, mengkaji portofolio bisnis dan struktur operasional perusahaan, mereformasi basis keuangan. Program revitalisasi atau restrukturisasi juga terjadi pada penguatan pengawasan internal dan reformasi budaya kerja di Toshiba.

Toshiba juga merestrukturisasi bisnis segmen gaya hidup (lifestyle) seperti personal computer (PC), produk rumah tangga, visual seperti TV, karena penjualannya cenderung turun secara global. Dampaknya ada 6.800 karyawan yang dikurangi hingga Maret 2016, setara dengan kurang lebih 3 persen dari total global pekerja Toshiba.

Segmen produk gaya hidup ini menyumbang penurunan penjualan terbesar selama 2015 dengan angka mencapai minus 27 persen. Sedangkan produk yang masih menyumbang positif dan prospektif adalah sektor energi-infrastruktur dan alat kesehatan. Toshiba akan lebih fokus pada bisnis energi dan storage di 2016.

Total biaya yang dibutuhkan untuk reformasi struktural bisnis ini mencapai 260 miliar yen. Keseluruhan karyawan yang dipangkas dalam program restrukturisasi mencapai 10.600 orang di seluruh dunia, terdiri 4.800 pekerja di luar Jepang dan 5.800 pekerja di Jepang.

Tak jauh berbeda dengan Toshiba, Panasonic juga sedang melakukan restrukturisasi bisnis mereka secara global. Namun, penyebabnya utamanya karena merosotnya kinerja bisnis mereka karena perlambatan penjualan di berbagai pasar negara berkembang termasuk di Cina. Dampaknya juga terasa di Indonesia yang menjadi salah satu basis produksi beberapa produk elektronika seperti lampu. Pabrik lampu Panasonic harus dilebur demi efisiensi dan menjawab tantangan zaman sehingga menimbulkan PHK.

Di tengah hiruk pikuk kabar PHK di Indonesia, secara bersamaan induk usaha Panasonic Corporation di Jepang mengumumkan soal revisi proyeksi penjualan dan pendapatan mereka secara global untuk tahun fiskal 2016. Kabar ini langsung membuat anjlok saham Panasonic di bursa Tokyo, hingga turun hingga 8 persen pada 3 Februari 2016.

Revisi proyeksi ini setelah mempertimbangkan kondisi bisnis terkini, karena perlambatan ekonomi di negara berkembang seperti Cina,. Selain itu bisnis untuk produk ICT seperti baterai dan sistem produk solar cell untuk perumahan di Jepang juga sedang mengalami penurunan, sehingga Panasonic merevisi proyeksi penjualan dan keuntungan.

Beberapa tahun terakhir penjualan Panasonic dalam tren penurunan, pada 2011 penjualan sempat mencapai 8.692 miliar yen, lalu anjlok pada tahun berikutnya menjadi 7.846 miliar yen. Pada 2013 penurunan penjualan terus berlanjut hingga mencapai 7.303 miliar yen, pada 2014 ada sedikit perbaikan mencapai 7.736 miliar yen, dan 2015 mencapai 7.715 miliar yen. Untuk tahun 2016 direvisi dari 8.000 miliar yen menjadi 7.550 miliar yen. Padahal Panasonic sempat optimistis bisa menggenjot penjualan mereka lagi dengan proyeksi penjualan lebih tinggi hingga 10.000 miliar yen di 2019.




Remuk di Pasar Gemuk

Toshiba dan Panasonic mundur dari Indonesia bukan karena pasar yang tidak prospektif. Menilik data yang ada, Indonesia merupakan pasar yang sangat prospektif. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), jumlah penduduk Indonesia pada 2014 mencapai 252,2 juta jiwa dan 255,5 juta jiwa pada 2015.

Selain pasar yang besar, konsumen Indonesia juga punya karakter yang kuat. Dari berbagai survei, tingkat keyakinan konsumen di Indonesia selalu yang lebih tinggi di kawasan. Orang Indonesia juga terkenal konsumtif, mayoritas pendapatannya lebih banyak dipakai untuk konsumsi daripada untuk keperluan lain seperti menabung atau investasi.

Kondisi ini membuat bisnis ritel termasuk penjualan elektronika terus tumbuh di dalam negeri. Pertumbuhan penjualan elektronika mengalahkan pertumbuhan penjualan pakaian, hingga makanan dan minuman. Penjualan TV trennya juga terus naik.

Pasar yang besar dan terus tumbuh membuat Indonesia jadi incaran pemain elektronika global. Persaingannya sangat ketat. Keberadaan produk elektronika asal Cina yang terkenal murah dan produk Korea seperti Samsung dan LG rajin berinovasi teknologi dan model menjadi tantangan bagi pemain asal Jepang di pasar Indonesia.

Keunggulan pasar Indonesia ini juga diakui oleh Panasonic, kontribusi pasar di Indonesia cukup besar dalam hal pertumbuhan penjualan mereka secara global. Penjualan barang elektronik Panasonic di Indonesia, menjadi paling besar di antara perusahaan Panasonic lainnya di Asia Pasifik dalam 10 bulan terakhir.

"(Panasonic Indonesia) Paling besar omzetnya di Asia Pasifik," kata Presdir Presdir PT Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI) Ichiro Suganuma dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan pada April 2015 sampai Januari 2016 penjualan elektronik Panasonic, terutama untuk produk elektronik rumah tangga mengalami peningkatan dua digit. Khusus produk home appliances seperti AC, mesin cuci, kulkas, TV, (penjualan naik) hampir 30 persen naik. “Permintaan mesin cuci yang paling tidak begitu baik tahun lalu, persaingannnya juga ketat," kata Suganuma.

Indonesia tak hanya punya keunggulan dalam pasar yang besar, iklim investasi yang membaik menjadi nilai positif bagi investor di Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam hal peringkat kemudahan berbisnis, Bank Dunia mencatat peringkat “Doing Business 2016” Indonesia ada di posisi 109 atau ada kenaikan 11 tingkat dari 2015 yang hanya di peringkat 120.

Posisi Indonesia memang masih kalah dari negara-negara ASEAN seperti Malaysia (18), Thailand (49), Brunei Darussalam (84), Vietnam (90), dan Filipina (103). Di Asia Tenggara, Indonesia hanya unggul dari Kamboja (127), Laos (134), Myanmar (167), dan Timor Leste (173). Sedangkan Singapura berada di posisi teratas (1).

Pil Pahit Bernama PHK

buruh total PHK pekerja oleh Toshiba dan Panasonic hingga mencapai 2.500 orangTutupnya pabrik Toshiba dan Panasonic di Indonesia menambah daftar perusahaan yang melakukan PHK. Menurut versi buruh total PHK pekerja oleh Toshiba dan Panasonic hingga mencapai 2.500 orang. Namun pemerintah buru-buru mengklarifikasinya.

"Info yang saya terima, Panasonic ada 425 (karyawan yang terkena PHK) dan Toshiba 360. Tidak sebesar yang muncul di media," kata Kepala BKPM Franky Sibarani.

Tahun lalu isu PHK lebih dominan terjadi pada industri padat karya seperti sepatu dan tekstil. Pada tahun ini, PHK justru terjadi pada industri padat modal multinasional termasuk di industri elektronika. Data yang disampaikan serikat pekerja, bahwa PHK yang terjadi di tahun ini tak hanya menimpa perusahaan multinasional Jepang juga melanda investor dari Korsel.

Data yang dirilis KSPI terkait PHK antara lain terjadi di PT Starlink 452 orang dan PT Samoin (Korea) 1.166 orang di kawasan industri Jababeka, Cikarang. Selain itu, ada laporan PT Halliburton Indonesia yang bergerak di industri perminyakan telah mem-PHK sekitar 200 orang di Februari. PHK juga terjadi di PT Ford Indonesia. KSPI juga melaporkan ada PHK terhadap 800 pekerja PT Philips Indonesia yang berlokasi di Jalan Berbek Industri 1 KAV 5-19 Sidoarja pada September 2015.

Bagi sudut pandang buruh, kasus Toshiba dan Panasonic hanya dilihat satu sisi, yaitu hanya berkutat soal besaran upah. Mereka mencoba mengaitkan persoalan tutupnya pabrik Toshiba dan Panasonic karena daya beli yang lemah akibat upah murah. Yang menarik, penutupan pabrik Toshiba dan Panasonic lokasinya sama-sama di Cikarang, Kabupaten Bekasi dengan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) Rp 3.261.375, tapi persoalan UMK belum pernah disinggung oleh pihak Toshiba maupun Panasonic terkait alasan mereka tutup pabrik.

“Buruh meminta pemerintah mengambil langkah cepat menghentikan PHK ini dengan mendesak pengusaha tidak mem-PHK pekerjanya seperti dengan mengurangi jam kerja, shift,dan hari kerja atau merumahkan karyawan sampai situasi ekonomi membaik,” seru Presiden KSPI Said Iqbal

Bagi pemerintah, penutupan pabrik Toshiba dan Panasonic cenderung ditanggapi santai. Misalnya Wapres Jusuf Kalla (JK) yang menilai langkah penutupan pabrik sudah mengikuti aturan. Sementara Kepala BKPM menilai persoalan ini merupakan sebuah keputusan bisnis biasa karena faktor kebijakan induk usaha mereka.

"Tidak ada PHK massal. Tapi kalau misalnya perusahaan mengubah produknya dan mengakibatkan adanya pengurangan, itu biasa," kata Franky dikutip dari Antara.

“Gak perlu heboh atau diheboh-hebohkan. Pabrik tutup memang ada, tapi lebih banyak pabrik baru yang buka. Stay positive! “ seru Menaker Hanif Dhakiri dikutip dari akun Twitter-nya.

Penutupan pabrik memang hal yang biasa. Apalagi jika hal itu dikaitkan dengan proses restrukturisasi bisnis agar bisa bertahan hidup, seperti yang dilakukan Panasonic dan Toshiba. Namun, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap nasib para pekerja yang menjadi korban PHK. Pemerintah harus memastikan hak-hak pekerja tetap dipenuhi.

Lebih jauh lagi, pemerintah harus berusaha membuka lapangan kerja agar angka pengangguran terus berkurang. Menilik data BPS, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia masih mencapai 6,18 persen pada Agustus 2015. Angka itu meningkat dibandingkan angka pada Agustus 2014 yang hanya 5,94 persen. Pekerjaan rumah yang sangat besar untuk menekan angka pengangguran di tengah gelombang PHK di tanah air. Apalagi, mengurangi tingkat penangguran merupakan salah satu janji yang diumbar Presiden Joko Widodo – Wapres Jusuf Kalla saat akan menghadapi pemilihan presiden Juli 2014 lalu.

Baca juga artikel terkait ELEKTRONIK atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Suhendra
Penulis:

DarkLight