PHK di Bukalapak: Gelar Unicorn Tak Jamin Finansial Sehat

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 12 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
PHK di Bukalapak menunjukkan jika gelar unicorn di sebuah perusahaan startup tidak menjamin finansial mereka kuat.
tirto.id - Hari itu, Adi [bukan nama sebenarnya] sedang bekerja seperti biasa di kantornya ketika sebuah email masuk, yang isinya tentang Bukalapak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap dirinya. Di dalam email terdapat penjelasan lengkap apa saja yang harus dilakukan karyawan, seperti prosedur hingga apa saja yang harus dikembalikan kepada perusahaan.

Adi merasa kaget. Demikian pula rekan-rekannya, yang mendapatkan email yang sama. Meski jauh-jauh hari dia sudah menyadari situasi kantornya mulai melakukan efisiensi, akan tetapi pemberitahuan yang mendadak itu tetap saja mengagetkannya. Ia pun segera membereskan urusan administrasi PHK ke manajemen di hari yang sama. Sampai hari ini, Adi sedang dalam proses pindah ke perusahaan yang baru.

Adi memang menyadari bahwa hari itu akan tiba. Langkah-langkah perombakan, termasuk PHK katanya pun mulai terbaca oleh sejumlah karyawan. Apalagi atasannya sudah sempat memberitahu dan selentingan juga lebih dulu beredar di kalangan karyawan Bukalapa. Selama A berada di tim produknya yang kini sudah bertumbuh, arah Bukalapak memang sudah mengarah untuk pengejaran profit dan kian intens dalam beberapa waktu ke belakang.

“Kalau perusahaan mau profit ini perusahaan udah mulai ada perombakan di mana-mana. Kami kita enggak tahu hari itu bakal ada PHK tapi ini hal yang menurut kami predictable,” ucap Adi, yang sudah bekerja di Bukalapak selama 2 tahun itu, saat berbincang dengan Tirto pada Rabu (11/9/2019).

Sebelum bekerja di Bukalapak, Adi pernah bekerja di sebuah e-commerce. Adi mengaku, saat pertama kali mendaftar, Bukalapak memang menjanjikan beragam fasilitas seperti yang dipublikasikan seperti suasana kantor yang nyaman di samping kesempatan belajar dan pengalaman baru.

“Itu dijanjikan pada proses recruitment. Keadaannya seperti ini. Memang mendapatkan seperti ini. Perusahaan seharusnya juga sudah tahu risikonya,” ucap Adi.

Sementara Budi [bukan nama sebenarnya], eks karyawan Bukalapak yang lebih dulu mengundurkan diri 3 bulan lalu, menyatakan hal yang sama. Ia mengaku Bukalapak memang memberikan tempat bekerja yang baik. Mulai dari lingkungan hingga budaya perusahaan ia nilai cukup mendukung karyawannya berkembang, ia pun mengaku, “Bikin karyawan betah di kantor".

Ia menduga kalau perubahan ini bisa jadi disebabkan karena adanya kesalahan strategi dalam mengurus manajemen dan keuangan perusahaan.

“Publikasi di media tentang kantor yang cozy memang benar adanya. Cuma dengan segala perubahan ini sih saya cukup sedih dengernya. Mungkin Bukalapak salah strategi atau ada kondisi lain yang mengharuskan Bukalapak melakukan perubahan besar-besaran,” ucapnya.

Sepengetahuan Budi, kondisi finansial Bukalapak cukup baik. Bukalapak, kata Budi, bahkan berani “royal” pada karyawannya. Berbagai kebutuhan karyawan dipenuhi seperti kantor yang nyaman atau cozy, fasilitas makan siang-malam, bonus tahunan, team activity setiap bulan, hingga outing ke luar kota/negeri tiap tahun.

Namun, di akhir masa kerjanya pada tahun 2019, ia mendapati ada sejumlah perubahan kebijakan. Misalnya katering makan malam ditiadakan. Lalu ada belasan rekannya yang mulai terkena PHK.

“Masalah PHK sebenarnya udah ada dari sebelum isu di media bulan ini, cuma memang jumlahnya enggak banyak. Ada pengurangan fasilitas tapi dari manajemen tidak ada keterangan resmi kalau itu terkait masalah finansial,” ucapnya.



Menjadi Startup yang Untung

Di tengah menggeliatnya ekonomi digital di Indonesia, Bukalapak muncul dengan kabar kurang menggembirakan. Kepala Staf Strategi PT Bukalapak.com Teddy Oetomo mengakui perusahaan saat ini tengah memangkas jumlah karyawan. Langkah itu diambil guna menjaga keberlangsungan bisnis perusahaan di tengah persaingan e-commerce yang kian ketat.

Menurut Teddy, sudah rahasia umum jika perusahaan startup awalnya berada dalam kondisi rugi. Bukalapak, lanjutnya, terus berupaya untuk segera menutup celah rugi itu, dan menjadi startup yang pertama meraih untung.

“Kami ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang bisa meraih keuntungan. Kami juga menargetkan bisa breakeven atau bahkan keuntungan dalam waktu dekat,” ucap Teddy dalam keterangan tertulis.

Meski begitu, keputusan Bukalapak ini tetaplah mengagetkan. Hal itu dikarenakan Bukalapak selama ini terbilang agresif dalam menambah karyawan. Data dari iPrice, jumlah karyawan Bukalapak per kuartal II/2019 mencapai 2.696 orang naik hampir dua kali lipat dari kuartal II/2018 sebanyak 1.500 orang.

Bukalapak juga menjadi perusahaan e-commerce dengan jumlah karyawan terbanyak ke-4 di Indonesia, setelah Tokopedia sebanyak 3.144 karyawan, Shopee sebanyak 3.107 karyawan dan Mapemall sebanyak 2.933 karyawan.



Unicorn Berguguran?

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kasus PHK di Bukalapak kemungkinan besar terjadi lantaran ada kekeliruan dalam tata kelola. Umumnya, startup kerap terlalu euforia ketika berekspansi, apalagi jika telah dikucuri dana besar.

Sejumlah fasilitas dan tawaran gaji pun dibuat menarik oleh perusahaan demi mendapatkan orang-orang yang kompeten. Hal itu bertujuan untuk memenangkan kompetisi, dalam hal ini di industri e-commerce.

Namun, di tengah ketatnya persaingan di bisnis e-commerce, Bukalapak mungkin melakukan kesalahan perhitungan, sehingga menyebabkan perusahaan perlu melakukan efisiensi. Salah satu caranya yang ditempuh dengan PHK.

“Itu menjadi salah satu masalah juga. Ada yang enggak pas dalam mengelola keuangan sampai dengan manajemen SDM. Ini seperti simalakama,” ucap Heru saat dihubungi reporter Tirto, Rabu (11/9/2019).


Kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan startup sekelas unicorn ini sebenarnya bukan hal yang baru. Lihat saja nasib Tink Labs. Unicorn asal Hong Kong ini mengumumkan untuk menutup operasinya pada 31 Juli 2019.

Sebelum menutup operasinya, perusahaan yang memiliki valuasi senilai US$1,5 miliar ini sudah terlebih dahulu memberhentikan karyawannya secara diam-diam, sebagaimana dilansir dari Financial Times.

Unicorn lainnya adalah Honestbee. Perusahaan asal Singapura yang bergerak di pengiriman barang ini juga memangkas ratusan karyawan, dan bahkan menutup operasi secara sementara di sejumlah negara, seperti Hong Kong dan Indonesia, dilansir dari Techrunch.

Bagi Heru, gelar unicorn memang tidak menjamin keberlangsungan usaha. Unicorn, katanya, justru rentan dengan persoalan, terutama jumlah pengguna. Bahkan, perusahaan kakap seperti Google dan Facebook pun mencantumkan jumlah pengguna sebagai risiko.

Selain itu, perusahaan digital juga masih bergantung pada masuknya pendanaan. Saat mereka memiliki pengeluaran tetap berupa operasional dan promosi tiap bulannya, pendanaan dari dalam atau luar terkadang tidak semulus yang dikira.

Terakhir, perusahaan digital juga lebih mudah jatuh ketimbang perusahaan konvensional. Sebab, perusahaan digital umumnya tak memiliki asset yang bisa dijual sewaktu-waktu guna mengimbangi kondisi keuangan perusahaan.

“Perusahaan sekelas startup sampai decacorn itu tetap rentan. Orang enggak paham mereka dan menganggap seolah-olah mereka perusahaan raksasa dan kuat (secara finansial),” tutup Heru.


Baca juga artikel terkait BUKALAPAK atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Ringkang Gumiwang
DarkLight