Advertorial

PHEV, Ketangguhan Mobil Listrik Hibrida

ilustrasi mobil listrik. FOTO/iStockphoto
Oleh: Advertorial - 20 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Investasi di bidang energi terbarukan penting demi masa depan yang ramah lingkungan
tirto.id - Pada 2016, Masdar, perusahaan Uni Emirat Arab yang bergerak di bidang energi terbarukan, mengadakan survei bertajuk The Masdar Gen Z Global Sustainability. Mereka bertanya kepada 4.704 responden usia 18-25 tahun dari 20 negara, tentang apa kira-kira tantangan yang akan mereka hadapi hari ini dan 10 tahun mendatang.

Untuk tantangan hari ini, kemiskinan dan ketimpangan ada di peringkat pertama, diikuti oleh ancaman terorisme. Di peringkat tiga adalah isu lingkungan/perubahan iklim. Namun untuk tantangan 10 tahun ke depan, isu lingkungan dan perubahan iklim ternyata menempati peringkat satu. Ini artinya para responden sadar bahwa isu lingkungan akan menjadi amat penting di masa depan.

“Temuan dari riset ini amat jelas: anak-anak muda menuntut adanya masa depan berkelanjutan, dan mereka juga percaya bahwa investasi di bidang energi terbarukan, baik dari sektor swasta maupun publik, adalah hal penting guna mencapai masa depan terbarukan itu,” ujar Mohammed Al Ramahi, chief executive Masdar.

Jalan menuju industri ramah lingkungan sudah dirintis sejak beberapa tahun terakhir. Efisiensi energi, pengurangan polusi, dan produk ramah lingkungan menjadi prioritas utama perusahaan skala global.

Perubahan paradigma ke arah industri yang ramah lingkungan ini tidak saja datang dari pihak produsen, namun juga dari kesadaran konsumen. Data yang dirilis Global Web Index (2018) menunjukkan bahwa 61 persen generasi milenial global rela membayar lebih demi produk-produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Lantas, apa saja langkah konkrit yang dijalankan untuk mengakomodasi tren produk ramah lingkungan ini?

Di ranah fashion, banyak jenama mengkampanyekan bahan-bahan ramah lingkungan. Salah satunya, Stella McCartney. Perusahaan milik putri Paul McCartney itu memakai bahan rayon yang diproduksi dari serat kayu yang ditanam di lahan mereka sendiri. Dengan itu, mereka tak membabat hutan untuk memproduksi bahan pakaian.

Sedangkan di sektor otomotif, produsen mobil berlomba-lomba menciptakan mobil listrik yang tentu saja lebih ramah lingkungan. Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) juga beberapa kali membawa produk mobil listrik yang demikian. Salah satu produk mobil listrik yang akan menjadi tren baru ini adalah varian Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Seperti namanya, produk ini adalah hibrida, alias mobil persilangan. Berbeda dengan mobil listrik penuh (full electric vehicle) yang hanya mengandalkan baterai sebagai sumber energi mesin, PHEV mengandalkan beberapa sumber energi: baterai yang dapat diisi ulang, separuh baterai dan mesin, dan mesin yang memakai bensin.

Salah satu perusahaan mobil yang memproduksi PHEV adalah Mitsubishi Motors, yang membuat New Outlander PHEV.



Sebagaimana lazimnya kendaraan plug-in hybrid, New Outlander PHEV digerakkan oleh dua sumber tenaga: motor listrik bertenaga baterai, dan mesin konvensional. Sumber tenaga baterai memungkinkan New Outlander PHEV dikendarai dengan mode all-electric-driving yang bisa menempuh jarak hingga 55 kilometer.

Untuk jarak yang lebih jauh lagi, mobil bisa dikonversi menjadi mode hybrid yang mengonsumsi sangat sedikit bahan bakar, dan menghasilkan emisi yang sangat rendah. Dengan mode hybrid, jarak tempuh kendaraan ini dapat mencapai 600 kilometer. Emisi rendah ini tentu saja menjawab masalah lingkungan yang menjadi isu global yakni polusi dan efisiensi energi.

“Mitsubishi Motors mendukung percepatan pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dengan beralih ke kendaraan yang menggunakan daya listrik. Dan untuk itu kami ingin mulai memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia kendaraan yang tidak hanya dapat menunjang mobilitas namun juga dilengkapi dengan teknologi terdepan yang lebih ramah lingkungan melalui Mitsubishi OUTLANDER PHEV,” ujar Naoya Nakamura, Presiden Direktur PT MMKSI dalam laporan Tirto.id pada acara Indonesia Electric Motors Show 2019 awal September lalu.

Jika dibandingkan dengan mobil listrik lain, PHEV memiliki keunggulan dalam hal durasi waktu pengisian daya baterai. Dengan teknologi plug-in hybrid, pengisian daya baterai pada PHEV lebih cepat dilakukan ketimbang kendaraan full EV. Dengan fitur quick charging, hanya butuh 25 menit bagi New Outlander PHEV untuk mencapai 80 persen daya baterai.

Keunggulan lain yang dimiliki PHEV adalah: sebagai kendaraan hibrida, bensin masih bisa menjadi sumber listrik. Dan karena itu pula, New Outlander PHEV ini bisa menjadi pengganti genset ketika terjadi mati listrik. Daya listrik dari mobil ini bisa menyuplai listrik 1.500 watt. Fasilitas ini memungkinkan pemiliknya dapat tetap produktif menjalankan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan listrik, bahkan ketika terjadi pemadaman listrik sekalipun.

Dari segi bentuk, sebagai Sport Utility Vehicle dan berpenggerak 4x4, New Outlander PHEV tentu lebih tangguh dari mobil-mobil sejenis yang lebih populer dengan sedan dalam hal melewati berbagai medan.

Dengan keunggulan-keunggulan ini, mulai dari mode berkendara, efisiensi bahan bakar, dukungan infrastruktur saat ini, hingga medan jelajah, Mitsubishi New Outlander PHEV tentu saja menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang punya kesadaran berkendara ramah lingkungan.

Menurut Asisten Manager Product Strategy Hanif Rizky, teknologi plug-in hybrid New Outlander PHEV merupakan cara Mitsubishi berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia.

“Kita ingin menjadi role model bagi masyarakat Indonesia. Gaya hidup ke depannya akan seperti ini, peduli lingkungan,” ujar Hanif.
DarkLight