Petualangan Politik Tjugito Berawal dan Berakhir di Bawah Tanah

Oleh: Petrik Matanasi - 2 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Tjugito memulai perjalanan politiknya dari kelompok Amir Syarifuddin. Petualangannya berakhir di Blitar Selatan.
tirto.id - Ketika tentara Jepang membongkar jaringan gerakan bawah tanah Amir Syarifuddin, dua pemuda bernama Sudisman dan Tjugito ikut kena garuk. Mereka bukan orang baru dalam gerakan politik. Di zaman Hindia Belanda, keduanya bisa lolos dari kejaran aparat kolonial. Di zaman itu, Tjugito ikut dalam Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo) yang di dalamnya terdapat orang macam Amir dan A.K. Gani.

Tjugito berasal dari daerah yang sama dengan Mas Marco Kartodikromo, Blora. Tjugito bin Darko yang keras hati itu lahir pada 21 Januari 1921. Dia pernah belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan sekolah dagang. Antara 1939-1940, seperti disebut dalam Kami Perkenalkan (1954, hlm. 133), Tjugito bekerja di Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij).

Selepas itu, dia pernah juga menjadi guru dan memimpin surat kabar Tamparan. Di Tamparan, Tjugito bertemu dan kemudian menjalin perkawanan dengan Sudisman.

Sebagai bagian dari jaringan antifasis, masuk penjara adalah konsekuensi yang lumrah di masa Pendudukan Jepang. Tjugito bersama Sudisman ditahan di Surabaya. Setelah bebas dari tahanan Jepang, Tjugito dan kawan-kawannya bergerak lagi.

Bersama Sudisman, Tjugito pun segera terserap dalam lingkaran perlawanan terhadap Sekutu dan NICA. Seperti dicatat Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda (2018, hlm. 176), Tjugito bergabung bersama massa dalam gejolak di Surabaya jelang meletusnya Pertempuran 10 November 1945.


Tjugito kemudian menjadi salah satu pimpinan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Organisasi kepemudaan itu begitu kuat selama Amir Syarifuddin menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Tjugito pernah diberi posisi penting di Kementerian Pertahanan.

Arsip Kementerian Pertahanan RI nomor 374: Surat Keterangan Kementerian Pertahanan Bagian V No.B 1449/A VI tanggal 1 Agustus 1947 mencantumkan nama “Tjoegito” sebagai penasihat istimewa dalam Bagian V—badan intelijen di bawah arahan langsung Amir. Bagian V sendiri dipimpin oleh Abdulrahman Atmosudirdjo, mantan letnan cadangan Angkatan Laut Belanda.

Saya jadi wakil Abdoelrahman. Di situ ikut orang-orang PKI, seperti Fatkur, Tjoegito,” aku Zulkifli Lubis dalam wawancaranya dengan majalah Tempo (29/7/1989).

Menurut Lubis, orang-orang sayap kiri begitu kuat dalam badan intel itu. Tapi, Bagian V tak berumur panjang karena pemerintahan Amir dan kuasanya atas Kementerian Pertahanan rontok pada awal 1948. Tjugito pun ikut menyingkir bersama kelompok Amir.

Tanggal 25 Februari 1948 Amir Sjarifudin, Setiajid, Maruto Darusman, Soemarsono, Tjugito dan Krissubanu mengadakan rapat umum di hadapan massa,” tulis Himawan Sutanto dalam Madiun: Dari Republik ke Republik (2006, hlm. 36).

Selain bekerja di bawah Amir, Tjugito juga pernah menjadi bagian dari Partai Buruh Indonesia (PBI) semasa Revolusi. Dia tercatat menjadi wakil PBI dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Setelah PKI dihabisi pasca-Peristiwa Madiun 1948, Tjugito dan beberapa orang PKI lain seperti Njoto tak bisa lagi melaksanakan tugasnya sebagai anggota KNIP.

Bernaung di PKI

Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia pada akhir 1949, Tjugito bergabung ke PKI. Dia kemudian menjadi salah satu wakil PKI di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Di PKI, Tjugito termasuk anggota Central Comite (pengurus pusat) PKI. Tempo (01/12/1990) menyebut sebelum 1965, Tjugito sering ke luar negeri sebagai aktivis organisasi pertanian, perkebunan, dan kehutanan tingkat dunia. Dia memang diplot untuk menggarap massa petani oleh PKI.

Para petani adalah barisan massa potensial bagi PKI selain buruh. Apalagi Indonesia adalah negeri agraris yang dipenuhi petani miskin. Maka PKI jelas tidak bisa mengurusnya secara sambil lalu. Menggalang massa petani Indonesia, itulah tugas utama Tjugito.

Setelah meletusnya G30S 1965, Tjugito bergerak lagi di bawah tanah seperti yang pernah dilakukannya di masa Pendudukan Jepang. Semula, dia tinggal di Salemba Bluntas 13/114 dan melarikan diri ke daerah Blitar Selatan. Dia dan beberapa petinggi PKI yang tersisa lalu menggalang gerakan perlawanan di sana.

Di Blitar Selatan, Tjugito bergerak bersama seorang pelarian Angkatan Darat Letnan Kolonel Pratomo. Letkol Pratomo pernah menjadi komandan Komando Distrik Militer (KODIM) Pandeglang dan pernah menjadi anggota Dewan Revolusi di Pandeglang. Bersama Pratomo, Tjugito lalu menyusun diktat gerilya yang kemudian dijuduli Memimpin Perang Rakyat.

Blitar Selatan adalah kawasan yang nisbi terisolasi pada 1960-an. Daerah miskin dan terpencil ini kemudian jadi basis perlawanan sisa-sisa PKI. Orde Baru lantas melancarkan operasi militer untuk membekuk sisa-sisa PKI di sana.

Infografik Mild Tjugito
Infografik Mild Tjugito. (tirto.id/Fuad)


Akhir Petualangan Tjugito

Di Blitar Selatan terdapat jaringan sungai bawah tanah dengan gua-gua yang bisa dijadikan tempat persembunyian. PKI Tjugito memanfaatkan fitur alam itu untuk bergerilya. Seperti dicatat Sejarah Nasional Indonesia JIlid 6 (1984, hlm. 402), PKI mengadakan Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) dan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR) sebagai langkah “menuju comeback PKI”. PKI bahkan punya rencana untuk mengadakan Komite Rakyat (Kompro) di beberapa daerah dan melancarkan strategi Desa Mengepung Kota.

Namun, semua rencana itu tidak ada yang berhasil. Tjugito kemudian terjaring dalam Operasi Trisula. Seturut hasil pemeriksaan militer Orde Baru, seperti dicatat dalam Operasi Trisula Kodam VIII Brawidjaja (1969, hlm. 289), Tjugito disebut punya beberapa nama alias selama bergerilya. Di antaranya, dia pernah memakai nama Badrun alias Sawi alias Ruri.

Setelah ditangkap, dia dipenjara cukup lama. Setidaknya, dia baru dibebaskan pada 1990. Kala itu, Orde Baru tengah mendapat tekanan internasional terkait masalah kemanusiaan. Saat bebas, Tjugito berusia 69 tahun dan tidak banyak orang yang mengenalinya lagi.

Meski pernah ikut melawan kolonialisme Hindia Belanda dan pernah memperjuangkan nasib buruh dan petani Indonesia, Tjugito yang komunis itu tidaklah mungkin menjadi pahlawan di Indonesia. Di sini, perjuangan seorang bekas kolaborator Jepang dan pegawai Belanda lebih dihargai daripada perjuangan seorang komunis.

Baca juga artikel terkait PKI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight