Lauren van der Post

Perwira Inggris yang Menyaksikan Kekuatan Rakyat Indonesia di Ikada

Sir Laurence van der Post. Own work/commons.wikimedia.org/
Oleh: Petrik Matanasi - 19 November 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kisah perwira Inggris keturunan Belanda yang menjadi pembisik komandan AFNEI dan Panglima Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara.
tirto.id - Laurens van der Post (selanjutnya ditulis Laurens) lahir di Afrika Selatan pada 13 Desember 1906. Lelaki berdarah Belanda ini bergabung sebagai perwira tentara Inggris sejak 1940 dan sempat ditugaskan di Afrika bagian utara. Menurut catatan Frederic Carpenter dalam Lauren Van der Post (1969:13), ia juga pernah ditugaskan ke Sumatra dan Jawa yang saat itu akan diduduki Jepang, dalam sebuah pasukan komando untuk membantu militer Belanda.

Sejak Januari 1942, Laurens ditugaskan sebagai salah satu staf dari Jenderal Archibald Percival Wavell (1883-1950), Panglima American-British-Dutch-Australian-Command (ABDACOM) di Bandung. Sebelum Jepang menduduki Jawa, Wavell sudah angkat kaki. Namun tak seperti bosnya, Laurens tetap tinggal di Jawa dan ikut berperang di sekitar Banten. Tak lama kemudian ia tertangkap dan dijebloskan ke kamp interniran Jepang di Cimahi.

Seperti tawanan lain, dari tahun ke tahun kondisi tubuhnya semakin lusuh dan kurus. Ia baru bebas pada 14 Agustus 1945. Pengalamannya selama dalam tawanan Jepang ia tulis dalam buku The Seed and The Sower (1963) dan The Night of The New Moon (1970). Kisah ini selanjutnya diangkat menjadi film berjudul Merry Christmas Mr Lawrence yang dibintangi oleh David Bowie.

Sambil menunggu kedatangan tentara Inggris, Laurens menjadi saksi perubahan di Indonesia. Belum sebulan bebas, ia terlibat dalam sejumlah peristiwa penting.

“Dalam seragam lusuh dan keadaan tubuh kurus, ia bebas bergerak selaku perwira penghubung antara sekutu yang bakal tiba dengan pimpinan tentara Jepang di Jawa,” tulis Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya (2011:48).


Pada 19 September 1945, Laurens yang juga bisa berbahasa Belanda dan Jepang hadir dalam rapat raksasa di Lapangan Ikada.

“Dia secara diam-diam ada di tengah massa rakyat memantau situasi di Lapangan Ikada," tulis Rosihan Anwar.

Ia melihat bahwa Republik Indonesia yang baru lahir pada 17 Agustus 1945, bukan negara boneka Jepang. Hal tersebut ia laporkan kepada Laksamana Wilfred Patterson ketika pasukan Inggris mulai mendarat di Tanjung Priok pada 29 September 1945.

“Laporan intelijen saya bahkan mencengangkan Laksamana, tetapi perwira Belanda beserta rombongan perwakilan urusan sipil atau tingkat tinggi dan dinas lainnya dilingkupi rasa tidak percaya,” ucap Laurens dalam The Admiral’s Baby (1996:38).

Kekecewaan Belanda & Kepercayaan Indonesia

Ketika memberikan laporan kepada Patterson, hadir pula seorang Belanda brewok bernama Charles van der Plas. Selama Perang Dunia II, orang Belanda itu berada di Australia. Lelaki brewok pendiri Nederlandsch Indie Civiel Administratie (NICA) itu harus kecewa dengan laporan Laurens, sebab ia merasa terancam akan masa depan Belanda di Indonesia.

Sekali waktu, Charles van der Plas menghubungi Laurens untuk menyampaikan ide. Ia merancang sebuah skenario di mana Patterson akan mengundang Sukarno-Hatta untuk sebuah jamuan makan di atas kapal Cumberland. Di atas kapal tersebut, dua petinggi Republik itu akan ditangkap sebagai momen berkuasanya kembali Belanda di Indonesia. Namun, Laurens tak menyepakati gagasan itu dan malaporkannya kepada Patterson yang juga tak menyetujuinya.

Ketika hubungan tentara Inggris dan Indonesia memburuk pada peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Laurens mengusulkan kepada Laksamana Patterson untuk bicara dengan pejabat Indonesia. Ia pun kemudian yang bertugas untuk bicara kepada para pejabat Indonesia atas nama Patterson dan Laksamana Louis Muontbatten selaku Panglima Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara.




"Kami tidak punya agenda rahasia. Kami hanya ingin membawa perubahan, membawa perdamaian, dan kami berharap dunia baru tanpa perang dan kekerasan," ucapnya.

Suatu hari sebelum Mountbatten tiba di Jakarta, Laurens dipanggil Brigadir Jenderal Lauder, perwira Inggris yang berseberangan dengannya tentang kebijakan terhadap Indonesia.

“Saya tidak ingin melihat Anda besok di markas besar. Untuk kali ini Anda harus berada jauh-jauh. Kami tidak ingin Anda menambah kepada kekacauan kunjungan Panglima Tertinggi,” kata Lauder.

Pada hari kedatangannya, Mountbatten justru berkeras ingin bertemu dengan Laurens. Namun karena tak berada di markas besar, maka rumah dinas Laurens didatangi tiga jip yang di antaranya terdapat Mountbatten.

Laurens dimarahi karena tak berada di markas besar saat Panglima Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara itu datang. Mereka akhirnya pergi ke rumah Sjahrir. Pertemuan itu menurut Laurens menciptakan kepercayaan orang Indonesia kepada Inggris.

Pada akhir tahun 1946, tentara Inggris ditarik dari Indonesia. Belanda pun tak dapat dukungan lagi dari para perwira Inggris yang simpati kepada keinginannya untuk kembali berkuasa di Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PERANG KEMERDEKAAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight