Advertorial

Perusahaan yang Masyhur Berkat Produk Berbeda

Ilustrasi kesepakatan perusahaan. FOTO/iStockphoto
Oleh: Advertorial - 17 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Apakah satu merek yang sama, dengan produk yang berbeda-beda, dikelola oleh perusahaan yang itu-itu juga?
tirto.id - Jepang, 1887. Torakusu Yamaha, seorang anak astronomer yang merintis karier sebagai pembuat jam, merasa butuh tantangan dalam hidupnya. Ia pun pindah ke Hamamatsu untuk memulai usaha reparasi alat-alat kesehatan.

Sebagai orang yang dianggap ahli memperbaiki apa pun dan kebetulan tinggal di kota kecil yang tak punya ahli reparasi, tak heran kalau suatu hari seorang kepala sekolah SD meminta Yamaha memperbaiki organ. Dari sana, jalan terang Yamaha ke dunia musik mulai terbuka. Dari upaya perbaikan itu, Yamaha mengetahui jeroan organ.

“Aku sih pede bisa membuat reed organ seperti ini hanya dengan ongkos 3 yen,” ujarnya.

Saat itu organ adalah barang mewah karena harus diimpor dari Amerika Serikat. Harganya nyaris tak terjangkau, 45 yen. Padahal harga 20 kilogram beras saat itu hanya 1 yen.

Akhirnya, bersama seorang kawan bernama Kisaburo Kawai, Yamaha mencoba bereksperimen membuat organ. Setelah dua bulan, organ jadi dan mereka membawanya ke seorang guru musik untuk diuji. Hasilnya: organ itu dianggap buruk. Tak patah arang, Yamaha membawanya ke tempat lain, termasuk ke institusi yang sekarang dikenal sebagai Jurusan Musik, Tokyo University of Arts. Hasilnya sama: organ buatan Yamaha itu jelek.

“Organ ini memang sekilas tampak bagus,” ujar Shuji Izawa, kepala Jurusan Musik. “Tapi ini tidak layak dimainkan karena kuncinya tidak akurat. Menurutku, kamu perlu belajar teori musik di tempat ini.”

Yamaha memutuskan belajar teori musik selama tiga bulan. Dari sana, selagi menumpang di rumah Kawai, ia terus berjuang membuat organ yang layak dimainkan. Dari pagi hingga dini hari, tukang reparasi ini berupaya membuat mahakaryanya sendiri. Setelah usai, Yamaha membawa kembali organ buatannya ke Izawa.

“Nah. Masalah yang dulu sudah tidak ada. Organ ini bagus dan layak menggantikan organ impor,” tutur Izawa.

Berkat kesuksesan itu, Yamaha lantas membuka perusahaan alat musik, Nippon Gakki Co.,Ltd. pada 1888. Dari awalnya hanya membuat organ, mereka kemudian turut memproduksi piano, harmonika, xylophones, dan tentu saja gitar. Perusahaan ini kemudian berkembang besar melebihi imajinasi Yamaha.

Setelah membantu memproduksi baling-baling pesawat untuk Jepang pada Perang Dunia II, Yamaha merambah ke bisnis sepeda motor. Produksi motor pertama Yamaha adalah Yamaha YA-1 yang dirilis pada Agustus 1955. Pada akhirnya, divisi sepeda motor menjadi perusahaan independen sendiri, Yamaha Motor Co.,Ltd.

Hingga sekarang, Yamaha Motor berkembang amat pesat, memproduksi tidak hanya sepeda motor, tapi juga kapal, mesin kapal, snowmobile, generator, hingga helikopter industri tanpa awak.

Satu Nama, Berbagai Wajah

Yamaha bukan satu-satunya perusahaan yang dikenal punya produk yang amat berbeda. Avon, yang sekarang dikenal sebagai jenama kosmetik, berawal dari David H. McConnell yang menjual buku dari pintu ke pintu. Tiffany & Co, perusahaan perhiasan asal New York, berakar dari perusahaan bernama Tiffany, Young, and Ellis yang awalnya menjual peralatan kantor. Begitu pula Nintendo, sang raksasa di industri game, yang dirintis dari berbagai produk: kartu permainan, taksi, hotel, hingga perusahaan makanan, sebelum akhirnya fokus ke perusahaan video games sejak 1970-an.

Di Indonesia, salah satu contoh perusahaan macam ini adalah Adira.



Adira bermula dari Adira Finance yang didirikan pada 1990. Sebagai awalan, Adira Finance bergerak di bidang pembiayaan kendaraan bermotor. Perusahaan ini pelan tapi pasti terus bertambah besar, hingga menarik perhatian Bank Danamon, yang sekarang menjadi pemegang saham mayoritas Adira Finance.

Yang mungkin tak banyak diketahui orang: Adira lantas bergerak di bidang asuransi dengan nama perusahaan PT. Asuransi Adira Dinamika, yang lebih masyhur dengan nama Adira Insurance. Perusahaan asuransi umum yang didirikan sejak tahun 2002 ini telah memiliki aset sebesar Rp 6,3 T dengan modal sendiri Rp 2,1 T serta pencapaian Gross Written Premi sebesar Rp 2,7 T hingga akhir tahun 2018.

Sebagai perusahaan asuransi umum, Adira Insurance bergerak di area yang luas. Namun memang tidak bisa dipungkiri Adira Insurance mengandalkan produk asuransi bermotor, Autocillin (asuransi mobil) dan Motopro (asuransi motor). Hingga semester 1 2019, premi asuransi kendaraan bermotor mereka mencapai Rp834 miliar yang menyumbang sebesar 66% dari total pencapaian Adira Insurance. Angka itu naik sekira 7 persen dari periode sama di tahun sebelumnya. Angka itu dipastikan akan terus naik, mengingat pelaporan klaim sekarang makin mudah dengan adanya aplikasi Autocillin Mobil Clain (AMC).

Baik Adira Finance maupun Adira Insurance adalah bukti betapa hebatnya diferensiasi produk mereka. Keduanya berbeda perusahaan, berdiri sendiri, dan bergerak di area yang sama sekali berbeda. Namun, sebagai dua perusahaan yang berbeda entitas, satu sama lain saling membutuhkan. Untuk membeli motor atau mobil, konsumen jelas membutuhkan asuransi kendaraan. Maka wajar saja kalau pelanggan Adira Finance membutuhkan peran Adira Insurance untuk melindungi kendaraannya dari berbagai risiko yang ada.

Dengan jumlah outlet lebih dari 30 outlet di seluruh Indonesia, Adira Insurance memiliki diferensiasi produk yang lebih luas lagi. Berbagai produk melindungi aset yang dimiliki masyarakat Indonesia mulai dari asuransi kecelakaan diri, elektronik, furniture, perjalanan, bahkan asuransi untuk demam berdarah dan tipus. Terbukti, hingga saat ini, Adira Insurance telah mengelola lebih dari 8 juta pertanggungan, baik produk berbasis konvensional maupun syariah.

Untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi, Adira Insurance terus meningkatkan produk dan layanan berbasis tekonolgi dengan memberikan experience terbaik bagi pelanggan. Serta bekerjasama dengan berbagai marketplace dan e-commerce di seluruh Indonesia.

Adira Insurance dan Adira Finance memiliki fokus yang sama yaitu mendukung perkembangan bisnis otomotif di Indonesia yang semakin menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia, baik secara leasing maupun asuransinya.
DarkLight