Perubahan Perilaku Konsumsi Televisi di Era Tayangan Streaming

Kontributor: Nayu Novita, tirto.id - 29 Nov 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Tayangan streaming bisa dinikmati kapan saja sesuai kehendak dan ketersediaan waktu.
tirto.id - Gaya menonton, aktivitas, dan alasan menonton telah berubah dengan jelas selama beberapa tahun terakhir.

Dengan status penyedia layanan media over the top (OTT)—yaitu penyedia layanan data internet yang memanfaatkan jaringan operator telekomunikasi; penyajian konten-konten video yang dilakukan secara streaming oleh Netflix, Viu, Amazon Prime Video, dan Disney+Hotstar menambah panjang deretan jenis tayangan yang bisa disaksikan oleh konsumen televisi.

Dimulai dengan kenaikan signifikan jumlah pelanggan televisi berbayar akibat dipicu kebijakan lockdown selama pandemi Covid-19, peningkatan jumlah pelanggan televisi streaming terus melaju hingga kini.


Menurut data yang dihimpun lembaga riset Nielsen, jumlah penonton tayangan streaming di Amerika pada Juli 2022 lalu, untuk pertama kalinya berhasil melampaui jumlah penonton tayangan televisi kabel dan televisi konvensional.

Di Indonesia, hasil survei We Are Social menyebutkan bahwa layanan streaming film dan televisi merupakan konten berbayar favorit yang paling banyak dipilih oleh pengguna internet saat ini.

Sebanyak 31,3% pengguna internet berusia 16-64 tahun mengaku membayar untuk memanfaatkan jenis layanan ini.

Kelengkapan episode tayangan serial, koleksi film-film box office, dan aneka judul film dokumenter yang mengangkat berbagai tema menarik adalah beberapa tipe tayangan yang banyak dicari oleh konsumen televisi streaming karena relatif sulit ditemukan dalam tayangan televisi konvensional.

Di Disney+Hotstar misalnya, konsumen mengejar tayangan film dan serial superhero besutan Marvel Cinematic Universe serta film-film koleksi waralaba Star Wars. Netflix memiliki keunggulan berupa tayangan film yang diproduksi sendiri dan aneka film dokumenter seperti Seaspiracy—yang mengungkapkan dampak lingkungan akibat penangkapan ikan secara besar-besaran; dan Tinder Swindler—yang mengangkat kisah nyata aksi penipuan melalui jaringan Tinder.

Ada pula layanan streaming Viu yang banyak disukai kalangan perempuan karena menyuguhkan konten film dan serial drama Korea. Mirip dengan Netflix, Amazon Prime Video juga memiliki banyak konten film yang diproduksi sendiri. Selain itu, penyedia layanan streaming yang dimiliki orang terkaya nomor 4 dunia—Jeff Bezzos, ini juga memiliki koleksi film berbahasa asing selain bahasa Inggris yang cukup banyak.


Bukan tanpa alasan popularitas tayangan video dan televisi streaming terus mengalami peningkatan. Seperti dilansir Nielsen, angka pengguna layanan televisi streaming diperkirakan akan semakin menanjak karena fleksibilitas dan keleluasaan yang diberikan terkait waktu menonton, tipe peranti yang digunakan, serta jenis tayangan yang ingin disaksikan.

Beda dengan tayangan televisi konvensional yang hanya bisa diakses sesuai jadwal acara yang sudah ditetapkan, tayangan streaming bisa dinikmati kapan saja sesuai kehendak dan ketersedian waktu. Tak perlu lagi memasang alarm agar tidak ketinggalan penayangan episode baru dari serial film yang sedang diikuti.

Peranti yang digunakan untuk menonton tayangan juga tidak terbatas di pesawat televisi, melainkan bisa dengan perangkat elektronik lain seperti komputer, ponsel pintar ataupun tablet. Makan siang di kantor sambil menyaksikan tayangan komedi situasi favorit dari gawai pribadi juga kini menjadi suatu hal yang lumrah ditemukan dalam keseharian.

Selain fleksibel dalam pemilihan waktu menonton, durasi menikmati tayangan yang bisa diatur sekehendak hati juga membawa perubahan dalam perilaku menonton televisi. Banyaknya judul film yang bisa diakses membuat kita akrab dengan istilah maratonton alias binge watching, yaitu perilaku menonton beberapa judul film sekaligus secara berturut-turut dalam jangka waktu lama.

Karena kendali ada di tangan penonton, sebagian orang juga melakukan penyortiran tayangan film yang hendak disaksikan dengan cara mengintip beberapa menit adegan menjelang akhir film. Kalau alur ceritanya tidak sesuai harapan, mereka akan berganti ke judul film lainnya dan melakukan proses penyortiran itu kembali.

“Yang namanya hidup itu tidak bisa selalu happy terus-terusan, karena kita tidak pernah tahu perjalanan hidup ini akan mengarah ke mana. Makanya, untuk hal-hal yang bisa dikontrol seperti tayangan film, saya memilih melihat ending-nya dulu sebelum mulai nonton. Buat apa capek-capek buang waktu kalau ujung-ujungnya malah bikin bete,” kata Amy—seorang pengguna layanan televisi streaming, seperti dilansir The Conversation.

Refleksi Tayangan Konten di Dunia Nyata

Firman Kurniawan S., pemerhati budaya dan pakar komunikasi digital dari Universitas Indonesia yang juga penulis buku Digital Dilemma menyatakan bahwa kehadiran layanan televisi streaming di Indonesia membuat konsumen memiliki kebebasan untuk memilih tema-tema yang dikehendaki.

Firman juga sepakat bahwa konsumsi layanan televisi streaming yang kian meluas di masyarakat bisa mendatangkan sejumlah perubahan, baik positif maupun negatif.

Dengan menyaksikan konten lewat layanan streaming, konsumen televisi bisa memperkaya wawasan dan mendapatkan banyak informasi baru yang bermanfaat.

Misalnya menyaksikan film yang menceritakan perjuangan tokoh inspiratif dalam mencapai kesuksesannya atau menyimak pemaparan tentang hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya sebuah peristiwa bersejarah. Bisa juga menyaksikan film yang menjabarkan teknik pengolahan sampah rumah tangga secara lebih efisien atau film tentang pola diet yang lebih bersahabat dengan kondisi tubuh dan lingkungan.

Namun di sisi lain, kurangnya kemampuan untuk memilah jenis tayangan yang berbobot serta kebiasaan mengakses jenis tayangan yang itu-itu saja justru bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kecanduan pada televisi.

Sekarang ini tak sedikit orang mengalami kecanduan menonton serial drama sehingga berujung pada perilaku binge watching dan mengurangi waktunya untuk melakukan kegiatan produktif.

Pernyataan ini didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan di Norwegia dan terbit dalam The Journal of Human Resources tahun 2017. Hasil riset mengungkap bahwa kebiasaan menonton televisi secara berlebihan bisa menurunkan frekuensi membaca buku dan menurunkan skor kecerdasan atau IQ (intellectual quotient) hingga 1,8 poin.

Bukan hanya bisa mengurangi waktu untuk melakukan kegiatan produktif, perilaku menonton televisi secara berlebihan juga berisiko mempengaruhi persepsi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya sehingga orang tersebut—pada taraf yang lebih lanjut, seolah-olah teralienasi dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri.

Sebagai contoh, terus-terusan menyaksikan tayangan yang menampilkan gaya hidup gemerlap kaum sosialita bisa membuat seseorang terinspirasi untuk memiliki kehidupan serupa sehingga cenderung merasa tidak puas dengan kehidupannya sendiri.

Terlalu banyak menonton film drama percintaan juga bisa membuat seseorang terobsesi untuk memiliki pasangan hidup dengan kriteria menyerupai tokoh yang disaksikannya dalam tayangan film.

Fenomena ini, menurut Firman, bisa dijelaskan dengan meninjau teori kultivasi yang dikenal dalam bidang ilmu komunikasi.

“Melalui konten yang ditampilkan, media yang setiap hari kita konsumsi—dalam hal ini tayangan video streaming; bisa menanamkan pengaruh tertentu yang kemudian akan ‘dipanen’ oleh penontonnya. Yang selanjutnya terjadi, penonton akan menunjukkan perilaku serupa dengan tayangan yang disaksikannya tersebut,” jelas Firman.

Yang juga perlu dipahami oleh konsumen televisi, lanjut Firman, berbagai konten yang beredar di masyarakat itu selalu dimuati oleh kepentingan tertentu, seperti kepentingan ekonomi, politik, ataupun ideologi tertentu.

Misalnya, ideologi konsumerisme yang menawarkan bahwa kebahagiaan hidup manusia itu bisa tercapai dengan cara melakukan aktivitas konsumsi yang banyak dan lebih banyak lagi. Atau pola pikir yang membuat orang berusaha habis-habisan untuk menjadi viral dan terkenal tanpa memikirkan konsekuensi di baliknya.

“Walaupun kini Indonesia cenderung semakin terbuka terhadap budaya dari luar, namun idealnya keterbukaan itu disertai pula oleh pendidikan dan pemahaman yang sistematis terhadap nilai-nilai yang berbeda dengan kultur kita. Itu sebabnya, konsumen perlu bersikap kritis dalam memilih tayangan. Mencari hiburan sah-sah saja, tapi jangan sampai jatuh ke dalam posisi mencandu. Pilih dan variasikan jenis tayangan yang dikomsumsi, karena secara tidak sadar, pelan-pelan kita akan beradaptasi dan menerima nilai-nilai yang disodorkan oleh konten tersebut,” ujar Firman.


Sensor Mandiri

Hal lain yang menimbulkan dilema dalam tayangan televisi streaming adalah minimnya filter yang membatasi penayangan adegan-adegan tertentu seperti pornografi, pedofilia, dan kekerasan. Meski jenis-jenis tayangan tersebut sudah ditandai dengan label khusus oleh penyedia layanan streaming, namun tak menutup kemungkinan masih bisa diakses oleh anak-anak di bawah umur dengan berbagai cara.

Isu terbaru yang menarik perhatian warganet adalah semakin populernya genre true crime dalam berbagai platform tayangan streaming, yang menceritakan kasus kejahatan—biasanya tentang kasus pembunuhan berantai; secara mendetail dari berbagai sisi, termasuk dari sudut pandang pelaku kejahatan.

Glorifikasi terhadap peristiwa kejahatan, reviktimisasi terhadap korban adalah dua poin penting yang menjadi fokus kekhawatiran.

Ambil contoh film dokumenter yang menceritakan tentang kasus kejahatan pembunuh serial Ted Bundy dan Jeffrey Dahmer yang dilengkapi narasi panjang tentang kehidupan mereka di masa kecil, deskripsi mendetail tentang perlakuan mereka terhadap korban, berikut rekaman suara asli mereka yang didapat dari wawancara dengan polisi dan dokumentasi rekaman lainnya.

Infografik Kecanduan Menonton Streaming
Infografik Kecanduan Menonton Streaming. tirto.id/Fuad


Bukan hanya bisa menimbulkan rasa simpati terhadap pelaku kejahatan, jenis tayangan seperti ini juga berpotensi memicu kemunculan copy cats atau peniru, seperti dilansir dari The Conversation.

Hal ini misalnya bisa dilihat dari peristiwa pembakaran terhadap sebuah masjid dan penembakan di California yang pelakunya terinspirasi dari kasus penempakan massal yang terjadi di Christchurch pada tahun 2019.

Menyikapi hal-hal seperti ini, Firman menyatakan bahwa tindakan penyaringan—setidaknya sensor mandiri melalui keluarga; perlu dilakukan.

Firman juga menekankan pentingnya membangun dialog dengan anggota keluarga mengenai berbagai hal, termasuk apa yang sedang viral dan sering muncul dalam konten video yang beredar di masyarakat.

“Orang tua terkadang amat ketat melarang anaknya menyaksikan konten pornografi dan pergaulan bebas, tetapi membiarkan saja mereka menonton konten tentang praktik kekerasan, pembunuhan, dan KDRT. "

"Ini menunjukkan bahwa ada gap pemahaman tentang apa sebetulnya nilai-nilai yang tidak seharusnya ditonton oleh anak-anak di bawah umur yang tidak memiliki bekal pendidikan dan pemahaman yang cukup,” tutup Firman.

Artikel Forbes berjudul "How TV Viewing Habits Have Changed" menuliskan, lebih dari 50% pemirsa streaming berusia di bawah 35 tahun. Sementara penonton berusia 60 tahun ke atas menghabiskan waktu santainya sebanyak 14% dengan layanan streaming, dan penonton yang berusia 15–29 tahun sebanyak 22%.

Chun Shao dari Arizona State University mengatakan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa bukan tayangan, namun terkadang yang diinginkan penonton hanyalah suara latar kebisingan. "Banyak peserta (penelitian) mengindikasikan bahwa mereka menggunakan Netflix untuk mengisi keheningan, untuk menemani mereka.”

Hal ini menjadi suatu hal yang ironis yang terjadi di era saat penonton memiliki kuasa yang jauh lebih besar dalam menonton dibandingkan era televisi konvensional atau kabel. Karena banyaknya pilihan tayangan streaming yang membanjir saat ini, rupanya hanya menjadi tempat pelarian dari rasa kesepian yang menjadi penyakit manusia modern.

Baca juga artikel terkait TREN GAYA HIDUP atau tulisan menarik lainnya Nayu Novita
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Nayu Novita
Penulis: Nayu Novita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight