Perubahan Iklim Ancam Keragaman Bahasa Dunia, Kok Bisa?

Oleh: Mochammad Naufal - 9 Maret 2021
Dibaca Normal 4 menit
Bahasa-bahasa dengan jumlah penutur yang sedikit makin terdesak karena perubahan iklim.
tirto.id - Pada 2018, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merilis sebuah laporan khusus mengenai laju pemanasan global yang kian mengkhawatirkan. Laporan itu menyebutkan bahwa aktivitas manusia telah membuat suhu global naik sebanyak 1,0 derajat celcius sejak masa pra-industri. Jika tidak dihentikan, diperkirakan laju kenaikan suhu global akan mencapai angka 1,5 derajat celcius pada 2030. Di titik itu, suhu global tidak akan bisa dikembalikan. Bencana dahsyat akibat krisis iklim akan menghantam bumi: hancurnya berbagai ekosistem, gelombang panas ekstrem, badai, kekeringan, banjir hingga kemunculan berbagai penyakit dan pandemi.

Menurut Elizabeth Kolhert, seorang jurnalis The New York Times, dalam The Sixth Extinction: An Unnatural History (2014), dampak dari bencana iklim diprediksi akan mendatangkan peristiwa kepunahan massal keenam (the sixth extinction). Pemenang Pulitzer Price itu berargumen bahwa kepunahan massal keenam tidak seperti kepunahan massal sebelumnya. Sebelumnya kepunahan terjadi karena kekuatan alamiah seperti jatuhnya asteroid. Setelah revolusi industri, kepunahan massal akan disebabkan oleh aktivitas manusia yang berdampak pada terganggunya biosfer bumi, salah satunya pengeluaran emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.

Kolhert memperkirakan perubahan iklim akan menyebabkan kepunahan sekitar 20-50% spesies bumi di abad ini. Belakangan, para ilmuwan menemukan kepunahan tersebut ternyata terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Seperti yang dilaporkan CNN (01/06/2020) para ilmuwan yang tergabung dalam kelompok penelitian di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menyebutkan bahwa tingkat kepunahan spesies meningkat beberapa dekade terakhir, misalnya dari rentang 2001 sampai 2004 ada sekitar 173 spesies yang punah.

Tetapi, kepunahan tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati di bumi, tapi juga bahasa, sebagaimana dituturkan Christopher Dunn, botanis dan ahli ekologi konservasi dari Cornell University, dalam esainya yang dimuat di The Cambridge Handbook of Endangered Languages (2018).

Hancurnya Keragaman Hayati dan Budaya

Christopher Dunn mengungkap banyak riset telah membuktikan hubungan kuat antara diversitas biologis dan kultural. Dunn juga menyebut bahwa terganggunya biodiversitas karena perubahan iklim juga berarti terganggunya keragaman budaya di bumi, termasuk berbagai macam bahasa yang dituturkan dalam ragam kebudayaan itu.

Setiap gangguan terhadap keanekaragaman hayati suatu daerah atau wilayah, yang disebabkan oleh perubahan iklim, memiliki implikasi yang signifikan bagi stabilitas masyarakat adat setempat dan juga vitalitas bahasa,tulis Dunn dalam esainya “Climate Change and Its Consequences for Cultural and Language Endangerment” di buku The Oxford Handbook of Endangered Languages (2018)

Hal ini juga didukung oleh data yang ditulis dalam laporan “Biocultural Diversity: Threatened Species, Endangered Languages” (2014) dari WWF. Laporan itu menunjukkan bahwa wilayah dengan biodiversitas kaya umumnya memiliki kebudayaan dengan bahasa yang beragam. Pulau Papua, misalnya. Meskipun populasinya kecil, tetapi Papua memiliki biodiversitas tinggi yang ternyata berkorelasi dengan tingginya keragaman bahasa penduduknya. “Perusakan habitat (sebagai akibat dari perubahan iklim atau proses lainnya) dapat mengakibatkan hancurnya keanekaragaman budaya dan dengan demikian menyebabkan hilangnya bahasa,” tulis Dunn.

Berubahnya Lingkungan, Hilangnya Bahasa

Kekhawatiran Dunn didukung oleh ahli linguistik dari University of Chicago, Lenore Grenoble yang memaparkan hasil risetnya di Greenland, “Arctic Indigenous Languages Vitality and Revitalization dalam buku The Routledge Handbook of Language Revitalization (2018). Grenoble menemukan bahwa bahasa yang dipakai oleh Suku Inuit perlahan menghilang akibat berubahnya kondisi alam sebelum para ahli linguistik berhasil mempelajari bahasa mereka sepenuhnya.

“Selama hampir seribu tahun, suku Inuit mengandalkan hawa dalam hembusan angin untuk membimbing mereka pada malam-malam yang berkabut dan tanpa bintang. Mereka memberi nama-nama khusus pada angin tersebut. Misalnya kata isersarneq, yang diucapkan untuk mengomunikasikan pesan seperti: 'Ini angin di fjord yang datang dari laut, dan mungkin sulit untuk pulang, tetapi begitu keluar dari fjord, cuaca akan cerah',” ucap Grenoble di sebuah wawancara dengan Grist pada tanggal 2 Oktober 2016.

Data historis juga menunjukkan kondisi alam bisa mengancam eksistensi bahasa, bahkan juga mengancam kebudayaan penuturnya. Melalui studinya yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Science (2010), Buckley dkk. melaporkan bagaimana kebudayaan Khmer di Angkor runtuh akibat berubahnya iklim. Hasil analisis mereka membuktikan Ankor pernah dilanda kekeringan yang disusul musim hujan intens. Sistem perairan dan agrikultur Angkor tidak mampu beradaptasi sehingga membuat kebudayaan Khmer, termasuk bahasa yang dituturkan masyarakat di dalamnya, kolaps pada penghujung abad ke-15.

Christopher Dunn menyebutkan kejadian serupa pernah terjadi kepada bahasa dan kebudayaan Anasazi di benua Amerika bagian barat daya yang dilanda kekeringan pada abad ke-12 sampai 13 M, juga pada masyarakat Kerajaan Asiria Baru yang berbahasa Aram pada abad 9-7 SM.

Infografik Perubahan Iklim Ancam Kepunahan Bahasa
Infografik Perubahan Iklim Ancam Kepunahan Bahasa. tirto.id/Fuad

“Migran Iklim” dan Pudarnya Bahasa Ibu

Selain berdampak secara langsung, perubahan iklim juga mengancam eksistensi bahasa melalui migrasi besar-besaran. Lingkungan yang berubah memaksa banyak penduduk pindah ke tempat dengan lingkungan lebih baik. PBB memprediksi hal ini akan menciptakan sejumlah besar populasi yang disebut sebagai “climate migrants”, yaitu orang yang harus bermigrasi akibat perubahan iklim. International Organization for Migration dalam laporan “Migration and Climate Change(2008) memprediksi bahwa pada 2050 akan ada sebanyak 200 juta orang yang melakukan migrasi karena kacaunya angin musim, kekeringan, banjir dan naiknya permukaan air laut. Kondisi seperti ini diperkirakan akan mengancam eksistensi beberapa bahasa, mengingat data UNESCO menyebutkan bahwa salah satu faktor dominan yang mengancam eksistensi suatu bahasa adalah migrasi. Laporan yang sama menyebutkan kasus-kasus migrasi akibat kondisi alam ekstrem sudah terjadi, misalnya pada 2018 saat kekeringan ekstrem melanda Afganistan; siklon Gita di Samoa; juga banjir di Filipina.

Berubahnya lingkungan dan migrasi yang mengancam kepunahan bahasa memang telah dibuktikan sejak lama. Donald McCaulay dalam buku The Celtic Languages (1993) menjelaskan bahwa Bahasa Gaelik Skotlandia terancam semenjak para petani yang menghuni dataran tinggi melakukan migrasi ke dataran rendah. Pada abad ke-18 dataran tinggi Skotlandia dihuni oleh para penutur Bahasa Gaelik yang jumlahnya berkisar 300.000. Peristiwa The Highland Clearance memaksa mereka pindah ke dataran rendah yang didominasi penutur bahasa Inggris. Peristiwa ini terjadi dari abad ke-18 sampai 19 saat para tuan tanah di dataran tinggi Skotlandia mengusir petani yang menyewa lahannya. Mereka mengusir para petani dataran tinggi, sebab berpikir bisa mendapatkan keuntungan lewat cara pengelolaan lahan dalam bentuk lain, terutama dengan sistem pastoralisme ternak domba. Di akhir abad ke-19, penutur bahasa Gaelik hampir menghilang. Berdasarkan survei, penutur fasih bahasa Gaelik Skotlandia kini hanya berjumlah 11.000 orang.

Melalui laporan interaktifnya, Laporan interaktif The New York Times tahun lalu menceritakan bahwa migrasi akibat perubahan iklim telah terjadi di Guatemala, Sudan sampai wilayah Delta Mekong di Asia Tenggara. Mengutip berbagai, laporan juga memprediksi sebanyak 6,7 juta penduduk Mexico akan bermigrasi ke wilayah Amerika Serikat pada 2080. Migrasi tersebut akan membawa banyak kelompok masyarakat adat (indigenous people) beserta ragam bahasanya. Di sisi lain, mereka akan terpaksa menyesuaikan dengan bahasa Inggris dan kehilangan bahasa ibu. Pola seperti ini sudah terjadi beberapa tahun terakhir, sebagaimana.yang telah diamati Pamela Munro, profesor linguistik dari Universitas California Los Angeles.

“Ketika datang ke sini (Amerika), mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk berbicara dengan menggunakan bahasa ibu. Mereka juga tidak berbicara dalam bahasa asli kepada anak-anak mereka, dan semua itu berkontribusi pada hilangnya bahasa,” kata Pamela Munro kepada NBC (19/03/2014).

Meski pun berbagai studi telah membuktikan hubungan antara rusaknya alam karena perubahan iklim dengan kepunahan bahasa, belum banyak perhatian untuk persoalan ini. “Sayangnya, hubungan antara iklim-ekologi-bahasa masih terabaikan dan membutuhkan perhatian lebih,” tulis Christopher Dunn.

Baca juga artikel terkait PERUBAHAN IKLIM atau tulisan menarik lainnya Mochammad Naufal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Mochammad Naufal
Editor: Windu Jusuf
DarkLight