Benny dan Wapres

Persahabatan Benny dengan Try Sutrisno, Akhir yang Berbeda

Ilustrasi Benny Moerdani dan Try Sutrisno. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 16 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Benny Moerdani dan Try Sutrisno bersahabat sejak lama. Mereka saling dukung di ABRI dan bekerja untuk Soeharto.
Pada paruh kedua 1950-an, Benny Moerdani dan Try Sutrisno telah berkawan di Bandung. Keduanya belum diperhitungkan dalam jajaran TNI.

”Waktu itu Moerdani baru saja menjadi perwira infanteri dengan pangkat Letnan Dua, sedangkan Try masih Sersan Taruna pada Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad),” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:167).

Try calon perwira zeni. Setelah lulus dari Atekad, ia ditugaskan di Kodam Sriwijaya yang saat itu dipimpin Harun Sohar.

Try dan Benny bertemu lagi di sebuah sebuah pulau kecil pada masa operasi Trikora perebutan Irian Barat. Saat itu pangkat Benny telah Mayor dan tergabung dalam Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang siap diterjunkan ke daerah musuh. Sementara Try sebagai perwira zeni bertugas membangun lapangan terbang.

Di masa itu pula Try Sutrisno bertemu dengan Soeharto yang menjadi panglima komando mandala operasi Trikora.

Pak Harto tahu persis tentang Pak Try pada waktu membuat Lapangan Terbang Kendari, Sulawesi Tenggara," ujar Tuti Setyawati, istri Try Sutrisno dalam buku Ibu Tien Soeharto dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita: Rangkaian Melati (1996:18).

Sebelum terlibat dalam pembangunan lapangan terbang, sebagaimana terdapat dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan II (1983:488), Try menggebu-gebu ingin ikut misi khusus yang dipimpin Benny Moerdani. Namun keinginan itu tak dapat diwujudkan. Ia kemudian diberi tugas oleh Kolonel Dandy Kadarsan untuk membangun lapangan terbang di Kendari, Ambon, dan Kupang.

Di akhir operasi Trikora, Mayor Benny Moerdani bersinar dan mendapat bintang sakti.
Reputasi Benny sebagai perwira yang bisa diandalkan memang telah terbukti sejak Sukarno masih jadi presiden. Para jenderal di Angkatan Darat pun telah banyak yang mengenalnya. Setelah cabut dari satuan elite baret merah, Benny masuk intelijen militer.

Warsa 1970-an, Benny mulai dekat dengan Soeharto. Ia pernah menjadi Asisten Intelijen Panglima ABRI/Hankam. Benny mengurus intelijen yang diwariskan Ali Moertopo. Sementara Try juga masuk lingkaran Soeharto dengan menjadi ajudan presiden dari 1974 hingga 1978. Saat itu pangkat Try sudah kolonel.

Ketika Try tak lagi menjadi ajudan Presiden, Benny sempat mengajaknya untuk masuk intelijen. Menurut Benny, Try yang berlatar zeni, tidak jelas hari depannya dalam karier ketentaraan sebab panglima ABRI biasanya diisi oleh para perwira dari infanteri. Kelak, asumsi Benny terpatahkan.

Awal Try, Akhir Benny

Try nyatanya tak ikut lingkaran Benny. Dari tahun 1978 sampai 1979 ia menjadi Kepala Staf Kodam Udayana. Setelah itu, Try menjadi Panglima Kodam Sriwijaya. Selanjutnya, ia pindah lagi ke Jakarta dan menjabat sebagai Pangdam Jaya dari tahun 1982 sampai 1985.

Beberapa bulan setelah Try menjadi Panglima Kodam di Jakarta, Benny diangkat menjadi Panglima ABRI pada awal tahun 1983. Setahun setelah itu, meletus Tragedi Tanjung Priok.


Meski peristiwa berdarah itu terjadi di wilayah teritorial Kodam Jaya, namun tak memengaruhi karier Try Soetrisno. Nasibnya berbeda dengan Sintong Panjaitan yang kariernya terhenti setelah Peristiwa Santa Cruz pada 1991.


Try tertolong oleh posisi dan status Benny sebagai Panglima ABRI, beragama Katolik, dan dicap anti Islam. Mayoritas umat Islam menimpakan kesalahan atas tragedi tersebut kepada Benny. Selain itu, seperti disebut Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998 (2014), Try juga dipersiapkan sebagai penggani Benny.


“Ia (Try Sutrisno) dipersiapkan menjadi Panglima ABRI, menggantikan Benny,” tulis Jusuf.

Dan benar saja, tahun-tahun berikutnya karier Try semakin menanjak. Setelah menjadi Kapala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1988, Try kemudian menggantikan Benny sebagai Panglima ABRI. Sementara Benny dijadikan Menteri Pertahanan Keamanan (Menhankam) dari 1988 hingga 1993 sebelum akhirnya tak dipakai lagi oleh Soeharto.


Meski posisinya digantikan oleh Try, namun Benny mengharapkan juniornya itu lebih maju dari dirinya. Menurut Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:167), ketika Try baru menjadi Panglima ABRI, Benny menolak dicalonkan oleh Fraksi ABRI di DPR sebagai calon wakil presiden. Ia malah menunjuk Try Sutrisno. Benny sadar atas latar belakangnya yang indo dan Katolik, yang tentunya bakal sulit diterima golongan Islam di Indonesia.

Keinginan Benny itu harus tertunda, pasalnya dari 1988 sampai 1993 Soeharto memilih Sudharmono sebagai pendampingnya, alih-alih Try Sutrisno.




Di sisi lain, terpilihnya Sudharmono sebagai wakil presiden membuat Try Sutrisno lega sebab sebelumnya tersiar kabar akan ada interupsi dari Fraksi ABRI. Seperti dikutip Salim Said dari biografi Try Sutrisno yang bertajuk Pengabdian Tiada Akhir, ketika Try baru jadi panglima ABRI, ia mengajak Benny berbicara sebelum memasuki ruangan sidang MPR.

Try meminta Benny untuk menurutinya dengan tidak melakukan interupsi dan memunculkan nama lain selain Sudharmono. Panglima ABRI itu berharap Benny tak membuat kesal Soeharto dan mengganggu jalannya sidang di parlemen. Sebagai bekas ajudan daripada Soeharto, Try sedikit banyak tahu watak penguasa Orde Baru itu.

Barulah pada lima tahun kemudian Try tak bisa menolak dijadikan wakil presiden. Soal ini, Kepala Staf Sosial Politik (Kasospol) ABRI, Letnan Jenderal Harsudiono Hartas, keceplosan ketika ditanya wartawan di Kementerian Dalam Negeri tentang siapa wapres dari ABRI.

“Dia bilang Try Sutrisno. Sudah itu Hartas datang kepada saya minta maaf dan siap dipecat akibat keceplosan itu,” ungkap Try seperti dicatat Salim Said.

Hartas yang dicap sebagai orangnya Benny Moerdani kemudian dihukum. Meski belum sepuh, ia dijadikan anggota Dewan Petimbangan Agung (DPA) yang kerap ia pelesetkan menjadi Dewan Pensiunan Agung.


Setelah Benny tersingkir pada 1993, banyak perwira dalam lingkarannya yang juga tak mendapat lagi posisi strategis di kemiliteran. Pada tahun-tahun menjelang tumbang, Soeharto mencoba berdamai dan ingin mesra dengan kelompok Islam yang sebelumnya kerap terpinggirkan dan ditekan. Setelah tahun 1993 adalah jatah bagi golongan ABRI Hijau.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight