Perlukah Cina Bangun Pangkalan Militer di Pakistan?

Pangkalan militer luar negeri Cina pertama di Djibouti, Afrika. FOTO/AFP
Oleh: M Faisal Reza Irfan - 9 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Setelah membangun pangkalan militer asing pertama di Djibouti, Cina dikabarkan akan mendirikan tangsi di Pakistan.
Cina dikabarkan akan membangun pangkalan militer di Pakistan. Seperti diwartakan South China Morning Post, pangkalan tersebut bakal berlokasi di Jiwani, dekat perbatasan Iran.

Seorang pejabat militer Cina mengatakan pembangunan pangkalan militer di Jiwani bertujuan untuk memasok layanan, perawatan, dan dukungan logistik yang dibutuhkan kapal-kapal perang milik Cina. Selama ini kapal-kapal perang Cina yang berpatroli di Samudera Hindia sulit mendapatkan pasokan logistik di Pakistan.

Jiwani dipilih sebagai lokasi karena kedekatan geografisnya dengan pelabuhan padat lalu lintas Gwadar. Sebagai catatan, Pelabuhan Gwadar memegang peran penting di Koridor Ekonomi Cina-Pakistan yang masuk dalam proyek “One Belt, One Road.”


Para analis menyatakan, Cina memiliki kepentingan geostrategis dan militer yang besar di Pakistan. Kendati begitu, Cina dirasa tidak akan “melucuti kekuatan militer” Pakistan melalui pembangunan pangkalan militer. Analis menambahkan, Cina hanya ingin mendapatkan akses yang lebih komprehensif ke Samudera Hindia di samping mengurangi biaya logistik kapal-kapal perang Cina.

Di lain sisi, pendapat berbeda diutarakan pejabat Pakistan. Menurutnya, Cina dan Pakistan tidak memiliki rencana untuk membangun pangkalan militer angkatan laut di Jiwani. Baginya, Cina tidak tertarik membangun pangkalan militer di garis pantai Pakistan. “Bukan DNA China untuk membangun basis [militer] di luar wilayahnya,” tegas pejabat dari Kementerian Luar Negeri seperti dilansir Pakistan Today.

Sang pejabat menambahkan, “Cina dan Pakistan tidak berencana membangun pangkalan angkatan laut untuk Cina di pesisir Pakistan. Masalah itu belum pernah dibahas di antara kedua negara.”

Rencana pembangunan pangkalan militer di Pakistan sebetulnya sudah menjadi bahan pembicaraan sejak bulan Juni 2017. Berdasarkan laporan Pentagon, pembangunan pangkalan militer di Pakistan merupakan bagian dari upaya memperluas kemampuan militernya di seluruh dunia guna meningkatkan peran dalam mempertahankan kepentingan internasional Cina.

Pakistan, masih mengutip laporan Pentagon, dipilih karena statusnya sebagai salah satu negara dengan jumlah tentara terbesar di dunia serta merupakan negara pembeli senjata buatan Cina.

“Cina kemungkinan besar akan berusaha membangun pangkalan militer tambahan di negara-negara yang memiliki hubungan persahabatan sejak lama serta mempunyai kepentingan strategis serupa layaknya Pakistan,” tulis laporan itu seperti dilansir The Guardian. “Inisiatif ini, bersamaan dengan kunjungan rutin kapal angkatan laut [Cina] ke pelabuhan-pelabuhan asing. Keduanya mencerminkan dan memperkuat pengaruh Cina yang berkembang serta memperluas jangkauan angkatan bersenjatanya.”

Howard Baker Center, pusat kebijakan publik Universitas Tennessee, Texas, juga mengungkapkan hal senada. Menurut laporan yang dikeluarkan pada September 2017, Cina memilih Provinsi Balochistan sebagai basis militer terbaru dan mengubahnya menjadi faktor penting dalam Koridor Ekonomi Cina-Pakistan yang menghubungkan kota Kashgar di Cina dengan Pelabuhan Gwadar.


Sejauh ini Cina sudah mendirikan pangkalan militer asing di Djibouti, Afrika Timur. Pangkalan militer Djibouti merupakan pangkalan pertama yang dibangun Cina pada 2016. Pemilihan lokasi didasarkan pada faktor stabilitas negara dan lokasi yang strategis, dekat dengan Selat Bab el-Mandebgyang menjadi pintu gerbang masuk salah satu rute pelayanan tersibuk di dunia, Terusan Suez. Tujuan Cina membangun pangkalan militer di Djibouti bukan untuk ajang pamer kekuatan militer, melainkan wujud tanggungjawab menjaga perdamaian global, demikian keterangan resmi Beijing.

Untuk memenuhi ambisi militernya, tahun lalu, Cina total telah mengeluarkan anggaran $180 miliar. Namun, angka tersebut diperkirakan bisa lebih tinggi sebab, mengutip Pentagon, pemerintah Cina memiliki “transparansi penghitungan anggaran yang buruk.”

Proyeksi kekuatan militer Cina secara global terkait dengan proyek infrastruktur Silk Road (Jalan Sutra) terbaru senilai $900 miliar yang begitu gencar digalakkan Presiden Xi Jinping. Proyek tersebut bakal melintasi wilayah-wilayah yang tidak stabil seperti Afghanistan dan Pakistan. “Dengan kepentingan yang berkembang secara global, Cina membutuhkan fasilitas pertahanan yang terbatas namun diperlukan di luar negeri,” kata Zhu Feng, profesor keamanan internasional Universitas Nanjing.



Menggantikan Peran Amerika


Jika pangkalan militer Cina di Pakistan betulan terwujud, akan ada dua dampak jangka panjang yang ditimbulkan. Pertama, kehadiran Cina perlahan bakal menggerus peran militer Amerika di Pakistan.

Pada Oktober lalu, Presiden Amerika, Donald Trump memotong bantuan militer ke Pakistan dengan seizin Kongres. Anggaran yang cair hanya $255 juta. AS juga menambahkan, anggaran hanya bisa diambil setelah pemerintah Pakistan mampu bertindak lebih untuk menindak jaringan teror domestik Haqqani dan Taliban yang menyerang negara tetangganya, Afghanistan. Dua kelompok ini disebut-sebut bertanggung jawab atas kematian tentara Amerika di Afghanistan.

Jumlah dana bantuan militer itu memang jauh menyusut dibandingkan era sebelum Trump. Sejak 2002 Washington telah mengucurkan lebih dari $33 miliar dolar dana segar ke Pakistan.

“Kita tidak bisa lagi diam tentang Pakistan yang menjadi tempat aman bagi organisasi teroris, Taliban dan kelompok lainnya yang mengancam wilayah sekitarnya,” kata Trump dalam pidatonya tentang Kebijakan Asia Selatan. “Kita telah membayar miliaran dolar ke Pakistan, namun pada saat bersamaan mereka memelihara teroris yang sangat kami perangi. Ini harus berubah dan akan segera berubah.”


Rencana masuknya Cina ke teritori Pakistan tentu menjadi semacam angin segar bagi pemerintah Pakistan. Islamabad tak perlu pusing lagi memikirkan berkurangnya kucuran dana dari Washington. Bagi Pakistan, militer Cina dianggap mampu ancaman seperti kekuatan angkatan laut dan poros maritim milik India.

Ditambah lagi, bantuan Cina tak seperti sokongan militer Amerika yang menyertakan syarat-syarat tertentu. Tak seperti AS pula, langkah Cina tidak didorong oleh ketakutan atas maraknya terorisme. Cina 'hanya' ingin memperluas jangkauan Tentara Merah secara global.

Meski demikian, seperti yang dikemukakan Umair Jamal dari The Diplomat, seiring waktu rencana pembangunan pangkalan militer Cina di Pakistan bakal membawa konsekuensi yang tidak diinginkan untuk Islamabad alih-alih membawa keuntungan jangka panjang. Karena dibandingkan dengan Washington, Beijing sebetulnya lebih banyak menuntut, mengingat Pakistan mempunyai ketergantungan ekonomi dan militer yang tinggi terhadap Cina. Apabila tuntutan tersebut tidak ditanggapi, dampak yang lebih parah (isolasi ekonomi, misalnya) bisa muncul.

Kedua, rencana pembangunan pangkalan militer tetap di Pakistan diprediksi akan membuat relasi India dan Cina tidak kondusif. Swaran Singh, profesor hubungan internasional Universitas Jawaharlal Nehru, New Delhi, mengatakan, baik Gwadar maupun Jiwani bukan pilihan lokasi yang bijak untuk pangkalan militer karena lokasinya dekat dengan pelabuhan Chabahar, Iran, di mana India memiliki kepentingan ekonomi di sana.

Di Chabahar, New Delhi tercatat telah berinvestasi lebih dari $100 juta untuk menyewa dua pelabuhan selama kurun waktu 10 tahun. Investasi sewa tempat tersebut dilakukan untuk mempromosikan perdagangan India dengan negara-negara di Asia Tengah. Dengan rencana dibangunnya pangkalan militer Cina di dekat Chabahar, pihak pemerintah India khawatir alur perdagangannya bakal terganggu.

Baca juga artikel terkait PAKISTAN atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Politik)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight