Perjumpaan dan Perpisahan Dwitunggal Sukarno-Hatta

Sukarno dan Hatta; 1949. FOTO/Istimewa
Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi - 30 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Sukarno dan Hatta memiliki kepribadian dan pemikiran yang bertolak belakang. Keduanya bersatu demi bangsa dan berpisah karena politik.
tirto.id - Sukarno mengeluarkan Surat Keputusan No. 13/1957 pada 5 Februari 1957 yang isinya memberhentikan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden. Dua bulan sebelumnya, pada 1 Desember 1956, Hatta mengajukan surat pengunduran dirinya. Sejak saat itu, dwitunggal pun tanggal.

Pengunduran diri Hatta merupakan puncak dari berbagai perbedaan yang tak terdamaikan di antara keduanya. Kejadian ini mengurai pasang surut hubungan Sukarno-Hatta sejak dahulu. Hubungan yang diwarnai perselisihan dan permufakatan, perseteruan dan persekutuan, yang seperti tak ada habisnya.

Saling Mendukung dan Mengagumi dari Jauh

Sebelum pertemuan secara fisik, dua anak bangsa yang kala itu terpisah jarak belasan ribu kilometer saling memperhatikan, memberikan dukungan, mengagumi, dan mengkritisi langkah masing-masing. Kadang-kadang kabar datang melalui berita surat, koran, atau dari kawan-kawan pergerakan yang datang dari luar negeri.

Seperti saat Hatta menghadiri Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Jenewa pada 10-15 Februari 1927. Sukarno, menurut istrinya saat itu, Inggit Garnasih, dalam biografinya yang ditulis Ramadhan K.H. berjudul Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (1981), mengetahui dan memuji langkah tersebut berdasarkan sebuah surat yang dikirimkan seorang kawan di Belanda.


Dalam surat tersebut dikisahkan jalannya kongres dan siapa saja yang datang untuk mewakili bangsa-bangsa terjajah. Hatta mewakili Indonesia dalam kapasitasnya sebagai ketua Perhimpunan Indonesia (PI), organisasi yang dipimpinnya sejak 1926.

Kehadiran Hatta di kongres tersebut membawa konsekuensi berat bagi para pentolan PI: mereka ditangkap pemerintah saat kembali ke Belanda pada 23 September 1927. Kabar ini sampai di Bandung melalui surat yang didapat Tjipto Mangunkusumo dan kemudian sampai ke telinga Sukarno.

Mendengar hal itu, Sukarno, dalam kedudukannya sebagai pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI), kemudian menggalang dukungan bagi para aktivis yang ditahan di Belanda. Sejumlah rapat akbar pun diselenggarakan di berbagai tempat dan daerah di seputar Bandung. Dalam setiap rapat, dilakukan pula aksi penggalangan dana.

Nun jauh di Belanda, para aktivis memperoleh pembelaan secara cuma-cuma dari tiga orang pengacara: Mr. J.E.W. Duys, Mr. Mobach, dan Nona Mr. Webber.

Sukarno terus mengikuti proses persidangan yang berlangsung di s-Gravenhage (Den Haag). Ia mengagumi kutipan dari René de Clerq yang dipilih Hatta dalam pembelaan yang diberi judul “Indonesia Vrij” ("Indonesia Merdeka"): "Hanya satu tanah yang dapat disebut Tanah Airku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku."

Tak lama setelah Hatta dan kawan-kawan dibebaskan dari tahanan pada 22 Maret 1928, giliran Sukarno menghadapi masalah dengan penguasa kolonial yang semakin ketat mengawasi kaum pergerakan. Sepak terjang Sukarno bersama PNI membuatnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara untuk pertama kalinya pada Desember 1929.


Kali ini giliran Hatta yang memberikan dukungan bagi Sukarno dan kawan-kawan yang meringkuk dalam sel penjara tua Banceuy sejak 30 Desember 1929. Menurut Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik (1990), salah satu bentuk dukungan Hatta kepada Sukarno adalah dengan menulis sebuah artikel yang berjudul “De Vernietiging der PNI” (Penghancuran PNI) pada 2 Januari 1931.

Artikel Hatta mengecam jalannya pengadilan yang telah diatur sedemikian rupa dengan tujuan menghukum Sukarno dan kawan-kawannya. Menurut Hatta, hakim kolonial, dalam hal politik, bukan menjadi pelayan keadilan, melainkan pelayan kekuasaan. Setidaknya ada dua artikel lain yang ditulis Hatta sebagai sokongannya kepada PNI sebelum Sukarno dan kawan-kawan ditahan.

Perselisihan dan Perbedaan

Sukarno sebagai ketua partai memperoleh vonis paling berat, yakni 4 tahun penjara, yang dijalaninya di Sukamiskin. Kedudukannya sebagai ketua digantikan oleh Sartono, yang kemudian membubarkan PNI setelah banding Sukarno dan kawan-kawannya ditolak Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) pada 17 April 1931.

Sebagian anggota PNI kemudian mendirikan Partai Indonesia (Partindo) pada 1 Mei 1931. Anggota yang tidak setuju dengan pembubaran PNI dan pendirian partai baru bergabung dalam Golongan Merdeka yang juga dikenal dengan nama PNI Baru. Nama resminya lalu berubah menjadi Pendidikan Nasional Indonesia pada 25-27 Desember 1931.

Hatta mengkritisi keputusan pembubaran PNI. Menurut Hatta, seharusnya nasib partai tidak digantungkan kepada keputusan hakim. Suatu partai seharusnya tidak bergantung pada pemimpinnya, namun pada para kader yang lahir melalui pendidikan yang dilakukan partai.

Fokus perhatian Hatta pada pendidikan kader partai menemukan kesamaan dengan garis kebijakan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Salah satu cara untuk mendidik anggota PNI Baru adalah dengan berlatih menulis, yang kemudian dimuat dalam surat kabar Daulat Rakyat sebagai corong partai.


Hatta, yang melihat tidak adanya sosok pemimpin dalam PNI Baru, kemudian memutuskan untuk membantu partai ini mencetak pemimpin-pemimpin baru. Namun, keterlibatan Hatta baru terjadi setelah ia menyelesaikan pendidikan di Belanda dan pulang ke tanah air pada 1932.

Seluruh kejadian ini dicermati Sukarno dari balik jeruji besi. Menurut pengakuan Sukarno yang disampaikan kepada Cindy Adams, yang kemudian dibukukan dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965), ia mengutus Gatot Mangkoepradja dan Maskun untuk mendamaikan perpecahan. Keduanya dibebaskan dari Sukamiskin beberapa bulan sebelum Sukarno dilepaskan dari tahanan.

Namun, Gatot dan Maskun gagal menciptakan persatuan di antara kedua pihak yang berselisih. Maskun kemudian bergabung dengan PNI Baru.

Perjumpaan Pertama

Menurut pengakuan Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (2011), ia berjumpa pertama kali dengan Sukarno di sebuah hotel di Bandung. Kesibukan Hatta setelah kembali dari Belanda membuatnya lupa untuk bertemu Sukarno, yang telah bebas kurang lebih sembilan bulan.

Haji Usman, salah satu kerabat jauh Hatta, adalah orang yang mengajaknya menemui Sukarno. Setibanya di Bandung, mereka berdua langsung menuju rumah Sukarno di Astanaanyar. Namun rupanya pemilik rumah sedang tidak berada di tempat. Setelah meninggalkan pesan, Hatta kembali ke hotel dan menunggu kedatangan Sukarno yang tiba dengan Maskun pada malam harinya.

Dalam perjumpaan pertama itu, mereka hanya bercakap masalah biasa, tidak membahas perselisihan antara Partindo dan PNI Baru. Kehadiran Haji Usman, yang menurut Sukarno sebagai orang luar, membuatnya enggan untuk membahas masalah yang serius. Alih-alih, Sukarno hanya menceritakan pengalamannya selama ditahan di Sukamiskin.

Nama hotel tempat perjumpaan pertama antara Sukarno dan Hatta dapat diketahui dari pengakuan Inggit Garnasih. Menurut Inggit dalam Kuantar ke Gerbang, suatu sore datang seorang berperawakan pendek ke rumah saat mereka sedang pergi. Sang tamu itu adalah Hatta yang meninggalkan pesan untuk menemuinya di Hotel Bunga di Jalan Pos Timur.

Pembicaraan yang lebih serius baru terjadi pada pertemuan tanggal 25 September 1932. Menurut Hatta, Sukarno mengundangnya untuk datang ke rumahnya antara 20-30 September 1932 pada jam makan siang. Turut diundang Sjahrir dari PNI Baru dan Sartono dari Partindo. Namun, Sjahrir memilih tidak hadir dan menyarankan Maskun sebagai penggantinya.


Pada 25 September 1932, sebelum Hatta datang ke rumah Sukarno, ia terlebih dahulu mampir ke rumah Maskun di Kopoweg. Namun, Maskun menolak untuk ikut datang ke rumah Sukarno. Baik Sjahrir maupun Maskun berpendapat, pandangan politik PNI Baru sudah jelas seperti yang tertuang dalam tulisan Hatta "Penderitaan Kita" di Daulat Rakyat 10 Desember 1932. Inti dari tulisan tersebut adalah pernyataan tegas bahwa PNI Baru tidak bergantung pada sosok pemimpin dan lebih mengutamakan pendidikan politik kader dibanding mengadakan rapat-rapat akbar.

Pertemuan di rumah Sukarno selepas makan siang itu akhirnya hanya dilakukan tiga orang saja: Hatta mewakili PNI Baru, Sukarno dan Sartono mewakili Partindo. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk tidak saling menyerang. Masing-masing pihak bergeming pada sikap politiknya.

Sukarno cenderung mengenang pertemuan itu dengan nada tidak senang. Seperti dicacat Cindy Adams, Sukarno memiliki perbedaan tajam dengan Hatta yang bersikap kaku sejak pertemuan itu. Ia tidak bisa mengerti segala tetek-bengek pertimbangan intelektual ala Hatta. Sukarno mengakui sendiri bahwa Hatta dan dirinya tak pernah berada dalam riak gelombang yang sama.




Lahirnya Dwitunggal

Jurang perbedaan yang dalam itu pada akhirnya mereka kubur ketika bangsa dan tanah air membutuhkan sumbangsih keduanya. Sebuah kutipan dari Sukarno kepada Hatta dalam buku Cindy Adams dapat menggambarkan persatuan mereka.

"Bung dan aku pernah terlibat dalam perselisihan yang dalam," kata Sukarno kepada Hatta.

"Meski di satu waktu kita pernah tidak saling menyukai, sekarang kita menghadapi satu tugas yang jauh lebih besar daripada tugas yang pernah kita lakukan masing-masing. Berbagai perbedaan menyangkut masalah partai atau strategi tak perlu ada lagi. Sekarang kita satu. Bersatu di dalam perjuangan bersama."

"Setuju," kata Hatta.

Keduanya kemudian berjabat tangan.

"Ini," kata Sukarno, "merupakan simbol kita sebagai Dwitunggal. Kita berikrar dengan sungguh-sungguh untuk bekerja berdampingan, tak akan pernah dipisahkan sampai negeri kita merdeka sepenuhnya."

Maka sejak malam di bulan Maret 1942 itu, lahirlah dwitunggal yang mengantarkan bangsa ini meraih kemerdekaan. Janji persatuan di atas perbedaan yang terus dijaga hingga mereka berpisah di akhir 1956.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Ariyono Wahyu Widjajadi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Ariyono Wahyu Widjajadi
Penulis: Ariyono Wahyu Widjajadi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight