Perjuangan Penyintas Sistem Ianfu Menuntut Maaf Pemerintah Jepang

Mantan Perdana Menteri Jepang Yasuhiro Nakasone yang pernah terlibat pembangunan ianjo di Balikpapan pada 1944. AP Photo / Koji Sasahara, File
Oleh: EkaHindra - 14 Agustus 2020
Dibaca Normal 4 menit
Tentara Jepang memperbudak perempuan Indonesia dalam ianjo. Para penyintas berjuang menuntut pertanggungjawaban, meski pemerintah Jepang enggan mengakui.
Pada 1978, politikus sayap kanan Jepang Nakasone Yasuhiro menerbitkan sebuah memoar bertajuk Owarinaki Kaigun (The Endless Navy). Memoar veteran Perang Dunia II itu lantas membuat publik Jepang terkejut. Pasalnya, seolah tanpa beban, Nakasone mengakui keterlibatannya dalam pembangunan sebuah ianjo—rumah bordil militer Jepang—kala memimpin pasukannya menduduki Kalimantan.

Saya mengomandani 3000 laki-laki. Saat tiba di sana beberapa anak buah saya menyerang perempuan-perempuan lokal atau memuaskan diri dalam perjudian. Sehingga saya mengalami kesulitan dalam pembangunan Ianjo untuk para laki-laki ini,” tulis Nakasone dalam memoarnya.

Pada tahun terbitnya memoar Nakasone itu, jurnalis Mainichi Shimbun Kako Senda juga menerbitkan sebuah laporan investigasi berjudul “Jugun Ianfu Seihen” (Military Comfort Women, a True Compilation). Laporan Kako itu menyebut bahwa militer Jepang terlibat langsung dalam sistem perbudakan seksual selama Perang Pasifik (1931-1945).

Pemerintah Jepang tentu saja menolak mengakuinya. Kelompok sayap kanan yang mendominasi Partai liberal Demokratik (LDP) bahkan menuduh Kako menyebarkan khayalannya ke publik.

Laporan Kako bukan satu-satunya yang memojokkan Nakasone. Pada November 2010, koran Asahi Shimbun melaporkan temuan dokumen berkepala “Dokumen Konstruksi Bandara Udara Militer Angkatan Laut ke-2”. Organisasi masyarakat sipil Grass Roots House Peace Museum menyebut dokumen itu menyingkap keterlibatan Nakasone dalam pembangunan ianjo di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dokumen setebal 25 halaman itu menyebut aktivitas Unit Yabe—kesatuan tempat Nakasone tergabung. Nakasone disebut bertugas sebagai kepala keuangan, kapten dan kepala distrik. Nakasone disebut pula ikut mendirikan ianjo dan mengumpulkan perempuan-perempuan lokal dengan dalih menenangkan mental bala tentara Jepang.

Bukti keberadaan Nakasone di Kalimantan makin sahih oleh penelitian Profesor Yoshiaki Yoshimi. Dalam bukunya Jugun Ianfu, sejarawan dari Universitas Chuo itu menjelaskan bahwa Nakasone semula berpangkat Letnan Muda saat ditugaskan ke Davao, Filipina, pada Desember 1941. Setelah Jepang berhasil menguasi Kalimantan pada 24 Januari 1942, Nakasone lalu dikirim ke Balikpapan.

Teolog dan aktivis Jepang Kimura Koichi menyebut perbudakan seksual oleh militer Jepang adalah mekanisme yang kejam. Pasalnya, sistem ini memaksa perempuan-perempuan Asia dan Belanda—yang dikenal dengan istilah ianfu—menjadi pemuas seksual para pegawai sipil dan personel militer.



Meskipun bukti kejahatan perangnya sudah demikian gamblang dibeber, Pengadilan Internasional Timur Jauh (IMTF) tetap tak bisa menjerat Nakasone. Selepas itu, karir politik Nakasone justru terus menanjak hingga dia menduduki kursi Perdana Menteri untuk periode 1982-1987.

Sampai hari ini pun pemerintah Jepang tetap menolak bertanggung jawab atas kejahatan perangnya dalam praktik perbudakan seksual yang menimpa sekira 200.000 perempuan Asia dan Belanda.

Hari-hari Suram di Bawah Militerisme Jepang

Militer Jepang telah membakar banyak dokumen yang bisa menjadi bukti kejahatannya selama perang. Tapi, ada bukti paling otentik dari sistem perbudakan seksual yang tak bisa dihancurkannya begitu saja. Dialah Suharti—penyintas sistem ianfu yang pernah disekap dalam ianjo yang dibangun oleh Nakasone pada 1944.

Saya mengenalnya sejak 1999 silam—semasa dia menetap di Yogyakarta. Suharti berasal dari Jawa Timur. Sebelum Sekutu meluluhlantakkan Kota Balikpapan, Suharti terjebak di salah satu ianjo di sana selama sembilan bulan. Belakangan, atas desakan anak-anaknya, Suharti pindah lagi ke Balikpapan.

Bukan hal mudah bagi Suharti untuk terbuka soal masa lalunya yang pahit. Tapi akhirnya, setelah sembilan tahun menjalin persahabatan, dia bersedia membagi kisah pahitnya kepada saya.

Pada 1944, Suharti—saat itu berusia 15 tahun—dan puluhan perempuan muda sebayanya diambil paksa dari desanya. Kala itu, dua perangkat desa mendatangi rumah orang tuanya dan meminta Suharti "bekerja" untuk Jepang. Ayahnya sempat menolak dengan alasan Suharti buta huruf dan tidak bisa bekerja.

“Ini perintah Jepang!” desak keduanya.

Warga desa sudah sering mendengar kekejaman kenpeitai kepada orang-orang yang menolak perintah Jepang. Maka, dengan terpaksa orang tua Suharti merelakannya bekerja untuk Jepang.


Suharti dan rombongannya lantas diberangkatkan ke Surabaya dengan truk militer Jepang. Setelah menunggu dua hari di sana, mereka dilayarkan ke Borneo dengan kapal kayu bernama Nichimaru. Setibanya di Borneo, kapal Nichimaru hanya menurunkan 14 perempuan termasuk Suharti. Sementara itu, 36 perempuan lainnya melanjutkan perjalanan ke tujuan yang tidak diketahui.

Saat itulah mimpi buruk bermula. Suharti dan tujuh temannya lalu ditempatkan di Rumah Panjang yang dijadikan ianjo di pusat Kota Balikpapan. Mereka menyebutnya demikian karena rumah papan yang terlihat baru dibangun itu berbentuk memanjang.

Mereka menjalani hari-hari suramnya sebagai ianfu dengan nama-nama baru yang dipaksakan. Nama Suharti kini berubah menjadi Miki. Demikian pula temannya, Sulasmi menjadi Kyoko. Suharti hanya bisa pasrah karena tidak kuasa menolak. Melarikan diri pun muskil karena ianjo dijaga ketat tentara Jepang sepanjang waktu.

Setiap hari Suharti dipaksa melayani nafsu belasan laki-laki yang datang. Suharti sudah mati rasa. Bahkan, berbagi cerita pilu kepada teman sebelah kamar pun dia tidak sanggup karena merasa tak ada gunanya.

Situasinya makin sulit menjelang 1945. Ketika berita kekalahan perang Jepang mulai tersiar, pasokan makanan bagi penghuni ianjo pun mulai tersendat. Suharti dan kawan-kawannya pun mulai dilanda kelaparan.

Suasana di luar ianjo juga makin memanas. Siang dan malam tiada hentinya terdengar dentuman bom yang dijatuhkan Sekutu untuk menghancurkan kekuatan militer Jepang di Balikpapan. Sekutu juga melakukan aksi bumi hangus terhadap kilang minyak di kota itu. Dari kamarnya, Suharti hanya dapat melihat asap hitam membumbung tinggi menyelimuti kota yang terbakar dengan perasaan tercekam.

Beberapa waktu berlalu hingga penjaga loket Rumah Panjang yang bernama Usman mengabarkan bahwa Jepang kabur ke pedalaman karena dikalahkan sekutu. Mengertilah mereka, mengapa lambat laun para tamu yang biasa datang lenyap bak ditelan bumi. Tinggallah suram menanti mereka yang hidup tersekap di tanah asing.

Suharti dan enam temannya yang sudah bersama-sama sejak di kapal Nichimaru lantas memutuskan kembali ke tanah Jawa dengan cara apa pun. Namun, itu bukan perkara mudah. Berdasar informasi dari Usman, tak ada lagi kapal laut berlayar ke Jawa karena peperangan. Tak habis aka, mereka pun memutuskan untuk menempuh jalan darat.

Tujuan pertama Suharti dan rombongannya adalah Banjarmasin—yang dianggap lebih dekat ke daratan Jawa. Tanpa memikirkan jarak dan sulitnya medan, mereka menempuh rute Balikpapan-Banjarmasin berjalan kaki. Sebelum rombongan Suharti pergi, Usman memberi mereka sebuah alamat di Telawang untuk dicari setibanya di Banjarmasin.

Sejak itu dimulailah perjalanan panjang mereka menerobos hutan belantara. Mereka memakan apa saja untuk bertahan hidup. Di beberapa kesempatan rombongan singgah di kampung Dayak. Warga membantu mereka dengan makanan yang lebih layak serta tumpangan menginap. Orang-orang Dayak juga membantu menunjukan arah ke Banjarmasin.

Penderitaan selama perjalanan mereka lalui dengan ketabahan luar biasa. Pada hari ke-52 sejak memulai perjalanan itu, tibalah rombongan Suharti di wilayah Banjarmasin.

Mereka juga berhasil menemukan alamat pemberian Usman di Telawang. Tapi, alangkah terkejutnya mereka kala mendapati tempat itu adalah ianjo lainnya. Orang setempat menyebutnya Asrama. Ukurannya bahkan lebih besar dengan 24 kamar untuk para ianfu.

Di sanalah rombongan Suharti yang terlunta-lunta mendapat pertolongan kawan-kawan dari Jawa yang senasib. Mereka terpaksa kembali jadi budak seks sampai mereka punya kesempatan pergi meninggalkan Kota Banjarmasin.

Di tempat ini, Suharti mengenal Mardiyem, penyintas yang telah berjuang di berbagai forum nasional dan internasional demi menuntut keadilan bagi seluruh korban praktik ianfu. Keduanya lalu bersahabat dan berjuang bersama menuntut pertanggungjawaban pemerintah Jepang hingga Mardiyem tutup usia 2008.



Mengejar Kata Maaf

Nakasone boleh saja punya kuasa, tapi Suharti tak jua gentar. Saya ikut mendampinginya kala berkunjung ke lima kota di Jepang untuk betemu dengan masyarakat Jepang. Pada 2009, dia bahkan mendatangi kantor Nakasone di Sabo-Kaikan, Tokyo.

Kunjungan itu terjadi berkat upaya gigih Kimura. Meskipun sempat diwarnai ketegangan, kami berhasil membuat janji pertemuan dengan sekretaris kantor Nakasone. Dalam pertemuan ini, Kimura sebagai juru bicara menyampaikan bahwa Suharti datang untuk mendengar dan menerima permintaan maaf dari Nakasone.

Dengan ekspresi datar si sekretaris menanggapi Suharti, “Perang selalu menginjak-injak hak asasi manusi dan menghancurkan kehormatan perempuan. Jadi kalau dunia ini ikut pada pikiran Pak Kimura, maka banyak orang akan masuk penjara.”

Sekretaris itu juga menekankan undang-undang internasional tidak menolak adanya perang untuk mempertahankan perdamaian. “Jadi kalau menurut Pak Kimura perang menjadi ilegal dan melanggar hukum, maka pikiran ini sangat berbahaya,” imbuhnya.

“Saya ingin katakan—bukan bermaksud setuju dengan sistem ianfu, tapi saya kira kalau kita mempersoalkan masalah ianfu seperti Pak Kimura, maka masyarakat Jepang akan tergucang dan dunia ini akan hancur.”

Tanggapan arogan itu kian mengecewakan karena Nakasone tak dapat hadir dengan dalih jatuh sakit. Nakasone yang pernah menjadi orang nomor satu di Jepang rupanya tidak berani bertemu muka dengan Suharti yang berkursi roda.

Suharti tak datang sia-sia ke kantor Nakasone. Justru Nakasone-lah yang merugi sebab membuang kesempatan emas memohon maaf kepada Suharti. Citra moralnya tak akan pulih sampai ia berani mengakui kejahatan perangnya terhadap Suharti dan penyintas lain.

==========

EkaHindra (Eka Hindrati) adalah peneliti Independen "ianfu" Indonesia. Bersama Koichi Kimura menerbitkan buku Momoye Mereka Memanggilku (2007)

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya EkaHindra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: EkaHindra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight