Perjuangan Diplomasi Indonesia Membungkam Kekuatan Militer Belanda

Oleh: Petrik Matanasi - 5 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Dalam Perang Kemerdekaan, militer Belanda unggul dari Republik. Namun, jalan diplomasi akhirnya menyingkirkan Belanda dari tanah air.
tirto.id - Setelah 1946, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda (NICA) yang semi militer memperkuat armada perangnya. Selain mendatangkan tiga divisi dari Angkatan Darat Kerajaan Belanda alias Koninklijk Landmacht (KL), Belanda juga merekrut orang-orang Indonesia dan bekas tawanan Jepang ke dalam tentara kolonial Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL).

Di bawah komando panglima tertinggi tentara Belanda di Indonesia, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor, pada pertengahan 1947 wilayah Republik diserang militer Belanda dalam Operasi Produk atau Aksi Polisionil atau orang Indonesia menyebutnya Agresi Militer Belanda I.

Belanda dengan cepat menduduki kota-kota penting di Jawa dan berharap dapat memperkuat kembali perekonomiannya. Pasukan Republik terdesak. Begitu pula saat dilancarkan Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Langkah diplomasi pun beberapa kali gagal: Linggarjati dan Renville dilanggar.

Para petinggi militer Indonesia yang terdiri dari bekas perwira KNIL dan PETA--selama berlangsung proses diplomasi--mempersiapkan diri dengan meningkatkan kewaspadaan dari serangan-serangan mendadak Belanda. Perang gerilya menjadi pilihan terbaik untuk mengimbangi kekuatan militer Belanda.

Sebelum punya kekuatan yang cukup besar, NICA datang ke Indonesia nyaris hanya dengan modal dengkul. Setelah Sekutu memenangkan Perang Dunia II, tentara Inggris hadir di Indonesia bagian barat dan tentara Australia di Indonesia bagian timur. Keduanya dijadikan sebagai tameng oleh Belanda. Saat didirikan di Australia, NICA baru punya beberapa batalion infanteri.

Setelah Oktober 1945, Belanda mulai merekrut bekas tawanan yang pernah disengsarakan Jepang waktu Perang Dunia II, di antaranya bekas pegawai perkebunan dan bekas anggota KNIL yang pernah aktif sebelum tahun 1942. Mereka dipersenjatai kembali.

Tidak sulit membuat mereka mau bergabung kembali dengan KNIL. Republik Indonesia yang oleh Belanda dianggap sebagai hadiah dari Jepang, serta kerusuhan sosial seperti Masa Bersiap yang mengerikan bagi orang Indo dan Belanda, dengan segera mempunyai musuh yang hendak membalas dendam.

Di antara penyintas Masa Bersiap yang dendam kepada orang-orang Republik, seperti dicatat R.H.A. Saleh dalam Mari Bung, Rebut Kembali! (2000:86-87) banyak yang bergabung ke dalam batalion infanteri kelima KNIL yang dibentuk pada 2 Desember 1945 dan dikenal sebagai Batalion Andjing NICA.


Selain itu, sepanjang Perang Kemerdekaan 1945-1949, banyak juga orang Indonesia yang direkrut menjadi tentara Belanda dan berperang melawan saudaranya sendiri yakni para gerilyawan Republik.

“Sampai tahun 1945, persentase rakyat Indonesia yang melek huruf barulah sekitar 10 persen,” tulis Ahmad Syafii Maarif dalam Islam dan Politik: Upaya Membingkai Peradaban (1999;112). Artinya, tingkat buta huruf di Indonesia kala itu sangat tinggi. Jangankan memahami arti pentingnya negara Republik Indonesia, rakyat bahkan banyak yang tak paham apa itu kemerdekaan, terutama yang tinggal di luar Jawa.

Buta huruf yang menyebabkan buta politik juga disertai dengan kondisi ekonomi yang buruk. Hal inilah yang menyebabkan mereka mudah direkrut untuk menjadi petempur di pihak Belanda. Orang Indonesia yang menjadi serdadu Belanda dalam Perang Kemerdekaan tidak hanya orang-orang Maluku dan Minahasa, tapi juga terdapat orang Jawa dan Sunda. Selain itu, ada juga bekas pejuang di sekitar Bekasi-Jakarta Timur yang pada 1947 direkrut menjadi milisi HAMOT--setelah kecewa pada TNI karena melucuti senjata mereka.


Infografik Kenapa Tentara Belanda Lebih Unggul
Infografik Kenapa Tentara Belanda Lebih Unggul Daripada Indonesia. tirto.id/Fuad


Hingga akhir 1946, seperti dicatat CA Heshusius dalam Gedenkschrift Koninklijk Nederlands Indisch Leger 1830-1950 (1990:55-56), KNIL sudah berkekuatan 23 batalion infanteri yang kebanyakan tersebar di Jawa. Bantuan tempur seperti satuan zeni, artileri, kavaleri, kesehatan, dan satuan pendukung teknis lainnya pun tersedia, baik personelnya maupun peralatannya.

Sementara Republik, tidak memiliki satuan-satuan bantuan tempur. Pendidikan militer para perwiranya pun kalah dari militer Belanda. Secara jumlah, tentara Belanda boleh jadi kalah, namun secara persenjataan dan peralatan jauh lebih baik. Tentara Republik, seperti diakui Letnan Kolonel Adolf Lembong kepada Arsenio Lucson dalam Manila Times (15/11/1948), punya bermacam-macam senjata rampasan tapi amunisinya terbatas.

“Kami hanya tentara miskin. Tetapi jika Belanda menyerang kami, kami akan bertempur. Kami akan memecah dalam kelompok kecil. Tak ada komunikasi teratur, melakukan sabotase, dan taktik bumi hangus,” ujarnya.

Pernyataan Lembong itu barangkali mewakili apa yang dipikirkan banyak perwira Republik bahwa Belanda bisa menyerang kapan saja. Dan bertempur secara gerilya dengan satuan-satuan kecil adalah satu-satunya cara untuk terus melawan.

Sebulan lebih setelah pernyataan Lembong dimuat, Belanda menggelar Agresi Militer II dan dalam hitungan jam ibukota RI diduduki serta para pejabatnya ditawan. Tentara Indonesia yang kocar-kacir terus melawan dengan bergerilya ke pergunungan dan hutan. Taktik gerilya membuat TNI sulit dihancurkan sampai habis oleh tentara Belanda.

Agresi Militer II yang dimulai pada 19 Desember 1948 itu memang dimenangkan Belanda, namun secara diplomasi merugikan mereka. Dunia internasional menganggap langkah Belanda salah. Maka setahun setelah operasi militer itu Belanda kalah di meja perundingan. Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight