Perjalanan yang Mengubah Jason Ranti dan Melahirkan Jalan Ninja

Penulis: Gita Wiryawan - 15 Mei 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Jason Ranti merilis Jalan Ninja setelah melakukan perjalanan ke arah timur.
tirto.id - Saya memiliki seorang kawan yang melakukan perjalanan saat dunianya runtuh. Pada hari-hari terberatnya, sang kawan menyalakan mesin motornya dan menjelajah dari bagian barat pulau Jawa hingga ke ujung timur, kemudian menyeberang hingga ke pulau Lombok. Di sana dia mendirikan tenda dan berkemah untuk beberapa lama. Setelahnya, dia beroleh kesimpulan bahwa hidup baik-baik saja meski kadang tidak berputar sesuai rencana.

Belum lama ini, Jason Ranti juga melakukan perjalanan seperti kawan saya di atas. Melalui kanal YouTube Departemen Penerangan Jason Ranti, Jeje – panggilan akrabnya – menjelaskan bahwa dia pergi dalam waktu yang cukup lama untuk “menepi”. Rute kepergiannya pun nyaris sama seperti kawan saya, dari barat menuju timur. Pada selang waktu itu, Jeje bertemu dengan banyak orang di banyak kota sebelum akhirnya memutuskan untuk membuat album baru walau sebelumnya tidak direncanakan.

Album baru Jason Ranti tersebut dia beri nama Jalan Ninja. Setelah mendengar kisah perjalanan dan lagu-lagunya di album ini, Jeje terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha healing. Mungkin istilah tersebut terdengar seperti bocah yang tidak bisa menahan diri untuk mengeluh tentang apapun di media sosial. Namun coba kau putar lagu-lagunya di Jalan Ninja. Di sana kau akan mendengar cerita tentang perjalanannya menemukan diri sendiri. Bukankah hal itu terdengar seperti orang yang tengah kelelahan mental dan butuh istirahat?

https://open.spotify.com/album/1bbFGnUXjLCGBj5zROD35K?si=wFuX_h6mRYqhutnAiSarmw

Tapi baiklah. Tulisan ini tidak sedang bercerita tentang Kunto Aji atau Hindia yang belakangan memperoleh stempel pemerhati kesehatan jiwa oleh para pendengarnya. Ini adalah tentang Jason Ranti, seorang solis dengan brand image pemuda bandel yang gemar merusak ketenangan berpikir.

Melalui dua album pertamanya, Akibat Pergaulan Blues (2017) dan Sekilas Info (2019), dia memperoleh banyak penggemar yang langsung menyandingkannya dengan Pidi Baiq, Iwan Fals, hingga Bob Dylan. Bahkan, beberapa orang tidak ragu menjulukinya sebagai nabi folk Indonesia meski Jeje kerap ngotot menolak labelisasi genre terhadap musiknya. Penolakannya semakin menegaskan posisi dirinya sebagai anti kemapanan meski dia bukanlah seorang anak punk.

Dengan mendengarkan musik-musiknya yang lampau, atau mungkin baru sekarang mendengarnya juga tak apa – terlambat bukan hal yang memalukan-- kau mungkin akan memaklumi antusiasme pendengar Jeje terhadap musik-musiknya.

Mari kita coba tengok barang satu atau dua lagunya yang mungkin paling dikenal. Di lagu "Bahaya Komunis" dalam album Akibat Pergaulan Blues, misalnya, Jeje mendongeng tentang seseorang yang memiliki kewaspadaan berlebih, kalau tidak mau dibilang ketakutan, terhadap bangkitnya komunis di tanah air. Semua simbol mulai dari warna merah hingga benda yang melambangkan palu dan arit dianggap pertanda komunis mulai bangkit.

Lagu "Bahaya Komunis" kerap dibaca sebagai sindiran Jeje terhadap orang, organisasi, maupun entitas yang mengidap fobia terhadap komunisme walau paham tersebut (utamanya di Indonesia) sudah usang dan teronggok berdebu. Album berikutnya tidak kalah menyentak, contohnya melalui lagu "Kafir". Di lagu ini Jeje seolah sedang melakukan protes atas penghakiman terhadap orang-orang yang memiliki cara ibadah yang berbeda.

Jika berharap Jalan Ninja menjadi lanjutan “perlawanan” Jeje, barangkali pendengarnya selama ini akan kecewa. Tidak seperti lagu-lagunya terdahulu yang bisa merepresentasikan kegelisahan banyak orang, sekarang Jeje lebih banyak melakukan introspeksi diri.

Infografik Jason Ranti
Infografik Jason Ranti. tirto.id/Sabit


Di satu lagu, misalnya, dia bercerita tentang istrinya yang ngambek karena dia tak kunjung pulang ("Penawar Rasa Ngambek (Baru)" yang merupakan daur ulang dari lagu berjudul sama di album Sekilas Info). Di lagu lain dia mengutarakan kerinduannya kepada ibu menjelang tiap tidurnya ("Nina Bobo"), lantas menyanyikan hal lain lagi seperti cinta dan jalan hidup manusia yang berbeda-beda ("Jalan Ninja").

Album Jalan Ninja menarik karena dia menawarkan sisi personal Jason Ranti, sekaligus menyajikan corak yang sedikit berbeda. Musiknya menjadi lebih mewah dan berwarna, contohnya di "Kadang Jakarta Jadi Ungu" dan "Manhattan – Blok M". Barangkali hal tersebut dapat terwujud karena kehadiran kawan-kawannya yang turut andil dalam mengisi beberapa lagu. Ya, kali ini Jeje tidak "sendiri". Layaknya tokoh anime, dia ingin menunjukkan ada yang lebih penting dari skill individu, yaitu kekuatan pertemanan.

Dalam banyak wawancara, Jeje berulang kali menegaskan ketidakpeduliannya pada label atau genre sembari berkata bahwa dia hanya ingin berkarya. Namun setidaknya mulai album Jalan Ninja, Jeje sudah tidak hanya berkutat di sekitar dirinya sendiri.

Dia mulai peduli pada target pasar dan pendengar sehingga dia memutuskan untuk mengedarkan karyanya di layanan streaming, alih-alih ngotot tetap berada di jalur rilisan fisik. Karena, tentu saja, karya musik yang baik adalah karya yang didengar oleh banyak orang.

Hal lain yang juga membedakan Jeje di album ini adalah dia, entah kenapa, lebih banyak bermain rima dan diksi serius ketimbang hanya sekadar omongan nakal nan genit khas remaja. Beberapa kata nampak seperti dikoreksi dan diganti terlebih dahulu oleh Dadang Pranoto, personel Dialog Dini Hari yang jadi produser Jalan Ninja.

Buat sebagian pendengar, ini adalah hal yang bagus karena menunjukkan adanya perkembangan karakter. Namun sebagian lain yang mampir dan berhenti di lagu Jeje karena musiknya yang bohemian bisa jadi akan mengernyitkan dahi. Untuk golongan kedua inilah lagu seperti "Sabda Tiang Listrik" tetap dimunculkan di Jalan Ninja untuk menjadi penyelamat. Pukulan di liriknya dan petikan gitarnya terasa “Jeje banget”; tidak peduli aturan, menabrak nada, dan masa bodoh.

Perjalanan panjang bisa mengubah orang. Bob Dylan sempat bertanya dalam "Blowin’ in the Wind": how many roads must a man walk down before you call him a man? Pertanyaan ini mengonfirmasi adanya perubahan yang terjadi ketika seseorang menyelesaikan pengembaraan. Kawan saya di awal cerita mulai mengumpulkan kembali sedikit demi sedikit patahan hatinya sepulang dari perjalanannya. Dan kini, Jason Ranti berhasil melahirkan sebuah album yang penuh refleksi.

Sama seperti arah pengembaraan yang diambil Jeje, dari barat ke timur, yang melambangkan arah terbit matahari, ini adalah momen kelahiran barunya: perjalanan memang bisa melahirkan orang yang baru, pola pikir baru pula. Jalan Ninja mungkin jadi bukti sahihnya.

Baca juga artikel terkait JASON RANTI atau tulisan menarik lainnya Gita Wiryawan
(tirto.id - Musik)

Penulis: Gita Wiryawan
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight