Obituari

Perjalanan Kuntara, dari Tentara hingga Duta Besar Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 27 Agustus 2021
Dibaca Normal 3 menit
Kuntara, jenderal yang meninggal dunia 21 Agustus lalu, pernah menjadi Duta Besar RI di Tiongkok. Karier militernya berakhir di Pangkostrad.
tirto.id - Kehidupan Letnan Jenderal Kuntara tidak jauh dari Tiongkok dan Tionghoa. Dia dibesarkan di lingkungan orang-orang berbahasa Mandarin. Setelah pensiun, dari 1997 hingga 2001—dari masa Soeharto, Bacharuddin Jusuf Habibie, dan Abdurrahman Wahid—dia menjalankan tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok.

Menurut Indonesia Kini & Masa Depan (2006:181), menjadi duta besar sebenarnya adalah mimpi orang tua. Karena itulah Kuntara kecil dimasukkan ke sekolah Tionghoa. Waktu itu ia tentu belum tahu apa itu duta besar.

Kuntara menjadi duta besar di masa yang tidak gampang, ketika Indonesia sedang krisis moneter. Di sisi lain, sejak 1990-an, Tiongkok mulai bangkit sebagai negara industri yang produknya sudah sampai ke negeri orang, termasuk di pasar Indonesia. Saat ini hubungan kedua negara terus terjalin dan barang “made in China” yang masuk tentu jauh lebih banyak.

Kuntara, yang lahir pada 1 September 1939 di Cirebon, disebut Ken Conboy dalam Kopassus: Inside Indonesia's Special Forces (2003:182) memiliki darah campuran Tionghoa. Sementara Current Data on the Indonesian Military Elite October 1, 1995-December 31, 1997 (dirilis Universitas Cornell) menyebut ia adalah Tionghoa muslim. Namun sumber lain, Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran (2014:205) yang disusun Iwan Santosa, tak memasukkan nama Kuntara. Ketionghoaan Kuntara diragukan di situ, apalagi sulit menemukan keturunan Tionghoa dengan jabatan mentereng seperti Kuntara. Di era orde baru, sentimen anti-Tionghoa menjangkiti sebagian rakyat Indonesia.

Bermodal ijazah SMA negeri bagian B (IPA), ia mendaftar ke Akademi Militer Nasional (AMN) pada 1960 dan diterima. Waktu itu, di AMN terdapat taruna Tionghoa yang kemudian lulus bahkan ada yang menjadi jenderal. Kuntara dengan lancar melalui tahun-tahun pendidikannya dan lulus pada 1963. Lulus dari AMN, dia menjalani pendidikan kecabangan dari kesenjataan infanteri.

“Dari situ saya mengikuti tes ke pendidikan khusus dan diterima sebagai perwira RPKAD (Kopassus). Dari bertugas di Kopassus mulai pangkat terendah hingga Komandan Kopassus,” aku Kuntara di Indonesia Kini & Masa Depan (2006:181).


Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009:137) menyebut Kuntara ditempatkan bersama Sintong dan Wismoyo Arismunandar di sebuah kompi yang dipimpin oleh Letnan Satu Feisal Tanjung (kelak Jenderal Panglima ABRI). Kompi itu disebut “Kompi Tanjung” dan berbasis di dekat Solo, Jawa Tengah.

Saat menjadi letnan di RPKAD, Kuntara pernah terlibat dalam Operasi Wibawa pada 1969 di Papua, yang tujuan utamanya adalah “mengamankan” Pepera dan dan menghancurkan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kuntara juga bertugas di Pulau Biak, memimpin sebuah tim, di mana Kapten Feisal Tanjung menjadi atasannya. Namun Conboy (2003:183) mencatat di sana Kuntara tidak menghadapi banyak perlawanan, kecuali ketika anak buahnya hendak menurunkan bendera OPM.

Ketika ABRI terlibat dalam operasi militer di Timor Leste (yang kala itu disebut Timor Timur oleh Indonesia), Kuntara tentu saja terlibat. Setidaknya, seperti dicatat Hendro Subroto (2009:59), ia pernah menggantikan Sintong untuk dikirim ke medang perang. Kala itu pangkatnya masih mayor.

Hubungan dengan Sintong juga terjalin dalam operasi pembebasan sandera di pesawat garuda Woyla pada 1981. Hendro Subroto (2009:268) menyebut Kuntara ditugaskan menyiapkan kebutuhan peralatan dalam penyerbuan tim anti teror, sementara Sintong memimpin operasi.

Pasukan sintong memakai peluru khusus. Masalahnya, peluru low velocity dari senapan H&K MP5 itu ternyata macet dalam sebuah uji coba di Bandara Halim Perdanakusuma. Pasukan pembebas sandera pun belum bisa diberangkatkan. Letnan Jenderal Benny Moerdani lalu memerintahkan Letnan Kolonel Kuntara mengambil peluru terbaru di markas Benny di Tebet. Setelah perintah dilaksanakan, barulah pasukan terbang ke Bangkok dan operasi terbilang sukses.

Pada 1980-an, Kuntara sudah termasuk perwira elite, tepatnya Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Di zaman Panglima ABRI Benny Moerdani, ia diangkat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Pangkatnya harus naik dari kolonel ke brigadir jenderal. Menurut catatan Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia? Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1988:174), Kuntara dilantik pada 8 Agustus 1987 di Cijantung. Jabatan itu disandangnya hingga Juli 1992.

Sebelumnya jabatan itu diisi oleh Sintong Panjaitan dan Wismoyo Arismunandar—keduanya satu angkatan dengan Kuntara di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang. Kuntara pernah menjadi wakil dari dua danjen itu.


Infografik Kuntara
Infografik Kuntara 1939 2021. tirto.id/Fuad


Setelahnya Kuntara diberi jabatan yang juga cukup penting, yakni Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Kuntara menggagantikan Wismoyo Arismunandar yang memimpin pasukan itu selama dua tahun. Disebut-sebut bahwa perjalanan karier Kuntara Prabowo Subianto, yaitu tidak pernah menjadi panglima Komando Daerah Militer (Kodam).

Ketika menjadi Pangkostrad, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) adalah Jenderal Edi Sudradjat. Edi Sudradjat, sang atasan, menyebut Kuntara adalah orang yang punya “kapasitas untuk kepemimpinan Kostrad.”

Mimbar Kekaryaan ABRI edisi 259 Juli 1992 (hlm70-71) menyebut serah terima dilakukan pada 29 Juli 1993. Jabatan ini melekat padanya hingga 1994.

Di tahun 1994 Kuntara sudah berusia 55. Pada usia itu biasanya seorang perwira TNI pensiun. Demikian pula Kuntara. Dia pensiun dengan jabatan terakhir Pangkostrad dan pangkat akhir letnan jenderal. Setelah pensiun, Kuntara sempat menjadi komisaris di PT Indocement Tunggal Prakarsa sebelum akhirnya menjadi duta besar.

Kuntara tutup usia pada 21 Agustus 2021 lalu. Ia mengembuskan napas terakhir pukul 16.10 di Rumah Sakit Pusat TNI AD (RSPAD) Gatot Soebroto karena sakit.

Baca juga artikel terkait DANJEN KOPASSUS atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Rio Apinino
DarkLight