Periode 2016-2019, Hanya 92 Proyek Strategis Nasional yang Rampung

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 28 Desember 2019
Realisasi proyek strategis nasional (PSN) hanya mencapai 92 dari total 223 proyek dan 3 program sepanjang tahun 2016-2019.
tirto.id - Sepanjang 2016-2019 realisasi proyek strategis nasional (PSN) hanya mencapai 92 dari total 223 proyek dan 3 program. Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) mencatat dari ke-92 PSN itu, nilai investasinya menyentuh Rp467,4 triliun dari total Rp4.202 triliun.

“Dari 223, 92 sudah selesai. Masih banyak (yang belum selesai) tapi 88 persen sudah tahap konstruksi,” ucap Ketua Tim Pelaksana KPPIP Wahyu Utomo kepada wartawan saat ditemui di Jakarta, Jumat (27/12/2019).

Wahyu mengatakan per tahun 2019 ini ada 30 proyek yang diselesaikan dengan nilai investasi Rp165,3 triliun. Rinciannya terdiri dari 4 bandara, 4 bendungan, 9 jalan, 6 kawasan, 2 kereta api, 1 pelabuhan, 2 smelter, dan 2 teknologi.

Jumlah penyelesain terbanyak lainnya terjadi di 2018 sebanyak 32 proyek. Dari total PSN itu, ada 12 proyek yang akan dikerjakan lagi (carry over) di 2020.

Wahyu menjelaskan selama mengerjakan proyek ini mereka kerap menemui kendala yang paling utama adalah pembebasan tanah. Contoh lainnya, tumpang tindih lahan dan persoalan tata ruang.

Kendati lebih dari separuh proyek belum selesai, Wahyu mengaku optimistis bila semua proyek ini dapat selesai sebelum periode kedua Presiden Joko Widodo berakhir.

“Kami harap 2-3 tahun itu paling enggak sudah harus selesai semua,” ucap Wahyu.

Menurut Wahyu, pemerintah bahkan berencana menambah PSN yang akan dikerjakan. Namun, ia belum dapat memberitahu detailnya karena rencana itu harus dibawa ke dalam rapat terbatas dan diterbitkan peraturan presiden.

“Menko (yang menangani PSN) bilang kemungkinan (tambah) tapi kami harus susun kriteria. Kami presentasikan ke menko,” ucap Wahyu.


Baca juga artikel terkait INFRASTUKTUR atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight