Peringatan SBY Soal Politik Identitas dan Kenyataannya di GBK

Oleh: Riyan Setiawan - 7 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
SBY menduga kampanye akbar Prabowo di GBK hari ini cenderung inklusif dan kental memainkan politik identitas.
tirto.id - Salah satu isu yang menerpa calon presiden Prabowo Subianto adalah identitas keagamaannya. Ini misalnya mengemuka ketika Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra bicara dalam acara News Maker di Metro TV, 14 Februari lalu.

Yusril bilang kalau Rizieq Shihab, pentolan FPI yang juga motor penggerak pencalonan Prabowo dan Sandiaga Uno, pernah meragukan keislaman Prabowo.

"Saya komunikasi sama Habib Rizieq," aku Yusril dalam acara itu. "Prabowo itu Islamnya enggak jelas," kata Rizieq sepenuturan Yusril.

Pernyataan ini kemudian disanggah langsung oleh Rizieq. Pentolan FPI itu lantas membuat klarifikasi lewat video yang diunggah ke Youtube Front TV, Senin (1/4/2019) lalu. Dia menyatakan kalau pengakuan Yusril bohong belaka.

Sebelum Yusril, La Nyalla Mahmud Mattalitti juga mengatakan hal serupa. Bekas kader Gerindra ini bilang bahwa Prabowo tak begitu paham ajaran Islam, apalagi jika dibanding Joko Widodo, lawannya di Pilpres 2019 yang berstatus petahana.

"Pak Prabowo berani suruh mimpin salat? Enggak berani. Ayo kita uji keislamannya Pak Prabowo. Suruh Pak Prabowo Baca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, baca bacaan salat," katanya, pertengahan Desember lalu.

Pendukung Prabowo sendiri sebetulnya telah berkali-kali membantah. Dan dalam kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (7/4/2019), dia seperti hendak menegaskan status keislamannya di hadapan publik.


Kecurigaan ini diutarakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin.

"Itu [kampanye akbar] yang bisa dijadikan jualan Prabowo untuk unjuk kekuatan. Bahwa satu, menciptakan [kesan] bahwa dia Islam; dua, bahwa kami didukung umat Islam, dan kehadiran umat Islam cukup banyak," ujarnya kepada reporter Tirto

Dugaan serupa bahkan dikatakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang partainya, Demokrat, sebetulnya bergabung dalam koalisi Prabowo.

Dalam surat yang ditujukan untuk Ketua Wanhor Demokrat Amir Syamsuddin, Waketum Demokrat Syarief Hasan, dan Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan, SBY menyebut kampanye ini tak lazim dan eksklusif.

"Menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif," kata SBY. SBY mengatakan seharusnya kampanye itu tak perlu ada "show of force" identitas--termasuk di dalamnya identitas agama.

Apa yang dikatakan Ujang dan bahkan SBY terasa betul ketika reporter Tirto meliput kampanye ini sejak subuh. Nuansa Islam begitu terasa, misalnya ketika massa menyanyikan selawat, atau sebagian besar yang datang mengenakan pakaian muslim.

Prabowo, juga Sandiaga Uno, memulai kampanye dengan menggelar salat subuh bersama dengan peserta lain. Keduanya memakai busana muslim putih dengan peci hitam.

Paslon nomor urut 02 itu berdiri di saf paling depan bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Presiden PKS Shohibul Iman, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ahma Muzani, dan beberapa tokoh lain. Salat ini diimami oleh Ketua DPP FPI, Shobri Lubis.


Pernyataan bahwa status keislaman Prabowo jelas bahkan secara eksplisit dinyatakan Wakil Ketua Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Cholil Ridwan. Cholil adalah satu dari beberapa tokoh yang berpidato dalam kampanye.

"Saya Cholil Ridwan, dua periode menjadi Ketua MUI pusat, dua periode Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia, dua periode menjadi pimpinan umum Pesantren Husayain. Menyaksikan kalau ada orang mengatakan Islamnya Prabowo enggak jelas, maka saya bersaksi, saya bersumpah, Prabowo pernah bersama saya 15 hari di perjalanan di Timur-Tengah. Saya banyak salat subuh ke masjid, dia keluar dari hotel, saya bangunkan salat jemaah subuh di masjid. Maka Prabowo adalah Islamnya sangat jelas," ujar Cholil (orasi dimulai di 4:02)

Sementara Rizieq Shihab, yang suaranya diputar di stadion, juga menegaskan hal serupa. Ia, misalnya, bilang kalau "Prabowo-Sandi cinta dan hormat kepada ulama serta tegas menolak kriminalisasi ulama."

Rizieq juga bilang kalau Prabowo sandi "tidak memusuhi Islam dan agama lain" dan meminta hadirin untuk datang ke TPS. Dia menyebut ini sebagai "jihad."

"Ayo kita jihad kawal TPS, jihad jaga kotak suara, jihad wujudkan pemilu yang jujur dan adil."

"Kekhawatira SBY Jadi Nyata"


Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin Ace Hasan Syadzily mengomentari kampanye ini dengan mengaitkan dengan peringatan SBY. Ia mengatakan apa yang dikhawatirkan SBY benar-benar jadi nyata.

"Apa yang diingatkan oleh Pak SBY bahwa kampanye 02 eksklusif dan tidak lazim memang menjadi kenyataan hari ini di GBK," katanya, dikutip dari Antara.


Ia juga bilang kalau kubu 02 terlihat jelas ingin menonjolkan politik identitas untuk menggerakkan massa.

"Memang kubu 02 sudah miskin gagasan dan hanya mengandalkan politik identitas," tambahnya.

SBY sendiri tak datang dalam kampanye karena dia sedang ada di Singapura. Pun dengan AHY--yang juga ada di koalisi Prabowo. Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Nachrowi Ramli, menyebut anak SBY itu sedang "kurang sehat."

Namun hal ini dibantah penanggung jawab kampanye akbar, Prasetyo Hadi. Ia bilang kalau semangat yang dibawa dalam kampanye kali ini adalah semangat Pancasila.

"Kampanye akbar Prabowo-Sandi di GBK 100 persen kampanye identitas, yakni identitas Pancasila," kata Prasetyo dalam rilis resmi.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight