Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2019 Yogyakarta: Tradisi Larung Kali

Oleh: Yulaika Ramadhani - 28 Oktober 2019
Dibaca Normal 1 menit
Larung Kali di Sungai Gajah Wong merupakan bentuk rasa syukur masyarakat yang digelar saat Hari Sumpah Pemuda
tirto.id - Peringatan Sumpah Pemuda 2019 dirayakan dengan kegiatan unik “Larung Kali” di Sungai Gajah Wong yang juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari. Agenda ini diadakan oleh pemuda Kampung Balirejo Yogyakarta.

Sebagaimana diwartakan Antara, Ketua Pemuda Kampung Balirejo Nugroho Rusdianto menyebut agenda ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas sungai tempat mereka bekerja setiap harinya.

“Sungai ini menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga di sini memperoleh pendapatan dengan mencari pasir atau ada yang memperoleh ikan, udang, dan belut untuk lauk sehari-hari. Oleh karenanya, kami melakukan kegiatan ini di sungai,” katanya di sela-sela Larung Kali di Yogyakarta, Minggu (27/10/2019).

Dalam kegiatan Larung Kali tersebut, seluruh warga Kampung Balirejo tampil kompak dengan kostum surjan untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan. Sebuah gunungan yang terbuat dari beragam hasil bumi seperti padi, sayur, dan hasil sungai serta tujuh tumpeng nasi diarak di sepanjang jalan inspeksi tepi sungai.

Dengan diarak keliling kampung, Nugroho berharap, warga yang hari ini belum bisa mengikuti kegiatan Larung Kali akan tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut di tahun depan.

Setelah didoakan lintas agama, tumpeng pun dihanyutkan ke sungai.

“Kegiatan ini baru dilakukan untuk pertama kali dan harapannya bias digelar rutin tahunan,” katanya.

Ia mengatakan, semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda menjadi muara dalam Larung Kali tersebut yaitu meningkatkan kerukunan dan semangat gotong royong seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga sungai yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Menurutnya, Sungai Gajah Wong yang berada di perkotaan memiliki tantangan berupa potensi pencemaran yang semakin tinggi, baik limbah yang bersumber dari rumah tangga, pertanian,usaha jasa, hingga industri.

“Warga harus memiliki kesadaran untuk bersama-sama menjaga kelestarian sungai sehingga warga akan selalu memperoleh beragam manfaat dari keberadaan Sungai Gajah Wong,” katanya.


Selain untuk memupuk kerukunan antar warga dan semangat menjaga kelestarian sungai, Nugroho mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan untuk menjaga kebudayaan dan tradisi masyarakat Yogyakarta.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, Sumpah Pemuda mengajarkan kepada seluruh masyarakat bahwa pemuda di tahun 1928 sudah memiliki lompatan pemikiran yang sangat tinggi yaitu mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersatu.

“Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa adalah sebuah lompatan pemikiran yang luar biasa. Pemuda memiliki kesadaran untuk menyatukan seluruh bangsa Indonesia,” katanya.

Pada masa sekarang, lanjut Heroe, Sumpah Pemuda dapat dimaknai sebagai upaya untuk menuju kemandirian Indonesia.

“Tantangan yang dihadapi saat ini tentu berbeda. Pada zaman sekarang, teknologi yang berkembang sangat pesat bisa membantu kemandirian Indonesia, tetapi jika salah menggunakannya justru akan membuat bangsa Indonesia tidak bisa berkembang,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Heroe, teknologi harus digunakan secara hati-hati dan bijak sehingga bangsa Indonesia tidak hanya terjebak sebagai pengguna saja tetapi tidak memperoleh manfaat atau nilai tambah dari kemajuan teknologi yang berlangsung sangat pesat.






Baca juga artikel terkait HARI SUMPAH PEMUDA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Antara
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight