Pergi Umrah dan Mampir Turki Jadi Modus Deportan ISIS

Oleh: Adi Briantika - 20 Mei 2019
Dibaca Normal 1 menit
Untuk mengawasi deportan terduga teroris dari Suriah Polisi bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara dan Badan Intelijen Strategis.
tirto.id - Polri tidak bisa bekerja sendiri mengawasi deportan terduga teroris dari Suriah, pihaknya bekerja sama dengan instansi lain untuk pemantauan.

"Kami bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara dan Badan Intelijen Strategis," ucap Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Senin (20/5/2019).

Mereka melakukan asesmen terhadap warga negara yang keluar-masuk Indonesia.

Lanjut Dedi, jika mereka bepergian dengan menyertakan data diri yang lengkap maka tidak sulit dipantau, begitu sebaliknya.

"Bila mereka tidak lengkap (data diri) maka bisa disebut ilegal dan akan sulit (dipantau)," sambung dia.

Dedi mencontohkan deportan terduga teroris tidak berizin ke Suriah, melainkan umrah dan mampir ke Turki. Itu sebagai modus mereka.

"Saat berada di Turki, mereka mencoba menyusup ke perbatasan, ke Syria untuk bergabung dengan ISIS," jelas Dedi.

Hal itu menyulitkan petugas lantaran perbedaan izin pergi.

Ia menambahkan para terduga teroris itu tidak mungkin infiltrasi ke sebuah negara dengan cara legal.

Di Jamaah Ansharut Daulah (JAD) AD cabang Bandung, Jawa Barat, Khairul Anam ialah salah satu petinggi di kelompok tersebut. Khairul adalah deportan Suriah dan terlibat rencana teror.

Ketika pulang dari Suriah, Khairul dibiarkan otoritas Indonesia tanpa dikarantina. Sementara Syamsul Hadi menjadi salah satu dari tiga ulama berpengaruh di komite pusat JAD yang "mengafirkan" Aman Abdurrahman karena berbaiat pada ISIS.

Sementara, Munawar Kholil diduga sebagai "fasilitator", yakni menghubungkan dan mendanai, orang-orang Indonesia yang pergi ke Suriah.

Dalam dokumen internal yang dipegang redaksi Tirto, memuat ratusan WNI yang pergi ke Suriah, nama Munawar kerap muncul di kolom profil orang-orang Indonesia yang berangkat ke negara konflik dan markas Daulah Islamiyah itu.

Total, ada 16 kloter pengikut ISIS, terdiri 57 WNI, yang pergi ke Suriah via jalur Turki selama 2015 berkat peran Munawar.

Kebanyakan WNI itu adalah anggota Jamaah Ansharut Daulah dari berbagai daerah di Indonesia.

Ada yang berasal dari Bantul, Bima, Bogor, Cilacap, Depok, Demak, Jakarta, Karanganyar, Nganjuk, Sampang, Semarang, Sragen, Tangerang, dan Tegal. Orang-orang ini direkrut Munawar setelah diberi pemahaman tentang "jihad" dan terhasut propaganda di negeri khilafah.


Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Nur Hidayah Perwitasari