Menuju konten utama
Misbar

Perfect Strangers: Parade Liyan Kaum Urban

Perfect Strangers menggelitik, memanipulasi, memprovokasi, dan menelanjangi kedirian manusia yang secara sukarela memutuskan ikut bermain dalam wahananya.

Perfect Strangers: Parade Liyan Kaum Urban
Perfect Strangers. foto/Falcon pictures

tirto.id - Tujuh orang berkumpul bersama di bawah hamparan gerhana bulan. Satu demi satu, mereka mengorbankan diri masing-masing sebagai persembahan utama dalam balutan sebuah ritual pascamodernisme.

Ponsel tampil selaku pisau ajaib yang secara perlahan mendekonstruksi serta menguliti watak tiap-tiap individu sampai tiada darah yang tersisa untuk dituangkan. Yang tadinya intim sontak menjadi asing. Saat memasuki fase pamungkas ritual, mereka tinggal sekumpulan liyan (the other) bagi sesamanya.

Perfect Strangers, yang tayang di Prime Video 20 Oktober 2022 ini, tampak diniatkan untuk berkutat pada area tersebut. Ia menggelitik, memanipulasi, memprovokasi, bahkan menelanjangi kedirian manusia yang secara sukarela memutuskan ikut bermain dalam wahananya.

Ia memaksimalkan peran gawai sebagai alat yang kian mustahil terpisahkan dari langgam kehidupan manusia terutama di kawasan urban. Ia menyangkal privasi demi sebenar-benarnya kejujuran, seraya berupaya menunjukkan bahwa yang selalu dianggap keren, hebat, mewah, atau mentereng pada hakikatnya banal belaka.

Namun apakah yang namanya kebenaran telah benar-benar siap untuk diterima apa adanya? Apakah misteri tidak lebih catchy dan bikin horny?

Parade Ilusi

Pemahaman manusia terhadap konsep ‘mengenal’ mungkin adalah salah satu produk ilusi terbaik yang pernah hadir dalam khasanah peradaban spesies mereka. Tidak ada seorang pun yang secara utuh mampu mengenal dirinya sendiri, apalagi benar-benar mengenal sesamanya. Aroma skeptis inilah yang mengudara dalam film besutan Rako Prijanto yang merupakan remake dari film drama komedi Italia, Perfetti Sconosciuti (Paolo Genovese, 2016).

Tatkala Tomo (Vino G. Bastian) seorang guru yang baru saja dipecat, Imelda (Clara Bernadeth) seorang ibu rumah tangga penyayang anak yang fasih berbahasa Italia, Anjas (Denny Sumargo) seorang wiraswasta petualang, Wisnu (Adipati Dolken) seorang advokat kenamaan, dan Kesha (Jessica Mila) seorang dokter hewan menikmati santap malam di apartemen anyar milik Eva (Nadine Alexandra) seorang praktisi psikologi dan Enrico (Darius Sinathrya) seorang dokter bedah plastik, dorongan untuk mempertanyakan ulang konsep ‘pengenalan’ mulai mengintai.

Ketika gawai kemudian mengakselerasi dorongan dimaksud melalui serangkaian chat-telepon-pesan surel yang mampir dan otomatis menuntut klarifikasi dari sang pemilik gawai, keraguan atas ‘yang nyata’ dan ‘liyan’ semakin kuat.

Semua yang tersaji secara konkret di layar memang bersifat empiris: piring berisi hidangan, ponsel, manusia, gelas anggur, interior apartemen, rokok, kado, dan elemen-elemen kasat mata lainnya. Sementara ragam obrolan, kemesraan, memori masa lalu, isi gawai, tatapan mata, dan elemen-elemen tak kasat mata lainnya yang lebih esensial justru tidak bisa dikategorikan mentah-mentah sebagai kenyataan.

Konteks yang disediakan oleh faktor-faktor komplementer penuh kecanggungan seperti antara ibu Wisnu dengan menantunya, Bella (Dannia Salsabilla) dengan mamanya, atau interaksi Tomo dengan ibu kandungnya pun tak banyak membantu.

Sampai derajat tertentu, narasi Perfect Strangers tampak berbagi similaritas dengan Carnage (Roman Polanski, 2011), dimana proses dialog konstruktif antara beberapa orang dewasa yang dimulai dengan adab dan senda gurau tetiba mengalami titik balik ekstrem kemudian berakhir dengan parade pertukaran serangan personal antar karakter secara brutal.

Lebih lanjut, seluruh karakter dalam kedua film juga sama-sama bercokol pada ruang hidup urban, merepresentasikan budaya pascamodernisme, serta seakan-akan mempraktikkan epistemologi progresif namun lambat laun terdegradasi menjadi seonggok entah apa.

Maka seiring konflik demi konflik yang mencuat dari gawai masing-masing membombardir meja makan tanpa henti, ketujuh orang dimaksud pelan-pelan dipaksa menyadari bahwa selama ini mereka membangun relasi satu sama lain dalam selubung ilusi.

Hubungan suami dengan istri, kedekatan para sahabat sejak muda belia, serta tingkat keintiman orang tua dengan darah dagingnya kehilangan nilai krusial sebab segalanya bisa jadi cuma topeng semata.

Dengan kata lain, yang paling dekat sesungguhnya adalah yang paling asing.

Parade Hipotesis

Apakah gerhana bulan juga bagian dari ilusi? Sampai pada titik ini, rasanya tidak. Dalam sekuens pembuka film, informasi dari penyiar radio merangkap unreliable narrator berfungsi menyingkap sejenis keyakinan tradisional bahwa gerhana bulan merupakan puncak pertentangan antara matahari dan bulan.

Atas dasar itu, gerhana bulan dapat kita sepakati tergolong dalam elemen yang bersifat empiris/riil. Bila demikian, apakah gerhana bulan turut menjadi katalisator dari jalinan konflik yang dialami oleh ketujuh karakter utama?

Pengajuan hipotesis semacam ini sah-sah saja mengingat gerhana bulan termasuk elemen sentral yang terintegrasi dengan keseluruhan bangunan narasi film. Fenomena gerhana sendiri merupakan sebentuk liyan bagi ekosistem kehidupan di bumi sehingga kemunculannya secara periodik kerap dinanti serta dirayakan sebagai suatu pertanda yang juga dimaknai secara berbeda-beda.

Dalam Perfect Strangers, gerhana bulan diyakini berkontribusi signifikan untuk menyeret (sambil mengaduk-aduk) perasaan individu yang menyaksikan dan menikmati pemandangannya, tak ubahnya gravitasi bulan yang menyeret (seraya membolak-balik) air laut sehingga menyebabkan fenomena pasang surut arus.

Infografik Misbar Perfect Stranger

Infografik Misbar Perfect Stranger. tirto.id/Fuad

Kombinasi antara rentetan problematika yang mengisi fase pamungkas ritual dengan pengaruh negatif gerhana bulan lantas menjadi keniscayaan yang sukses mencabik-cabik kemampuan berpikir jernih dan bernalar secara logis. Dan setelah fase ritual tiba pada kondisi paripurna tepat saat gerhana bulan mencapai klimaks, apa yang dihasilkan? Tak lebih dan tak kurang, hipotetikal belaka.

Apakah pernikahan Enrico dan Eva sedang berada di ujung tanduk? Yakin Bella masih perawan? Sosok Dani/Daniela itu memang ada? Apa iya Kesha alergi pada udang? Wisnu dan Tomo sadarkah akan tampilan kembar ponsel mereka? Dari mana asal muasal anting Eva? Bagaimana kita tahu Imelda memakai lingerie atau tidak mengenakan celana dalam sama sekali?

Mengapa Wisnu kerap menghabiskan waktu lama di kamar mandi? Bagaimana Anjas mengelola rupa-rupa bisnis dan para selingkuhannya? Siapa sebenarnya yang menjadi lawan tanding untuk pertandingan futsal hari Minggu? Jangan-jangan perihal itu semua sekadar gerhana kehidupan, semacam simbol puncak pertentangan antara ‘yang nyata’ dengan ‘liyan’.

Pada pengujung malam, semesta film telah terbelah, kemungkinan oleh dampak gerhana bulan. Dalam semesta penutup yang tampak sebagai antitesis dari semesta yang penonton saksikan nyaris di sepanjang durasi film, seyogianya ritual itu tak pernah berjalan.

Alhasil gawai pun tak pernah berkesempatan menguak sisi gelap dan watak telanjang dari masing-masing karakter, sehingga semua orang yang sudah kenyang menikmati sajian makan malam dapat kembali ke lanskap kehidupan urban mereka yang penuh keambiguan tanpa perlu menjadi liyan.

Kini tersisa satu pertanyaan mendasar: mengapa lokus dan pusat naratif Perfect Strangers harus identik dengan urban? Ah, jangan-jangan ini cuma produk propaganda audio visual yang berusaha melanggengkan kontestasi abadi antara tradisionalitas dengan modernitas, konvensional dengan progresif, kelas atas dengan kelas bawah, serta mengisi puncak rivalitas dengan parade gerhana yang menciptakan sintesis anyar: bahwa dikotomi di atas, tak lebih tak kurang, sebatas liyan bagi sesamanya.

Namanya juga hipotesis. Tak usah terlalu serius.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA 2022 atau tulisan lainnya dari Jonathan Manullang

tirto.id - Film
Kontributor: Jonathan Manullang
Penulis: Jonathan Manullang
Editor: Lilin Rosa Santi