Perempuan Afghan Terpaksa Menyamar jadi Laki-Laki untuk Bekerja

Oleh: Nindias Nur Khalika - 7 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Didorong kebutuhan ekonomi dan tekanan sosial, anak perempuan di Afghanistan menjalani tradisi bacha posh: menyamar jadi laki-laki agar bisa bekerja di luar rumah.
tirto.id - Sembari bertutur tentang keluarganya kepada jurnalis investigasi Jenny Nordberg, Azita Rafaat membuka-buka halaman album foto. Ia mengisahkan bagaimana dirinya dan sang suami bertemu, kemudian bertunangan, menikah, hingga dikaruniai empat orang anak. Sebuah foto merekam momen ketika keempat anaknya mengenakan pakaian berwarna krem.

"Kamu tahu anak bungsuku perempuan, 'kan? Kami mendandaninya seperti laki-laki," ujar Azita seperti yang direkam oleh Nordberg dalam buku Underground Girls in Kabul: In Search of a Hidden Resistence in Afghanistan (2014).


Azita mengeluh dirinya sering jadi bahan gunjingan orang karena tak punya anak laki-laki. Dalam masyarakat Afghanistan, keberadaan minimal satu anak laki-laki sudah jadi semacam kewajiban. Keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki, dengan demikian, dianggap tidak komplit, rentan, dan lemah.

Azita terpilih menjadi anggota parlemen tahun 2001 setelah Taliban lengser. Politikus yang sangat terpelajar ini menguasai banyak bahasa, mulai dari Pashto, Urdu, Rusia, hingga bahasa Inggris. Tapi kecakapan tersebut tak ada artinya di Afghanistan karena ia tak punya anak laki-laki.

Walhasil, karier politiknya mandeg. Rekan sesama legislator, para pemilih, hingga keluarga besar turut melontarkan pertanyaan serupa: bagaimana bisa ia bisa dipercaya untuk maju di dunia politik jika tak mampu memberikan suaminya anak laki-laki?

Bersama sang suami, Azita pun menyusun siasat. Mereka mendekati putrinya bungsunya dan bertanya: ”Maukah kamu dandan mirip cowok, melakukan hal-hal menyenangkan seperti bersepeda, sepak bola, dan berolahraga? Kamu mau 'kan seperti ayahmu?”

Si bungsu mengangguk sepakat. Tawaran itu dianggap menggiurkan. Setelah rambutnya dipotong dan mengenakan pakaian cowok, si bungsu tak lagi dipanggil Mahnoush, yang berarti bulan, tapi Mehran.

Anak Pancingan

Di Afghanistan, Mehran tidak akan dianggap laki-laki atau perempuan, melainkan bacha posh. Dalam bahasa Dari, bacha posh artinya “perempuan yang berpakaian seperti laki-laki”.

The New York Times mengatakan ada banyak alasan kenapa keluarga di Afghanistan menyulap anaknya jadi bacha posh. Penyebab utamanya adalah kebutuhan ekonomi. Perempuan tidak boleh ikut menyokong ekonomi keluarga, sementara laki-laki menjadi tulang punggung perekonomian rumah tangga.

Faktor lainnya adalah tekanan sosial untuk mempunyai anak, persis seperti yang dialami Azita. Keluarganya dianggap tidak komplit sebab ia tak melahirkan anak cowok. Terakhir, dalam beberapa kasus, bacha posh diyakini bisa memancing kelahiran anak laki-laki sungguhan.

Tak ada aturan hukum dan agama yang melarang keberadaan bacha posh. Sebagai bacha posh, Mehran berhak menerima pendidikan, bekerja di luar rumah, menemani saudara perempuannya di tempat umum, dan melakukan hal bebas lainnya yang menjadi privilese laki-laki.

Masih menurut New York Times, tak ada data statistik yang bisa menjelaskan berapa banyak jumlah anak perempuan yang menyamar jadi laki-laki. Namun demikian, masyarakat Afghanistan akrab dengan kisah-kisah soal kerabat, teman, tetangga, atau rekan kerja perempuan yang tumbuh sembari menyamar sebagai laki-laki alias bacha posh.


Sejarah praktik budaya bacha posh pun sulit dilacak. Nancy Dupree, seorang sejarawan asal Amerika yang menghabiskan separuh lebih hidupnya bekerja di Afghanistan, mengatakan tidak pernah mendengar cerita soal bacha bosh sebelumnya. Tapi, ia ingat kalau awal tahun 1900-an terdapat foto milik keluarga kerajaan Afghanistan yang menampilkan perempuan berpakaian laki-laki dan berdiri mengawal harem Raja Habibullah. Sebagai catatan, harem tidak boleh dijaga baik oleh laki-laki atau pun perempuan.

Tak selamanya anak perempuan menjadi bacha posh. Ketika memasuki masa puber, mereka disuruh kembali berpakaian seperti perempuan pada umumnya. Hal ini menyulitkan, karena mereka terpaksa meninggalkan aktivitas-aktivitas seperti bekerja di dan keluar rumah tanpa ditemani kerabat laki-laki. Mereka diharuskan menjalani peran sebagai perempuan penurut: tak boleh menatap mata lawan bicara dan mesti berjalan dengan feminin.

Nadia Hashimi dalam sebuah artikelnya di Foreign Affairs mencatat sejumlah bacha posh yang bertahan hingga dewasa. Salah satunya adalah Akmina Manoorip yang tinggal di Afghanistan selatan. Ia harus menanggung risiko ejekan dan cemoohan dari masyarakat. Keputusannya untuk tetap mengenakan pakaian laki-laki juga berisiko membuatnya jadi target Taliban karena dianggap tidak bermoral.

Infografik Bacha Post


Di sisi lain, perempuan yang dianggap menentang norma sosial tidak diinginkan sebagai istri, sebab dianggap keras kepala dan sulit diatur. Stigma ini tak hanya berlaku pada perempuan tapi juga keluarganya. Hal ini menjelaskan mengapa bacha posh yang memilih jalan seperti Akmina Manoori jumlahnya relatif sedikit.

Ketidakadilan Gender

Dalam Gender Performativities in Select Afghan Women’s Life Stories (2018), Sindhu J menjelaskan bahwa dominasi laki-laki dan segregasi gender telah mengakar kuat dalam masyarakat Afghanistan. Tradisi patriarkis inilah yang menyebabkan keberadaan anak laki-laki dianggap penting.


Bacha posh lahir di tengah kondisi masyarakat yang seperti itu. Praktik ini adalah cerminan kontrol laki-laki atas kehidupan perempuan dengan dalih kekeluargaan.

Dalam artikel "Cultural and International Dissonance on Girls Empowerment: the Case of Afghanistan’s Female Son" (2017), Made Yaya Sawitri menjelaskan bahwa praktik bacha posh tidak bisa dibicarakan tanpa merujuk pada isu ketidakadilan gender yang mulai diarusutamakan pasca perang Afghanistan.

Pada 2001, retorika pembebasan perempuan jamak dikumandangkan ketika Presiden Bush meluncurkan operasi militer Enduring Freedom ke Afghanistan. Operasi ini menjanjikan restorasi kebebasan dan martabat perempuan di Afghanistan yang tertindas di bawah rezim Taliban. Ironisnya, Taliban yang dianggap penindas adalah bagian dari kelompok mujahidin yang disponsori AS selama Perang Soviet-Afghan pada 1980an. Janji pendirian negara Islam yang berlandaskan hukum syariah dan mengatur cara berpakaian perempuan menjadi bahan propaganda untuk merekrut mujahidin. Dari sanalah penghancuran kehidupan perempuan bermula.

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Nindias Nur Khalika
Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf