Percuma Hygge, Lagom, & Niksen Jika Kondisi Kerja Masih Berantakan

Ilustrasi bersantai di pantai. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 7 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
Jauh sebelum tren hygge dan lagom muncul, masyarakat Nordik mampu mempraktikkan kehidupan yang berkualitas. Berkat serikat pekerja.
Pada 29 April 2019, jurnalis New York Times Olga Mecking menyatakan bahwa salah satu cara menghilangkan stres adalah dengan tidak melakukan apa-apa. Metode ‘nggak ngapa-ngapain’ alias niksen ini dipopulerkan orang-orang Belanda.

Saat ini niksen sedang jadi praktik yang lumrah dilakukan di negara kincir angin. Atas nama niksen, warga Belanda melakukan apa yang ingin mereka lakukan tanpa tujuan tertentu, misalnya duduk melihat pemandangan, mengosongkan jadwal dan tidak membuat rencana apa pun, mendengarkan musik, atau jalan santai.

“Intinya ini memotivasi orang untuk berani bersantai. Dengan melakukan Niksen, seseorang mengizinkan hidup berjalan dengan semestinya. Untuk sementara waktu membebaskan diri dari tekanan dan tanggung jawab untuk melakukan berbagai hal,” kata Eve Ekman, director of training di Greater Good Science Center, University of California, Berkeley kepada Time.

Ia menyarankan agar individu mempraktikkan niksen setiap hari karena menurut penelitian yang pernah ia lakukan, niksen berpotensi membuat seseorang berpikir lebih jernih dan mengurangi kegelisahan.

“Niksen bukan hal yang mudah dilakukan. Tak semua orang bisa dengan mudah bersantai atau melakukan aktivitas tanpa tujuan tertentu,” tulis Time.

Meski demikian, selama enam bulan ke belakang ini metode niksen dipercaya jadi cara efektif dan terus dipublikasikan media-media di AS seperti Time dan Bustle. Media-media Inggris seperti Guardian, Metro, dan Vogue pun turut memberitakannya.


Demikian pula media-media di Indonesia seperti Antara, Detik, Kumparan, Suara, Sociolla, Hipwee, dan Tirto. Mereka berbagi informasi seputar niksen. Sebagian besar merujuk pemberitaan Time sebagai sumber utama.

Time mengabarkan bahwa niksen jadi populer karena dianggap efektif dalam mengatasi burnout atau rasa lelah berkepanjangan akibat situasi kerja yang mengakibatkan seseorang tidak mampu beraktivitas dengan optimal.

Kini burnout adalah ‘wabah’ yang melanda para milenial di AS, Inggris, dan beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan. Mereka adalah generasi yang kerap merasa tertekan karena tidak mampu hidup sesejahtera generasi orangtua mereka.

Pendidikan tinggi yang mereka tempuh tidak sebanding dengan penghasilan. Persaingan kerja yang tinggi, kondisi kerja yang kurang kondusif, kesulitan untuk mendapat penghasilan besar, beban hutang biaya pendidikan (khususnya untuk milenial AS dan Inggris) dan ekspektasi orangtua serta masyarakat soal kesuksesan (memiliki jumlah penghasilan tertentu, jabatan tinggi, rumah, kendaraan, dana pensiun, asuransi) membuat milenial terbelenggu oleh kultur workaholic.

Konsep-konsep gaya hidup santai seperti niksen ini marak sekitar tiga tahun terakhir, beriringan dengan meningkatnya burnout di negara-negara maju seperti AS. Sebelum niksen, muncul konsep konsep hygge dari Denmark. Hygge sendiri kira-kira berarti melakukan hal-hal yang membuat diri sendiri merasa nyaman.

Awalnya konsep ini tercipta untuk menghindari orang-orang Denmark dan Norwegia dari stres akibat musim dingin berkepanjangan. Pada 2016, Meik Wiking yang dikenal sebagai "peneliti kebahagaiaan", menerbitkan buku The Little Book of Hygge: Danish Secrets to Happy Living. Buku tersebut diganjar predikat "Buku Laris versi New York Times". Hygge pun langsung populer di AS.

Sebenarnya hal yang disarankan Wiking cukup sederhana. Misalnya membuat suasana rumah lebih nyaman dengan menyalakan lilin aromaterapi. Menambahkan selimut, memasak masakan kesukaan, dan mengundang kerabat dekat untuk menghabiskan waktu bersama di rumah juga bisa dilakukan.

Bila seseorang tidak sedang mengalami musim dingin, Hygge bisa dipraktikkan dengan melakukan berbagai hal yang bikin hati senang.

Setahun setelah hygge, muncul tren lagom di Swedia. Gaya hidup yang dicetuskan Lola Akinmade ini bertujuan agar seseorang bisa mencapai kebahagiaan dengan menjalani rutinitas yang seimbang.

Lagom mendorong kita untuk menemukan kedamaian diri. Yang membuat Lagom ‘sangat Swedia’ adalah karena lagom tidak hanya fokus ke diri kita tapi juga pada interaksi kita di dalam kelompok,” kata Akinmade kepada The Local Swedish.

Seperti hygge, lagom juga tiba-tiba populer di AS dan Inggris.


Kuat di Eropa

Ide soal menikmati waktu luang ini bisa muncul di negara-negara Nordik dan Belanda karena masyarakatnya mengenal sistem kerja yang menjamin kesejahteraan individu--terutama waktu kerja yang pasti--dibanding dengan negara-negara seperti AS dan Asia. Di sana tidak ada laporan soal tingkat burnout yang tinggi. Oleh karena itu para milenial Nordik dan Belanda punya cukup waktu luang untuk hygge, Lagom, dan niksen.

Karena itu pula, praktik gaya hidup santai semacam itu tak bisa ditiru mentah-mentah di negara dengan budaya kerja yang buruk dan serikat buruhnya tak kuat. Latah gaya hidup Nordik takkan membantu siapapun.

“Mau Lagom di Jakarta ya susah. Jam kerja di sini lebih panjang. Gimana mau santai kalau keluar rumah sudah kena macet. Pulang kerja juga kena macet, naik kendaraan umum juga tidak selalu nyaman. Jadi mau melakukan hygge dan semacamnya juga sudah capek duluan. Weekend pun bisa diminta kerja. Apalagi kalau kerjanya sebagai jurnalis,” kata Fathimah Fildzah, peneliti di pusat penelitian politik LIPI dan anggota serikat buruh kreatif Sindikasi.



Menurut Fildzah, Indonesia dan AS tidak memiliki serikat pekerja sekuat yang dimiliki negara-negara Nordik. Serikat buruh di negeri-negeri itu memang terkenal kuat dan mampu melindungi hak-hak para pekerja di hadapan perusahaan.

Serikat pekerja pertama di Swedia muncul pada 1870-an. Setelah itu muncul berbagai serikat pekerja lain dan puncaknya terbentuklah Konfederasi Serikat Buruh Swedia pada Agustus 1898. Organisasi ini berperan mensosialisasikan pandangan mereka ke pembuat kebijakan, mengirim wakil ke tiap lembaga pemerintahan, melakukan riset mengenai isu ketenagakerjaan, dan memperjuangkan skema asuransi para pekerja di Swedia. Mereka juga bertanggungjawab mengurus jaminan bagi orang-orang yang belum atau tidak bekerja.

Lembaga serupa juga ada di negara-negara Nordik lain dan masih aktif sampai sekarang. Karena keberadaan serikat-serikat dan partai-partai kiri-lah para pekerja Skandinavia lebih sejahtera.

Dari sana Anda mengenal hygge dan lagom.


Pada 2 November 2015 BBC melaporkan bahwa persentase warga Swedia yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu hanya sekitar 1%. Para pekerja meninggalkan kantor pukul lima sore dan setidaknya mendapat hak cuti 25 hari per tahun.

Setiap sistem yang diusulkan bertujuan untuk mencapai keseimbangan itu. Contoh, pada 2016 Swedia mengusulkan jam efektif kerja selama enam jam per hari. Sistem tersebut diusulkan agar para pekerja memiliki lebih banyak waktu luang. Setelah dua tahun diuji coba, sistem itu batal diresmikan lantaran dianggap akan memakan biaya yang lebih mahal. Sebagai solusinya, para pemilik perusahaan menerapkan cara kerja yang lebih ‘fleksibel’ dengan tidak mengharuskan pekerja untuk bekerja dari kantor.

Sistem tersebut berlaku pula di Finlandia. Menurut laporan BBC pada 9 Agustus 2019 , Finlandia telah memiliki aturan jam kerja yang berlaku sejak 1996. Aturan tersebut memungkinkan pekerja untuk menyesuaikan waktu kerja sesuai kebutuhan masing-masing. Pekerja, misalnya, boleh menambah atau mengurangi waktu kerja selama tiga jam bila diperlukan.

Aturan tersebut kemudian jadi cikal bakal sistem kerja yang lebih fleksibel. Tahun depan, pemerintah Finlandia akan membebaskan para pekerja kantoran untuk memilih kapan dan di mana mereka akan bekerja.

Fleksibilitas sistem kerja Nordik ini kemudian berusaha ditiru oleh perusahaan-perusahaan di AS. Meski pada praktiknya, para pekerja di AS tidak bisa ‘sesejahtera’ pekerja di Nordik karena kebijakan pemerintah masih berbeda. Belum lagi, upaya-upaya untuk meniru kebijakan Nordik di tingkat negara bagian atau federal akan dengan mudah dicap sebagai "sistem sosialis" oleh kaum sayap kanan AS.


Riset National Sleep Foundation pada 2013 menyebut para pekerja di AS hanya tidur enam jam sehari pada hari kerja. Selain itu, dalam satu minggu pekerja AS rata-rata bekerja 50-60 jam. Obama pernah membuat aturan maksimum 40 jam per minggu sehingga pekerja yang bekerja melebihi waktu tersebut berhak mendapat uang lembur. Namun, aturan tersebut dihapus ketika pemerintahan berganti.

Hal itu membuat para milenial AS semakin rentan burnout. Laporan penelitian Conference Board 2010 menyebutkan hanya 43% pekerja profesional AS yang cukup puas dengan pekerjaannya. Sisanya mengeluhkan jam kerja yang tidak manusiawi, situasi politik yang tidak kondusif, persaingan ketat, dan kultur 'terus melek' yang membuat para pekerja tidak bisa istirahat. Sialnya, kultur kerja seperti itu pula yang dirujuk banyak perusahaan di Indonesia.

“Sistem kerja seperti ini dibuat untuk meminimalisir pengeluaran perusahaan. Jam kerja dikaburkan dan tidak ada jaminan kerja,” ujar Fildzah.

“Kami mencoba membuat counter-narrative dari kalimat: kerja keras seperti apa pun asal sesuai passion maka tidak akan ada masalah. Buat saya, tidak ada hal semacam itu. Passion juga tidak boleh melewati undang-undang. Lembur tetap saja harus dibayar dan tetap harus ada jaminan kesehatan bagi para pekerja.”

Baca juga artikel terkait PEKERJAAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight