Perburuk Dampak Krisis Iklim di Pulau Pari, Warga Gugat PT. Holcim

Reporter: Riyan Setiawan, tirto.id - 20 Sep 2022 20:20 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Holcim dinilai menghasilkan bahan paling destruktif di bumi yakni memproduksi lebih dari 7 miliar ton semen.
tirto.id - Warga yang tergabung dalam Forum Peduli Pulau Pari (FP3) melayangkan gugatan kepada PT. Holcim karena telah memperburuk dampak krisis iklim kepada masyarakat Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakart.

Gugatan warga kepada PT. Holcim dilayangkan ke Pengadilan Swiss didampingi oleh Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (WALHI).

Ketua Forum Peduli Pulau Pari (FP3), Mustaghfirin yang juga berprofesi sebagai nelayan mengeluhkan kondisi cuaca yang sangat sulit ditebak saat ini akibat krisis iklim.

Berbeda dengan 6 - 7 tahun lalu, di mana para nelayan masih bisa memprediksi cuaca. Padahal, sebelum melaut, para nelayan biasanya harus membaca cuaca. Dengan terjadinya krisis iklim, sangat merugikan nelayan.

Tidak jarang cuaca yang sebelumnya baik, tiba-tiba di tengah perjalanan menjadi buruk sehingga memaksa para nelayan memutuskan untuk kembali ke pulau dan tidak melaut.

"Saya bahkan pernah hampir tenggelam karena gelombang yang tiba-tiba tinggi dan membuat perahu saya oleng," kata Mustaghfirin saat konferensi pers gugatan PT. Holcim di Kantor Eksekutif Nasional WALHI, Jakarta Selatan, Selasa (20/9/2022).

Dampak lainnya, kata dia, beberapa jenis ikan sudah sulit ditemui, seperti kakap merah, jenidin, masidung, bawal, cakalang, lamadang. Alhasil, pendapatan pun ikut berkurang.

Jika ingin mendapatkan hasil, para nelayan harus melaut dengan jarak di atas 15 mil. Namun, Mustaghfirin khawatir dan ketakutan jika harus melaut dengan jarak yang sangat jauh.

“Kami takut nyawa kami terancam akibat cuaca yang bisa berubah secara tiba-tiba. Kami lahir dan tidak akan meninggalkan Pulau Pari," ucap pria yang akrab disapa Bobby itu.

Senada dengan Bobby, Edi Mulyono (37) menuturkan Pulau Pari saat ini terancam tenggelam. Air laut terus naik dan banjir rob terjadi semakin sering dan semakin besar.

Banjir rob pada 2019 dan 2020 bahkan menjadi rob paling besar yang pernah terjadi selama pulau ini ditinggali. Akibat dari krisis iklim ini, warga harus selalu waspada, beberapa sumur bahkan sudah tidak bisa digunakan karena tercemar air laut.

"Warga di bagian barat dan di RT 1 juga harus meninggikan rumahnya setiap tahun.” kata Edi yang berprofesi nelayan juga mengelola sebuah guesthouse untuk wisatawan.

Melihat Pulau Pari yang terancam tenggelam akibat krisis iklim, keempat warga Bobby, Arif, Edi dan Asmania yang tergabung dalam FP3 memutuskan untuk menggugat PT. Holcim.

Pasalnya PT. Holcim merupakan perusahaan yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan iklim dan juga penderitaan lebih dari seribu jiwa lainnya di Pulau Pari.

Melalui gugatan ini, warga mempertanyakan sejauh mana tanggung jawab dari Holcim sebagai pemimpin pasar industri semen di dunia yang berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim.

"Warga menuntut Holcim untuk bertanggung jawab atas ancaman keselamatan warga Pulau Pari dan mengganti kerugian sebagai kompensasi atas kerusakan material.

Selanjutnya, dalam gugatannya warga juga menuntut Holcim untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya sebesar 43% pada tahun 2030 dan 69% pada tahun 2040.

"Holcim juga dituntut wajib menanggung biaya tindakan mitigasi perubahan iklim yang diperlukan di Pulau Pari. Ini termasuk penanaman bakau atau pertahanan banjir," pungkasnya.

Pada waktu yang sama, Kepala Divisi Kajian Hukum Lingkungan Walhi Nasional, Puspa Dewy mengatakan Grup Holcim Swiss termasuk dalam daftar Carbon Major karena menghasilkan bahan paling destruktif di bumi.

Merujuk dari penelitian yang dilakukan oleh HEKS/EPER, menunjukan bahwa antara tahun 1950 hingga 2020, Holcim telah memproduksi lebih dari 7 miliar ton semen. Pada 2021, perusahaan ini memproduksi 200 juta ton semen.

Pasalnya, perusahaan industri semen yang merupakan komponen utama dari produksi beton. Produksi beton memiliki implikasi signifikan terhadap iklim.

Perubahan iklim telah menuntun tingginya permukaan air laut, badai, gelombang tinggi atau gelombang pasang, serta menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim yang mengakibatkan banjir. Semakin tinggi suhu global, semakin sering dan ekstrim banjir yang terjadi.

"Ini mengancam eksistensial bagi pulau-pulau kecil dan daerah-daerah dengan pesisir dataran rendah," kata Dewy.



Baca juga artikel terkait BANJIR ROB PULAU PARI atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri

DarkLight