Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca Beserta Efek Sampingnya

Oleh: Syaima Sabine Fasawwa - 6 Desember 2021
Dibaca Normal 2 menit
Penjelasan mengenai vaksin Sinovac dan AstraZeneca, mulai dari perbedaan produksi, interval injeksi dosis pertama dan kedua, hingga efek sampingnya.
tirto.id - Vaksin Sinovac dan AstraZeneca adalah dua merek vaksin yang banyak digunakan di Indonesia. Kendati sudah disetujui WHO dan melewati diuji klinis, dua vaksin ini tidak sama efikasinya dalam melawan Covid-19. Lantas, apa perbedaan antara vaksin Sinovac dan AstraZeneca beserta efek sampingnya?

Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Indonesia resmi dimulai sejak 13 Januari 2021. Dilansir laman resmi Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Indonesia menargetkan sasaran vaksinasi nasional sejumlah 208.265.720 agar masyarakat mencapai kekebalan massal (herd immunity).

Hingga saat ini, proses vaksinasi masih bergulir di seluruh wilayah Indonesia. Di antara jenis vaksin yang umum digunakan adalah Vaksin Sinovac dan Vaksin AstraZeneca.

Berikut ini penjelasan mengenai perbedaan kedua vaksin tersebut dari segi produksi, efikasi, dan interval atau rentang waktu antara pemberian vaksin dosis pertama dan dosis kedua.

Vaksin Sinovac


Vaksin CoronaVac atau Sinovac merupakan vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Perusahaan Sinovac Biotech asal Tiongkok. Sinovac merupakan vaksin Covid-19 pertama yang masuk dan mendapatkan izin penggunaan darurat di Indonesia.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) merekomendasikan penggunaan vaksin Sinovac dalam 2 dosis dengan takaran masing-masing 0.5 ml.

Pemberian vaksin dilakukan secara intramuskular dengan interval 2 hingga 4 minggu antara dosis pertama dan dosis kedua. Suntikan intramuskular sendiri merupakan injeksi yang dilakukan pada otot tubuh. SAGE menganjurkan individu yang divaksinasi untuk menerima kedua dosis secara lengkap.

SAGE melaporkan bahwa vaksin Sinovac memiliki kemanjuran atau efikasi 51% terhadap gejala infeksi SARS-CoV-2, 100% terhadap Covid-19 yang parah, dan 100% terhadap kasus rawat inap akibat Covid-19 yang dimulai 14 hari setelah menerima dosis kedua.

Hasil tersebut diperoleh dari uji coba fase 3 di Brasil terhadap vaksin Sinovac. Uji coba efikasi itu dilakukan pada individu yang dosis pertama dan dosis keduanya diberikan dalam selang waktu 14 hari.


Efek Samping Vaksin Sinovac

Berikut ini efek samping vaksin Sinovac yang kerap dilaporkan masyarakat.

  • Sakit atau nyeri di area suntikan
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Sebagian orang yang menjalani vaksinasi Sinovac juga ada yang mengalami diare.


Vaksin AstraZeneca


Vaksin dengan nama lain AZD1222 (ChAdOx1) ini merupakan vaksin Covid-19 yang dikembangkan perusahaan AstraZeneca asal Inggris-Swedia bekerja sama dengan Universitas Oxford.

Dikutip laman WHO, terdapat dua versi vaksin AstraZeneca, yaitu vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh AstraZeneca-SKBio (Korea Selatan) dan Serum Institute of India. Keduanya telah terdaftar untuk penggunaan darurat berdasarkan tinjauan WHO.

Anjuran pemberian dosis oleh WHO berjumlah dua dosis yang diberikan secara intramuskular dengan takaran masing-masing 0.5 ml.

Sementara itu, interval pemberian vaksin AstraZeneca dosis pertama dengan dosis kedua adalah antara 8 hingga 12 minggu, sebagaimana direkomendasikan WHO.

Interval dosis yang lebih lama dalam rentang 8 hingga 12 minggu dikaitkan dengan efikasi vaksin yang lebih besar. Efikasi vaksin AstraZeneca terhadap gejala infeksi SARS-CoV-2 adalah 63,09%.


Efek Samping Vaksin AstraZeneca


Berikut ini sejumlah efek samping AstraZeneca yang kerap dilaporkan masyarakat.

  • Rasa sakit atau nyeri di area suntikan
  • Sakit kepala
  • kelelahan
  • Nyeri otot atau sendi
  • Demam
  • Panas dingin
  • Mual


Perbandingan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca


WHO mengemukakan bahwa antara satu vaksin dengan vaksin lainnya tidak dapat dibandingkan secara langsung sebab terdapat perbedaan pendekatan dalam pembuatan vaksinnya.

Namun, WHO memastikan secara keseluruhan semua vaksin yang tercantum dalam WHO Emergency Use Listing atau Daftar Penggunaan Darurat telah teruji efektif melawan Covid-19, termasuk vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca.

Di samping itu, meskipun orang-orang sudah divaksin, WHO mengimbau masyarakat dunia supaya tetap menaati protokol kesehatan untuk mencegah infeksi dan penularan Covid-19.

Tindakan pencegahan tersebut meliputi memakai masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, dan menghindari kerumunan.


Baca juga artikel terkait VAKSIN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Syaima Sabine Fasawwa
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Syaima Sabine Fasawwa
Penulis: Syaima Sabine Fasawwa
Editor: Abdul Hadi
DarkLight