Perbedaan Struktur Otak Poliglot, si Penguasa Banyak Bahasa

Oleh: Nindias Nur Khalika - 17 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Apa rahasia Sukarno dan Agus Salim sehingga bisa bicara dalam banyak bahasa?
tirto.id - Lahir pada 1774 di Bologna, Italia, Kardinal Guiseppe Caspar Mezzofanti terkenal pandai berbicara dalam macam bahasa. Dalam Mezzofanti’s Gift (2012), Michael Erard mengisahkan Mezzofanti bisa bercakap-cakap dalam bahasa Latin, Jerman, Belanda, Inggris, Cina, Turki, Spanyol, Portugis, Perancis, Hindi, dan lain-lain. Total ada 70 bahasa yang dikuasai Mezzofanti.

Beragam anekdot tentang Mezzofanti pun muncul lantaran kecakapannya tersebut. Salah satunya yang dicatat Guardian terjadi saat Paus Gregorius XVI mengadakan audiensi dengan sekelompok siswa internasional. Mezzofanti yang hadir dalam kesempatan yang sama menjadi sasaran keusilan para murid. Mereka sengaja berbicara dalam berbagai macam bahasa agar sang kardinal kebingungan. Tapi, mereka malah membisu setelah Mezzofanti mampu menanggapi pembicaraan tiap murid dengan bahasa yang berbeda.

Mezzofanti kemudian disebut hiperpoliglot sebab ia mampu berbicara enam bahasa atau lebih. Istilah hiperpoliglot dalam hal ini tak bisa lepas dari kata poliglot, yang menurut Sheila M. Kennison dalam buku berjudul Introduction to Language Development (2014, hlm. 194) merujuk pada orang yang mampu berbicara banyak bahasa.

Beberapa orang Indonesia dikenal poliglot. Pada 2014, Tempo melaporkan remaja berusia 17 tahun asal Ambon, Maluku, bernama Gayatri Wailissa bisa bercakap dalam 14 bahasa. Bahasa yang dikuasai oleh mantan duta ASEAN untuk anak itu antara lain Inggris, Italia, Belanda, Mandarin, India, Thailand, dan Jerman.

Ada juga penulis sekaligus pelancong Agustinus Wibowo yang dapat bertutur dalam bahasa Inggris, Mandarin, Persia, Mongol, Rusia, dan Urdu. Tokoh nasional seperti Sukarno dan Agus Salim juga poliglot.


Beda Otak?

Emil Krebs lahir tahun 1867 dari ibu dan ayah yang berprofesi sebagai tukang kayu. Sejak usia 13 hingga 17 tahun, ia bersekolah di sebuah gimnasium dan belajar bahasa Latin, Belanda, Italia, Rusia, Spanyol, Arab, dan lain sebagainya. Usai lulus, Krebs melanjutkan studi di jurusan hukum, Universitas Berlin dan tetap belajar berbagai macam bahasa asing.

Menurut Sheila M. Kennison, Krebs cepat mempelajari bahasa baru. Bahasa Armenia, misalnya, dikuasai laki-laki asal Jerman itu dalam waktu sembilan minggu. Krebs lantas fasih berbicara dan menulis 60 bahasa dari 120 bahasa yang ia pelajari.

Setelah meninggal tahun 1930, otak Krebs menarik minat peneliti sehingga menjadi koleksi C. and O. Voght Institute for Brain Research di Universitas Heinrich Heine, Jerman. Mereka ingin mengetahui apakah kemampuan bahasa yang Kerbs disebabkan oleh kekhasan struktur otak. Penelitian terhadap otak Krebs baru dilakukan pada 2004. Para peneliti akhirnya memang menemukan struktur yang berbeda dari otak orang lain yang bukan poliglot.


Menurut Katrin Amunts, Axel Schleicher, dan Karl Zilles dalam laporan riset bertajuk “Outstanding Language Competence and Cytoarchitecture in Broca’s Speech Region” (2004), ada satu bagian yang bertanggungjawab atas fungsi bahasa dalam otak manusia. Area Broca, demikian namanya, terletak di bagian belakang dari gyrus frontalis inferior di belahan otak atau hemisfer sebelah kiri.

Berbekal otak Krebs dan belasan otak orang lainnya, Amunts dkk, meneliti lebih jauh soal sitoarsitektur (sitoarsitektur merujuk pada sel-sel saraf penyusun jaringan otak) pada wilayah Brodmann (BA) 44 dan 45 yang secara anatomi berkorelasi dengan area Broca. Area Brodmann adalah pembagian daerah pada bagian korteks otak besar yang dibedakan berdasarkan sitoarsitektur. Dalam hal ini, Brodmann 44 dan 45 merupakan istilah lain dari area Broca depan serta belakang yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.

Sebagai pembanding otak Krebs, Amunts dkk juga meneliti 11 otak laki-laki berusia 21 hingga 75 tahun. Kesebelas otak tersebut diperoleh dari program donor tubuh Universitas Duesseldorf, Jerman yang kemudian diawetkan dengan formalin.

Setelah menganalisis objek penelitian, mereka menemukan bahwa area Broca otak Krebs yang mengatur bicara tak serupa dengan sebelas otak lainnya. Dalam hal ini, BA 44 memiliki sitoarsitektur yang lebih simetris dibandingkan otak lainnya. Sebaliknya, BA 45 pada otak Krebs lebih asimetris dibandingkan sebelas otak lainnya. Kombinasi simetri bagian BA 44 dan asimetri BA 45 di otak Kerbs inilah yang menurut Amunts, Schleicher, dan Zilles terbilang unik.


Infografik Hiperpoliglot
infografik hiperpoliglot


Sebagian poliglot belajar bahasa dengan sedikit proses yang melibatkan suara dari lawan bicara. Dengan kata lain, seorang Indonesia bisa saja belajar bahasa Portugis tanpa ada orang Portugis di sekelilingnya. Lagi-lagi, struktur otaknya berbeda.

Riset Narly Golestani, dkk, menjelaskan ada perbedaan struktur otak antara orang yang cepat belajar bahasa asing dan tidak lewat suara. Dalam studi berjudul “Brain Structure Predicts the Learning of Foreign Speech Sounds” (2006), mereka meneliti relasi anatomi otak dan kemampuan 33 orang Perancis saat membedakan suara konsonan dental dan tarik belakang (retrofleks) dalam bahasa India. Subjek penelitian, menurut Narly, dkk, tumbuh di lingkungan bahasa homogen. Mereka belajar bahasa kedua dan ketiga di usia 11 hingga 18 tahun dan tak fasih berbicara selain bahasa Perancis.


Narly, dkk mengatakan bahwa kepadatan area putih atau white matter (WM) di Heschl’s gyrus (HG) lebih tinggi pada otak pembelajar cepat. Tak hanya itu, volume WM juga ditemukan lebih besar di HG sebelah kiri. Heschl’s gyrus dalam hal ini merupakan girus yang terletak di area korteks pendengaran dan tertimbun sulcus lateralis.

Menurut penjelasan Narly, WM terlibat dalam proses masuknya informasi ke otak secara efisien. Anatomi area putih pada korteks pendengaran sebelah kiri dengan demikian bisa menjelaskan mengapa orang dapat belajar bahasa asing lewat suara secara cepat.

Selain area putih, penelitian Narly, dkk turut menemukan adanya asimetri pada volume lobus parietal yang terletak belahan otak sebelah kiri. Lobus parietal juga berperan dalam memproses suara percakapan.

Seperti yang dilaporkan BBC, riset yang Narly lakukan bersama peneliti lain menunjukkan bahwa bentuk dan struktur otak dapat memberikan informasi tentang kemampuan sekaligus penyakit seseorang. Otak, dengan kata lain, mampu memberikan alasan kenapa ada satu orang yang pandai melakukan sesuatu sementara yang lain tidak. Riset ini pun bisa digunakan untuk memprediksi apakah seseorang akan ahli dalam satu hal, termasuk penguasaan beragam bahasa.

Baca juga artikel terkait BAHASA atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf