Perbaiki Kualitas Hidup dengan Menghirup Udara Segar

Oleh: Aditya Widya Putri - 3 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kota-kota besar di Indonesia harus menambah ruang terbuka hijau.
tirto.id - Rimbun pepohonan mengelilingi taman seluas lima ribu meter persegi itu. Berbagai macam bunga berwarna-warni turut menghias pinggiran taman. Siapa pun bisa mencium bau harumnya. Beberapa pengunjung terlihat tengah menikmati keindahan taman dan melakukan selfi.

Suasana sore itu merupakan desain gambar Taman KB, Semarang, yang diharapkan terealisasi pada Mei 2018, dengan konsep outdoor. Secara umum, Semarang bisa dibilang merupakan salah satu kota yang sadar perlunya membangun taman kota untuk sekadar bersantai.

Rencananya, Taman KB akan ditambah berbagai macam pepohonan dan beragam fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Misalnya toilet dan ruang ganti lengkap dengan AC yang ramah difabel.

“Nanti akan lebih adem dan futuristik, supaya bisa buat melepas penat dari aktivitas sehari-hari,” kata Walikota Semarang, Hendrar Prihadi.

Baca juga: Taman Pintar Bidik Potensi Ekonomi Gerhana Matahari

Menurut data BPS, total ruang terbuka hijau di Semarang hingga saat ini telah mencapai 242 taman kota dengan luas 3.202 meter persegi. Memang masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Jakarta yang memiliki 4.332 taman dengan luas 37.9 juta meter persegi.

Namun, meski luas dan jumlah tamannya sudah banyak, Jakarta tetap saja sumpek. Bisa jadi, jumlah taman yang ada belum berbanding lurus dengan jumlah polusi yang dihasilkan setiap harinya. Agaknya, Jakarta masih harus berguru dengan Surabaya.

Kota pimpinan Tri Rismaharini ini adalah salah satu kota di Indonesia yang fokus membangun fasilitas taman kota. Bahkan, akhir Oktober lalu Surabaya dipilih oleh PBB menjadi tiga kota terbaik di dunia dalam kategori “Global Green City.”

Baca juga: Penghargaan Global Green City untuk Surabaya dari PBB

Baik untuk Kesehatan Mental

“Sebenarnya, kita yang tinggal di kota besar gini cuma butuh tempat duduk-duduk yang murah, seperti taman. Karena taman jarang, makanya dulu Sevel [gerai Seven Eleven] ramai.”

Firsta, yang melewatkan masa kecil di Surabaya, baru saja pindah ke Jakarta setelah sebelumnya tinggal di Batam. Di antara ketiga kota tersebut, menurutnya Jakarta-lah yang paling sumpek. Kepenatan akibat rutinitas harian tak bisa dinetralkan, salah satunya karena minim tempat untuk sekadar menghirup udara segar.

Keluhan Firsta sebagai warga pendatang bisa dijadikan rujukan pemerintah daerah untuk lebih giat membangun taman kota. Apalagi, sejumlah penelitian menunjukkan aktivitas di ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kesehatan mental manusia.

Salah satunya adalah penelitian Jo Barton dan Jules Pretty pada jurnal Environmental Science and Technology (2010). Ia meneliti 1252 orang di Inggris yang diminta melakukan beragam aktivitas di alam dengan berkebun, bersepeda, memancing, berkuda, dan sekadar jalan-jalan. Hasil beragam aktivitas tadi terbukti dapat memperbaiki suasana hati dan kesehatan mental para partisipan.

Peneliti menggunakan The Rosenberg Self Esteem Scale (RSE) untuk mengukur suasana hati dan kesehatan mental. Sebelum melakukan aktivitas alam secara rutin, rata-rata kesehatan mental yang berpengaruh pada kepercayaan diri mereka ada di angka 0,42, sementara yang mempengaruhi suasana hati hanya 0,19. Setelah melakukan beragam aktivitas tersebut, nilai kesehatan mental mereka naik masing-masing menjadi 0,94 dan 0,93.

Kelompok usia yang memiliki perubahan terbesar berada di bawah 30 tahun. Efek perubahan akan semakin berkurang seiring bertambahnya umur. Orang yang berumur lebih dari 70 tahun paling sedikit mengalami perubahan suasana hati dan kesehatan mental.

Dari pengamatan ini, peneliti merekomendasikan aktivitas di ruang terbuka hijau sebagai terapi bagi orang-orang dengan masalah kesehatan mental.

Selain itu, untuk menata kesehatan mental sejak dini, maka anak-anak perlu diperkenalkan interaksi dengan alam dan berkegiatan di luar ruangan. Untuk itu, perlu bagi pemerintah mengakomodir penambahan taman-taman di kota. Dalam penelitian ini juga diketahui beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. Di antaranya tempat tinggal berpindah-pindah dan kurangnya ruang terbuka hijau di daerah pindahan.

Baca juga: Tingkatkan Prestasi Anak dengan Berkebun

infografik perbanyak gerak kurangi stres


Penelitian lainnya oleh Ian Alcock, dkk dalam jurnal Environmental Science and Technology mengkonfirmasi dampak buruk berpindah tempat tinggal. Individu yang pindah ke daerah lebih hijau mungkin beruntung, karena secara signifikan akan memiliki kesehatan mental lebih baik setelah tiga tahun kepindahan.

Namun, sebaliknya, yang pindah ke daerah lebih suram seperti Firsta, kesehatan mentalnya bisa lebih buruk dari sebelumnya.

Kelompok yang pindah ke daerah lebih asri, 74,07 persen lebih cepat menikah dibanding 62,55 persen pada kelompok sebaliknya. Mereka juga cenderung pensiun dini untuk menikmati hidup dengan persentase 10,61 persen, dibanding kelompok sebaliknya 8,51 persen. Orang yang pindah ke tempat lebih baik juga cenderung menetap dan tak berpindah-pindah.

Jika melihat penelitian-penelitian tersebut, Firsta sebaiknya segera kembali ke kampung halamannya Surabaya. Kota yang bahkan lebih hijau dibanding saat ia melewatkan masa kecilnya. Kecuali, Jakarta mau terus berbenah dan mau menambah ruang terbuka hijau.

Baca juga artikel terkait BERKEBUN atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani