Perayaan Halloween dan Mengapa Horor Disukai dari Masa ke Masa

Kontributor: Febriansyah, tirto.id - 30 Okt 2019 15:10 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Perayaan Halloween di dunia dan mengapa orang-orang suka dengan hal berbau horor?
tirto.id - Perayaan Halloween dipenuhi dengan hal-hal yang menyeramkan seperti kostum zombie, drakula, vampir atau hantu-hantu. Di beberapa negara, pernak-pernik yang menggambarkan kematian dijadikan makanan dan pakaian, seperti permen berbentuk tengkorak.

Perayaan yang dipenuhi dengan segala aksesoris horor itu berlangsung setiap tahun dan selalu ramai.

Halloween dirayakan oleh hampir semua negara. Orang-orang akan berparade mengelilingi kota dengan kostum itu atau menyalakan api unggun atau melakukan berbagai permainan.

Di Jepang parade Halloween itu akan dipenuhi dengan kostum ganjil seperti kostum psikopat penuh darah dan zombie yang wajahnya robek. Begitu juga di Amerika Serikat, orang-orang akan memakai kostum penyihir atau vampir.

Perayaan Halloween di Amerika Serikat tahun ini diperkirakan memakan biaya yang cukup besar.

Dalam survei tahunan National Retail Federation yang dilakukan oleh Prosper Insights dan Analytics menjelaskan bahwa konsumen akan meningkat dalam pembelian untuk perayaan Halloween. Hal ini dipengaruhi oleh teman, tetangga, dan bahkan selebritas di media sosial.

Selain karena perayaan tahunan, salah satu yang faktor yang memengaruhi adalah karena banyak orang menyukai situasi horor atau segala macam yang berhubungan dengan itu.

Gary Vaughn, seorang profesor bahasa Inggris dari University of Cincinnati, menggali tema-tema yang mendasari acara TV populer, "American Horror Story: Freak Show" untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa sesuatu yang aneh atau bahkan menjijikkan masih membuat kita ingin melihatnya atau mengapa kita masih ingin menonton hal yang jelas menyeramkan?

Presentasi Vaughn mengkaji tentang daya pikat "monster" serta apa yang ia sebut "daya tarik umpan-dan-ganti" atau yang dimulai dengan voyeurisme (kesukaan kita ikut campur tangan dalam hidup orang lain) tetapi berakhir dalam refleksi.

Menurut Vaugh, awal dari pengalaman menonton program televisi horor ini serupa dengan yang dialami oleh para penonton yang biasanya membayar untuk duduk di pameran sisi karnaval abad ke-19, yaitu pertunjukan yang menampilkan wanita berjanggut atau hewan berkepala dua. Ada daya tarik untuk "keanehan" di luar pengalaman kita sehari-hari.

"Ketika menontonnya, kita dipaksa untuk menghadapi apa yang kita anggap sebagai masalah keanehan. Orang-orang aneh dalam seri ini memiliki rasa keadilan mereka sendiri, rasa kepercayaan mereka sendiri dan etika mereka sendiri. Dalam banyak contoh, mereka menunjukkan kualitas manusia yang lebih mengagumkan daripada yang disebut karakter biasa di kota itu," jelas Vaughn.

Para penonton pertama-tama akan terlibat dalam acara itu kemudian ia semakin masuk ke dalam kehidupan si manusia aneh dan setelah selesai menonton, ia mulai merefleksikan apa yang ia lihat.

Acara "Freak Show" ini juga memaksa penonton untuk mempertimbangkan hal yang tidak biasa sebagai bagian dari keinginan sosial kita. Bahwa kita akan mulai mencoba memaklumi orang-orang yang kita lihat berbeda dari diri kita sendiri, termasuk orang cacat atau "abnormal".

"'Freak Show' memaksa kita untuk menghadapi ketakutan intelektual kita sendiri tentang perbedaan, tentang keragaman, dan tentang ketakutan akan perubahan," kata Vaughn.

"Di awal mungkin kita akan tampak ikut campur dala kehidupan mereka, tetapi lama-lama hal seperti itu akan membuat kita berhenti dan berpikir tentang siapa yang mungkin menjadi orang 'nyata' yang aneh atau apa yang buruk tentang menjadi 'abnormal' atau anomali?" jelas Vaugh seperti dilansir Cincinnati.

Selain itu kita manusia juga ternyata sangat menyukai rasa takut. Dalam riset Nicole Martins dan Teresa Lynch dari University's Media School yang dilansir tirto.id menjelaskan bahwa ketakutan memberikan rasa tenang dan nikmat.

Perasaan tentang menghadapi rasa takut dan teror membangkitkan kekuatan dalam diri. Kita akan diberi sensasi bertahan hidup.


Baca juga artikel terkait HALLOWEEN atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Febriansyah
Penulis: Febriansyah
Editor: Yandri Daniel Damaledo

DarkLight