Peran Sejarah VSTP Perjuangkan Nasib Buruh Kereta Api Era Kolonial

Oleh: Appridzani Syahfrullah - 17 Juni 2021
Dibaca Normal 4 menit
VSTP didirikan untuk memperjuangkan aspirasi buruh tanpa memandang golongan dan ras. Semaoen membawanya menjadi lebih radikal.
tirto.id - Pada 17 Juni 1864, Gubernur Jenderal Baron Sloet van den Beele meresmikan pembangunan jalur kereta api pertama di Hindia Belanda. Pembangunan jalur kereta api itu dimulai dari Desa Kemijen, Semarang, dan direncanakan akan mencapai Vorstenlanden—wilayah kerajaan Jawa yang otonom, Surakarta dan Yogyakarta. Pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi pembangunan jalur itu kepada Nederlansch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Nantinya, NISM jugalah yang menjadi operator jalur itu.

Pada pertengahan abad ke-19 itu, perkebunan tumbuh pesat dan ekspor hasil bumi Jawa memang sedang mencapai puncaknya. Namun, pesatnya kegiatan ekonomi itu kurang diimbangi dengan ketersediaan transportasi dan infrastruktur yang memadai.

Jika masalah itu tak segera diatasi, hasilnya tentu malah kontraproduktif bagi perekonomian koloni. Agus Mulyana dalam Sejarah Kereta Api di Priangan (2017, hlm. 54) menulis, “Lambannya pengangkutan dapat mengakibatkan banyak hasil bumi menumpuk di gudang-gudang di daerah pedalaman dan membusuk karena tidak terangkut.”

Kereta api adalah jawaban atas kebutuhan transportasi pengangkut hasil bumi yang cepat dan efisien. Keseluruhan jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden mulai beroperasi pada 21 Mei 1873.

Sejak itu kereta api mengubah wajah Hindia Belanda. Kereta api memacu ekonomi dan pertumbuhan fisik daerah-daerah yang dilaluinya. Eksistensinya makin vital lagi pada dekade 1870-an, kala pemerintah kolonial memberlakukan dua undang-undang penting, Agrarischewet (Undang-undang Agraria) dan Suikerwet (Undang-undang Gula).

Dua undang-undang ini dianggap sebagai penutup kebijakan Cultuurstelsel dan mendorong liberalisasi ekonomi di Hindia Belanda. Perlahan, Hindia Belanda memasuki periode industrialisasi.

Razif dalam Buruh Kereta Api dan Komunitas Buruh Manggarai (2013, hlm. 91) menyebut keberhasilan pembangunan jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden membuat pemerintah kolonial semakin masif merencanakan pembangunan jalur-jalur baru. Hasilnya, memasuki abad ke-20, setidaknya telah ada 11 perusahaan perkeretaapian swasta dan satu perusahaan pelat merah, Staatsspoorwegen.

Kemunculan perusahaan-perusahaan perkeretaapian itu secara linier juga melahirkan lapangan kerja baru yang belum pernah dikenal di Hindia Belanda, yaitu buruh transportasi modern.

Kelahiran VSTP

Perusahaan kereta api adalah pengguna teknologi modern sehingga ia membutuhkan tenaga kerja yang cukup terdidik dan punya set keahlian khusus. Karena itulah, para pekerja perkeretaapian merupakan orang-orang yang paling terdidik dan paling maju untuk ukuran zaman itu.

Jadi, wajar jika buruh kereta api mempunyai kesadaran kelas yang sangat matang. Selain ditunjang dengan tingkat literasi yang tinggi, mereka juga sadar punya peran yang sangat signifikan dalam struktur ekonomi kolonial. Kesadaran macam itulah yang kemudian mendorong pekerja perkeretaapian membentuk organisasi.

Pada 1905, berdirilah Staatsspoorwegen Bond (SS Bond) alias Serikat Buruh Kereta Api Negara. Sebagaimana namanya, SS Bond mewadahi para pekerja perusahaan perkeretaapian pelat merah, terutama pekerja Eropa. Meski SS Bond adalah organisasi buruh kereta api pertama, kontribusinya tidak terlalu signifikan. Selain keanggotannya yang terbatas, SS Bond cenderung hanya menjadi corong kepentingan pekerja Eropa dan kaum Indo-Eropa saja.

Pada 1908, berdirilah organisasi buruh perkeretaapian baru bernama Vereeniging van Spoor-en Tramweging Personeel in Nederlandsch-Indie (VSTP—Serikat Buruh Kereta Api dan Trem Hindia Belanda). Semula, keanggotaan VSTP banyak diisi oleh buruh dari perusahaan perkeretaapian swasta Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dan Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Tidak seperti SS Bond yang elitis, VSTP lebih dinamis dan egaliter secara keorganisasian. VSTP mengusung ide-ide kesetaraan, persamaan ras, dan persamaan atas akses kenaikan jabatan tanpa memandang ideologi politik dan tempat kerja.

Karena itulah, perlahan VSTP mampu mengungguli SS Bond. Bahkan, SS Bond jadi makin tak populer dan akhirnya bubar pada 1912.

Untuk konteks zaman itu, VSTP punya posisi strategis sebagai organisasi buruh. Pasalnya, pada awal abad ke-20, kereta api merupakan transportasi darat paling penting di Jawa dan Hindia Belanda secara umum. Keberadaannya penting untuk menunjang didtribusi produk-produk indutri.

Sebagai organisasi, VSTP berperan untuk memperjuangkan kepentingan buruh perkeretaapian, terutama buruh pribumi. Pasalnya, sebagian besar buruh pribumi itu menduduki strata bawah dalam hierarki kepegawaian perusahaan perkeretaapian, baik swasta maupun milik negara. Selain itu, VSTP juga eksis untuk memberdayakan dan mengangkat harkat buruh bumiputera di hadapan tuan kolonial.

Sneevliet dan Semaoen

Tak hanya dinamis, VSTP juga radikal. Terutama, sejak kehadiran Henk Sneevliet ke Hindia Belanda pada 1913. Sebelumya, di Belanda, Sneevliet adalah ketua Nederlandse Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel (NVSTP). Sebagai sesama aktivis buruh perkeretaapian, tak heran jika dia segera mengorbit di lingkungan VSTP begitu sampai di Hindi Belanda.

VSTP pun kemudian berhubungan dengan Indische Social Demokratische Vereniging (ISDV) yang didirikan Sneevliet dan kawan-kawan sosialisnya pada 1914. Hubungan ini tentu saja membuat VSTP makin radikal lagi dan kuat dengan corak antikapitalisme.

Selain Sneevliet, sosok lain yang juga turut memengaruhi perjalanan VSTP adalah Semoen. Pada 1912, lulusan Sekolah Ongko Loro ini diterima bekerja di SS Surabaya. Kala itu Semaoen baru berusia 13 tahun.


Bekerja di jawatan kereta api membuat Semaoen segera terserap dalam pergaulanpara buruh. Hal itu ikut pula membentuk identitas dan karakternya yang masih remaja. Dia pun kemudian bergabung dengan VSTP.

Semaoen dan Sneevliet pertama kali bertemu pada medio 1915. Sneevliet kemudian jadi mentor politik Semaoen. Dari Sneevliet-lah, Semaoen belajar menulis dan bicara dalam bahasa Belanda. Dia pun kemudian terserap pula ke dalam ISDV.

“Ia [Semaoen] bertemu Sneevliet di Surabaya dan terkesan dengan sikap manusiawi dan tulis Sneevliet yang sama sekali bebas dari mentalitas kolonial Belanda," seperti dicatat Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1917 (1997).

Menurut sejarawan M.C Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2005, hlm. 262), sejak 1916, Semaoen membawa VSTP jadi makin lantang menyuarakan aspirasi kaum buruh.

Sejak tahun itu, Semaoen hijrah ke Semarang dan didapuk menjadi propagandis VSTP. Selain itu, Semaoen juga berkiprah di bidang jurnalistik. Dia bekerja sebagai redaktur koran Si Tetap, organ VSTP yang berbahasa Melayu.


Akar Kesadaran Politik

Krisis ekonomi dunia mulai meningkat sejak pertengahan 1922. Imbasnya pun sampai ke Hindia Belanda. John Ingleson dalam Road to Exile: The Indonesian Nationalist Movement 1927-1934 (1986, hlm. 228-229) menyebut krisis tersebut mengakibatkan pemotongan gaji buruh secara masif. Kaum buruh yang kehilangan pekerjaan pun jatuh ke jurang kemiskinan.

Pada 24 Mei 1922, Semaoen baru saja pulang dari Moskow usai menghadiri kongres buruh internasional. Melihat keadaan Hindia Belanda yang sedang berantakan secara ekonomi, Semaoen dan kawan-kawannya di VSTP lantas untuk menggalang gerakan revolusioner.

Dewi Yuliati dalam artikel “Nasionalisme Buruh Versus Kolonialisme: Suatu Kajian Tentang Gerakan Buruh di Semarang pada Awal Abad XX” yang dimuat jurnal ANUVA (Vol. 2, 2018, PDF) menyebut Semaoen menggalang dukungan organisasi-organisasi buruh untuk membentuk sebuah federasi.

Akhirnya pada tanggal 25 Juni 1922, Semaoen tersebut berhasil mengkonsolidasikan Persatoean Pegawai Pegadean Boemipoetera (PPPB), Peratoean Goeroe Hindia Belanda (PGHB), Persatoean Goeroe Bantoe, Personeel Fabriek Bond (PFB, Persatuan Buruh Pabrik), dan VSTP dalam sebuah federasi yang dinamai Persatoean Vakbonden Hindia (PVH).

Usai menggalang solidaritas buruh, pada Mei 1923, VSTP melakukan pemogokan massal di Semarang. Tuntutan para buruh menitik pada pemberian tunjangan, perbaikan upah dan kondisi kerja. John Ingleson dalam Buruh Serikat dan Politik Indonesia pada 1920an hingga 1930an (2015, hlm. 115-120) menyebut VSTP mengerahkan sekira 13.000 orang untuk ikut mogok massal.

“Pemogokan tidak hanya dilakukan oleh pegawai kereta api, tetapi juga oleh berbagai pekerja di kota ini: tram kota Jomblang-Bulu, bengkel kereta api Semarang-Juana, pegawai-pegawai bumiputera, pedagang-pedagang di pasar Johar dan Pedamaran, dan tukang-tukang sado,” tulis Yuliati.

Pemogokan massal di Semarang itu juga bergaung ke luar kota. Pemogokan akhirnya menjalar juga di stasiun Weleri, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Kertosono, Madiun, dan Surabaya.

Namun, pemerintah kolonial bergeming dan menjawab tuntutan buruh dengan tangan besi. Pemimpin-pemimpin serikat buruh banyak ditangkap dan diadili. Dengan dengan demikian, bisa dikatakan gerakan VSTP itu gagal.


Meski begitu, sepak terjang VSTP itu membuat para pekerja perkeretaapian Eropa ikut khawatir. Pokok soal yang membuat mereka gusar adalah suburnya pengaruh komunisme di kalangan anggota VSTP. Pada 1918, mereka sampai merasa perlu membentuk kembali organisasi buruh bernama Spoorbond.

Sebagaimana SS Bond, organisasi baru itu mentok hanya untuk mengakomodasi buruh Eropa. Kegagalan pemogokan massal VSTP pada Mei 1923 itu lantas membuka ruang untuk bagi Spoorbond untuk melebarkan sayap.

Usaha VSTP memang gagal, tapi kontribusinya bagi kebangkitan nasionalisme bumiputra tak bisa dikesampingkan begitu saja. VSTP merupakan organisasi bumiputera pertama yang mengakui persamaan hak pekerja tanpa memandang ras.

Pada 9 Mei dan 30 Mei 1927, Indische Courant yang berorientasi liberal memberitakan bahwa ada sebuah tuntutan VSTP yang berisi:

“Prinsipnya adalah persamaan hak untuk semua… namun dalam praktik, persoalannya adalah apakah para pekerja Eropa harus mengulurkan tangan bagi pekerja pribumi andaikata dengan itu ekonomi mereka terancam… Para pekerja Eropa di negeri ini pertama-tama melihat diri mereka sebagai orang Eropa dan baru kemudian sebagai pekerja.”

Baca juga artikel terkait BURUH KERETA API atau tulisan menarik lainnya Appridzani Syahfrullah
(tirto.id - Politik)

Penulis: Appridzani Syahfrullah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight