Menuju konten utama

Peran Joesoef Ronodipoero dalam Sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI

Joesoef Ronodipoero adalah tokoh yang berperan penting dalam menyiarkan proklamasi lewat radio. 

Peran Joesoef Ronodipoero dalam Sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI
Ilustrasi Joesoef Ronodipoero. tirto.id/Sabit

tirto.id - Masih terlalu dini menyebut Indonesia merdeka saat itu, usai dibacakannya teks proklamasi pada 17 Agustus 1945 oleh Sukarno-Hatta. Peristiwa itu justru menjadi babak awal untuk bisa mendapatkan kemerdekaan sepenuhnya. Sebab, untuk menjadi negara merdeka, Indonesia memerlukan pengakuan dari negara-negara lain yang berdaulat.

Oleh sebab itu, beragam cara dilakukan untuk menyebarluaskan proklamasi kemerdekaan Indonesia, baik di dalam atau luar negeri. Dalam Modul Sejarah Indonesia Kelas XI (Kemdikbud 2020) disebutkan, proses penyebarluasan berita proklamasi dilakukan melalui pembacaan berita di radio, pemuatan di media cetak, dan disampaikan melalui utusan daerah. Pada publikasi di radio, ada peran Joesoef Ronodipoero yang tidak bisa dilupakan.

Joesoef adalah penyiar dan jurnalis di radio Hoso Kyoku milik Jepang yang berlokasi di Jakarta. Pria kelahiran 30 September 1919 itu belum mendengar kabar tentang kabar merdekanya Indonesia.

Joesoef bersama teman-teman penyiarnya berada di gedung radio Hoso Kyoku. Mendadak kantor radio disegel oleh Kempetai. Orang-orang yang berada di dalamnya tidak diperbolehkan keluar dan gedung dijaga tentara Dai Nippon secara ketat.

Menyiarkan Teks Proklamasi Lewat Radio

Jurnalis radio Syahruddin dapat menyelinap masuk gedung dan membawa sepucuk kertas dari Adam Malik yang menjadi pemimpin gerakan pemuda kal itu. Isinya adalah coretan teks proklamasi yang dibacakan Sukarno, atas nama Bangsa Indonesia. Joesoef mendapat tugas untuk menyiarkan isi proklamasi melalui gelombang radio agar sampai ke dunia luar.

Namun, kendala yang dihadapi tidak mudah. Melansir dari situs RRI, studio siaran sempat tidak terhubung dengan pemancar. Atas bantuan seorang teknisi, masalah tersebut dapat diatasi.

Akhirnya Joesoef pun mulai menyebarluaskan kabar kemerdekaan ke seluruh dunia melalui radio. Dia menyampaikan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Radio internasional milik Inggris, Amerika Serikat, dan Singapura adalah sebagian yang telah menerima kabar itu, dan kemudian disiarkan kembali melalui stasiun radio miliknya. Informasi kemerdekaan Indonesia tersebar secara berantai dari situ.

Pihak Jepang cukup berang mengetahui hal itu. Joesoef dan semua yang terlibat dalam penyebarluasan proklamasi diberikan hukuman fisik. Siksaan untuk Joesoef yang paling berat, bahkan hendak dipenggal kepalanya memakai katana milik seorang perwira Jepang.

Tapi, Joesoef dapat selamat atas bantuan Letkol Tomo Bachi yang saat itu menjadi pemimpin Hako Kyoku. Dia memberi perintah pembebasan Joesoef. Kondisi Joesoef saat itu ada gigi yang lepas, pincang, dan baju robek.

Perjuangan Joesoef tidak sia-sia. Satu per satu dunia internasional memberikan pengakuan terhadap kedaulatan Indonesia. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946. Pengakuan yang sama ditunjukkan pula oleh Palestina dan negara-negara Timur Tengah lainnya, serta India.

Baca juga artikel terkait HUT RI KE-76 atau tulisan lainnya dari Ilham Choirul Anwar

tirto.id - Humaniora
Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Alexander Haryanto