Advertorial

Peran Besar Dimulai dari yang Kecil

Ilustrasi seller Lazada. FOTO/Lazada
Oleh: Advertorial - 4 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
UKM berperan besar bagi perekonomian Indonesia, di antaranya, menyerap tenaga kerja dan berkontribusi terhadap PDB.
Membangun bisnis itu tak gampang, tapi mengembangkan apa yang sudah dibangun nyatanya jauh lebih menantang.

Bisnis-bisnis baru bertumbuhan bak jamur di musim hujan, tapi tak sedikit pula yang malah memutuskan berhenti bahkan ‘sebelum musim berganti’. Ada banyak sebab: modal mentok, kalah saing, kesalahan manajemen, dan lain-lain. Beragam tantangan itu pula yang dihadapi oleh para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk berkembang, atau bahkan sekadar bertahan.

Pada dasarnya, UKM adalah jenis usaha yang terbukti mampu bertahan dari paparan krisis ekonomi dunia dibandingkan banyak perusahaan raksasa. Saat terjadi krisis moneter 1998, juga krisis 2008 dan 2009, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Bank Indonesia menyebut 96 persen UKM selamat dari goncangan krisis.

Namun “ketahanan” itu malah terasa ironi jika bicara soal permodalan. Data Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan menyebut 70 persen dari total hampir 60 juta unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum mendapat akses pembiayaan dari perbankan. Ini bisa jadi salah satu faktor mengapa usaha kecil jumlahnya tak kunjung beranjak, yakni hanya sekitar 1,20 persen, sementara usaha menengah sekitar 0,09 persen.

Padahal UKM punya peran besar bagi perekonomian Indonesia. Peran itu, menurut Bappenas, tak lepas dari penyerapan tenaga kerja dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB).

Hingga pertengahan 2019, jumlah usaha kecil mencapai hampir 63 juta. Sumbangannya tak bisa dipandang sebelah mata: 60 persen terhadap PDB nasional dan 14 persen terhadap total ekspor nasional.

Karena itu sangat masuk akal jika Pingkan Audrine Kosijungan, peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), berpendapat peningkatan kontribusi UMKM terhadap pendapatan nasional harus terus diupayakan.

Upaya itu bisa datang dari mana saja, salah satunya seperti yang selama ini dilakukan Lazada—perusahaan e-commerce Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 2012 yang lalu. Perusahaan yang didukung oleh perusahaan teknologi ternama di dunia, Alibaba ini sudah beroperasi selama delapan tahun di Indonesia dan sekarang, teknologi, inovasi dan pengetahuan berdasarkan pengalaman Alibaba juga sudah terbuka untuk sellers Lazada

Dukungan Penuh bagi Pengusaha Kecil

Tak terasa, selama delapan tahun ada di Indonesia, Lazada konsisten berkontribusi mengembangkan bisnis retail dan UKM. Wadah online bagi pelaku UKM ini tak hanya memberikan peluang bisnis tanpa modal, melainkan juga dukungan pemasaran 100 persen. Pendek kata, Lazada menempatkan para seller sebagai bagian yang istimewa.

Sebagai gambaran, di Lazada, pebisnis retail dan UKM bisa berjualan online secara cuma-cuma—tanpa biaya promosi dan semacamnya—tapi memiliki kesempatan bertemu 260 juta calon pembeli. Mereka bahkan bebas menikmati beragam fasilitas pemasaran. Hal demikian dirasakan betul oleh, salah satunya, Yulius Halim. Pemilik merek Flexzone ini mendapat dukungan penuh dari Lazada sejak 2016.

“Saat bergabung dengan Lazada, saya melihat e-commerce ini berbeda dari lainnya karena memiliki fokus pada penjual lewat pertemuan rutin dan adanya komunitas yang kuat untuk para penjual,” kenangnya. Pebisnis bisa mengikuti kelas online maupun offline, mulai dari cara berjualan online sampai panduan untuk meningkatkan kinerja penjualan toko di Lazada University.

Yulius menambahkan, Lazada juga memberikan banyak kesempatan tiap kali menggelar event dan campaign besar sehingga brand didorong terus untuk dapat berkembang pesat. Hal ini penting, mengingat ada banyak kendala yang dihadapi para pebisnis pemula, terutama soal modal dan penjualan. “Semua sangat berat, terutama ketika memperkenalkan produk kepada kalangan luas.”

Lazada bahkan menyediakan aplikasi seller center yang memudahkan pebisnis menambahkan produk maupun memantau pesanan konsumen. Selain informasi terkait stok, ada pula laporan harian yang tujuannya membantu seller memahami pelanggan dan melakukan evaluasi penjualan, serta tim support center yang memastikan pebisnis mendapat pengalaman berjualan online yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Omong-omong soal belanja online, hal yang tak bisa dipisahkan dari aktivitas ini adalah urusan logistik. Lazada memperhatikan betul aspek tersebut dengan menghadirkan layanan logistik kelas dunia Fulfillment by Lazada (FBL). Tujuannya jelas: demi memastikan produk terkirim di mana pun pelanggan berada. Pengambilan barang dari tempat seller, penyediaan gudang penyimpanan, pengemasan, pengiriman, hingga pengembalian barang ditangani oleh Lazada. Inilah yang menegaskan posisi Lazada sebagai e-commerce dengan ekosistem logistik terlengkap di Asia Tenggara. Ya, selain memiliki FBL, perusahaan ini juga memiliki armada kurir sendiri, Lazada Express.

“Teknisnya sederhana, kami siapkan barang untuk di-pick up oleh tim warehouse Lazada, lalu mereka akan pick up dan melakukan QC. Beberapa waktu kemudian, stok akan tercantum dan saat ada penjualan atau stok menipis akan muncul notifikasi untuk pengisian stok ulang,” cerita mantan karyawan perusahaan multinasional itu kepada Tirto.

“Saat ini, Lazada memiliki 12 warehouse yang tersebar di 5 kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Medan dan Makassar. Tiga di antaranya adalah gudang untuk barang berukuran besar (bulky warehouse), 2 pusat penyortiran, 47 last mile hub untuk pengiriman dengan lebih dari 8.000 kurir di jaringan LEX,” demikian keterangan pihak Lazada.

Fasilitas itu dibuat agar pebisnis lebih fokus pada pengembangan usahanya—menghadirkan produk terbaik dengan harga menarik. Dampaknya, sebagaimana dirasakan Yulius, seller jadi bisa fokus pada pengembangan brand dibandingkan operasional.

Salah satu Warehouse Lazada dengan luas lebih dari 9.000 m² terletak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Bagi pengusaha kecil dan menengah Surabaya maupun Malang, Mojokerto, Gresik, dan kota lain di sekitarnya, keberadaan warehouse ini memberikan keuntungan lebih: memungkinkan mereka menjangkau lebih banyak konsumen di seluruh negeri.

Fasilitas FBL tak cuma memanjakan pelanggan dengan ketepatan waktu pengiriman dan ongkos kirim yang lebih murah—hal yang amat berguna terutama dalam situasi peak season—juga, dan ini yang utama, meningkatkan performa seller karena penanganan barang dilakukan dengan cepat.

Yulius tertarik berbisnis sejak masih bekerja kantoran. Merek Flexzone pun hadir sesuai dengan kegemarannya pada bidang olahraga. “Brand ini dibangun dengan tujuan memberi pakaian olahraga yang affordable untuk masyarakat tapi dengan kualitas tinggi. Tagline kami adalah ‘100% Indonesia’, di mana produksi dari Indonesia, untuk masyarakat Indonesia, dan tetap menjaga lingkungan Indonesia lewat kemasan non-plastik.”

Memutuskan untuk fokus berwirausaha setelah 14 tahun berkarier tentu bukan perkara mudah bagi Yulius. Begitu pula bagi pelaku UKM lain, semuanya telah melewati proses panjang dan berhadapan dengan keputusan-keputusan besar untuk bisa maju bersama bisnisnya. “Mental yang kuat diperlukan untuk terus berjalan,” kata Yulius, mengingatkan.

Beruntung, Lazada membuat segalanya menjadi lebih mudah. Demi meningkatkan performa sellers, misal, Lazada terus melalukan inovasi dengan menurunkan tim khusus (tim sellers engagement) yang aktif membantu proses onboarding para penjual baru saat memulai perjalanan digital mereka bersama Lazada.

“Saat ini kami memiliki puluhan ribu penjual yang berjualan setiap hari dan melalui Lazada Club serta Lazada University, kami memberikan platform bagi para penjual untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berjualan mereka baik dari sesama penjual maupun para ahli dari tim Lazada,” kata Haikal Bekti Anggoro, SVP Traffic Operations & Sellers Engagement.

Haikal menambahkan, Lazada juga punya LazStar Academy yang merupakan hasil kerja sama dengan induk perusahaannya, Alibaba, di mana penjual terbaik Lazada yang telah disertifikasi dapat memberikan training eksklusif berbayar kepada seller Lazada lainnya untuk memperkuat penjualan online.

Bertolak dari paparan di atas, jelas, di tengah sulitnya menjalani laku bisnis secara konvensional, hanya perlu hitungan menit untuk menjadi seller Lazada—selangkah lebih dekat pada impian besar menjadi wirausahawan.

Kini, kamu hanya perlu modal keberanian untuk memulai, serta mental yang kokoh untuk bertahan dan berkembang—sebagaimana yang tampak pada bisnis Yulius. Bersama Lazada, tentu, Yulius tidak sendirian.
DarkLight