Penyitaan Kapal Tanker Melibatkan Cina, Memicu Sentimen AS-Iran

Oleh: Zakki Amali - 28 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Cina meminta kepada Indonesia untuk adil dalam menegakkan hukum, sedangkan Iran mendesak penjelasan detail terkait penyitaan.
tirto.id - Sebuah kapal milik perusahaan tanker terbesar di Timur Tengah ditahan oleh aparat Badan Keamanan Laut atau penjaga pantai Indonesia. Kapal MT Horse mengangkut dua juta barel minyak mentah milik National Iranian Tanker Company kini berada di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Tiga hari sebelumnya, kapal super tanker berbendera Iran dengan bobot 163.660 GT ini tertangkap basah melanggar kedalautan Indonesia di perairan Pontianak, Kalimantan Selatan. MT Horse sedang memasok minyak mentah (ship to ship) secara ilegal ke super tanker MT Freya yang terdaftar di Panama dan dikelola perusahaan logistik asal Shanghai, Cina.

Lokasi tangkap tangan kapal asing didapati berada di sekitar Selat Sunda, dekat dengan Natuna dan Laut Cina Selatan.

MT Freya bertolak dari Pelabuhan Bayuquan, Kota Yingkou, Provinsi Lioning pada 6 Januari 2021, menurut situs web pelacak vessel Marine Traffic. Sebelum dipergoki menerima minyak mentah dari kapal Iran di perairan Pontianak pada Minggu (24/1/2021), MT Freya terlihat di lepas pantai Singapura.

Dalam transfer minyak sebagian tumpah ke perairan sekitar tanker melego jangkar, menjadikannya sebagai pelanggaran lingkungan.

Menurut Kepala Bagian Humas dan Protokol Bakamla, Kolonel Wisnu Pramandita pelanggaran lain lebih serius yakni mematikan transpoder sehingga kapal hilang dari radar. Sesuai aturan internasional dan Indonesia, setiap kapal asing yang melintas wajib menghidupkan sistem pelacakan demi keselamatan dan transparansi.

Automatic identification system (AIS) dapat diakses publik dan negara. Kapal yang mematikan transpoder dicurigai melakukan tindakan ilegal. Hal tersebut terbukti dengan transaksi ilegal antarkapal yang sedang diselidiki ini.


Aparat akhirnya bisa menangkap basah berkat pengamatan visual yang dibarengi penggeledahan kapal. Kedua tanker tampak kapal tanpa nama, karena bendera disembunyikan dan nama di lambung ditutup kain. Dalam komunikasi radio, kedua kapal tidak menjawab. Petugas akhirnya menginspeksi kapal dan menemukan berbagai pelanggaran.

"Dugaan awal, kedua kapal tanker melanggar hak lintas transit, melaksanakan ship to ship transfer BBM ilegal, tidak mengibarkan bendera kebangsaan, AIS dimatikan serta MT Freya membuang limbah minyak mentah," kata Wisnu Pramandita, Minggu (24/1)

Saat sandar di pelabuhan di Batam, petugas mulai menyelidiki lebih dalam. Semua awal kapal ditahan di masing-masing kapal. Terdapat 61 ABK terdiri atas 36 orang warga Iran di MT Horse dan 25 orang warga Cina di MT Freya.

Iran dan Cina Protes

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian memastikan ada 25 WNA Cina. Kedutaan Besar Cina menyatakan keprihatinan kepada Indonesia atas penangkapan kapal dan warga Cina. Cina meminta agar penyelidikan berjalan adil dan sesuai dengan hukum.

Zhao juga mendesak agar pemerintah menyampaikan kondisi terkini ABK Cina yang ditahan, melansir Reuters, Rabu (27/1).

Kapal tanter MT Freya menurut Reuters dikelola oleh Shanghai Future Ship Management Co di bawah perusahaan bernama Shanghai Chengda Ship Management. Operator kapal dan pernyataan pemerintah Cina menguatkan dugaan keterlibatan ABK Cina dalam transaksi minyak ilegal kendati kapal berbendera Panama.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh menyebut penyebab penyitaan karena masalah teknis yang biasa terjadi di bidang perkapalan, akan tetapi belum teratasi.

“Organisasi pelabuhan kami dan perusahaan pemilik kapal sedang mencari penyebab masalah ini dan menyelesaikannya," kata Khatibzadeh, Senin (25/1), melansir Reuters.


Iran, katanya, telah meminta penjelasan detail kepada pemerintah Indonesia terkait penyitaan karena ada berbagai laporan terkait kasus ini.

Penyitaan ini memicu sentimen global karena Iran berada dalam tekanan pemerintah Amerika Serikat terkait pembatasan sanksi dagang. Namun, penangkapan ini dipastikan bukan atas permintaan AS.

Terkait penyitaan ini, seorang juru bicara Kedutaan AS di Jakarta kepada Reuters mendukung langkah pemerintah Indonesia menegakkan transparansi di laut. Pemerintah AS juga mendukung Indonesia untuk memastikan standar keselamatan dan kepatuhan lingkungan lewat penegakan sistem pelacakan sesuai standar internasional.

Saat ini pemerintah telah membentuk tim berisi perwakilan kementerian dan lembaga untuk memulai penyelidikan panjang atas beragam pelanggaran. Tim memerlukan penerjemah bahasa Parsi untuk wawancara ABK asal Iran. Semua ABK juga akan menjalani tes COVID-19 untuk memastikan kesehatannya.

"Setiap pelanggaran tentu membutuhkan dokumen tersendiri, termasuk dua kapal ini, jadi rangkap," juru bicara Bakamla, Wisnu Pramandita, Rabu (27/1), melansir Antara.

Tim penyelidik terdiri atas Bakamla, Kemenlu, Kemenhub (Hubla), Kemenkeu (DJBC), Kemenkumham (imigrasi), Kementerian LH, Kementerian ESDM, TNI AL dan polisi.

Baca juga artikel terkait PELANGGARAN LAUT atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Rio Apinino
DarkLight