Penyerapan Karet Dalam Negeri untuk Campuran Aspal Capai 7 Persen

Oleh: Hendra Friana - 21 Januari 2019
Kementerian Perindustrian mengklaim pemanfaatan karet dalam negeri oleh pemerintah untuk campuran aspal sudah mencapai tujuh persen
tirto.id - Langkah pemerintah untuk menyerap karet dari perkebunan masyarakat untuk perbaikan harga komoditas tersebut mulai berjalan. Salah satunya, pembelian karet oleh pemerintah untuk campuran aspal.

Plt Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, Pemanfaatannya sudah mulai berjalan sekitar tujuh persen.

"Yang banyak ternyata jalan kabupaten. Empat kali lipat dari jalan pusat, sekitar 380.000 kilometer. Itu untuk seluruh Indonesia," ujar Sigit di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).

Sigit menyebutkan, penggunaan karet untuk campuran aspal ini terus diperluas dan jumlahnya diharapkan terus meningkat ke berbagai daerah dalam beberapa bulan mendatang.

Sejauh ini, kata dia, penggunan karet untuk campuran jalan di beberapa jenis jalan, mulai dari jalan nasional, provinsi, dan kabupaten sudah teruji aman.

"Teman-teman Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) sudah memanfaatkan aspal karet. Nah akan diperluas lagi rapatnya untuk pemerintah daerah (pembahasan karet). Pemerintah didorong menggunakan aspal karet," imbuhnya.



Proyek yang menjadi tugas Kementerian PUPR ini sebenarnya direncanakan dan dimulai pada tahun 2018. Di tahun 2019 ini, proyek itu dilanjutkan untuk perbaikan jalan di Sumatera Selatan, Jambi, Medan, dan Kalimantan.

Dalam rapat koordinasi di Kemenko perekonomian pekan lalu, penyerapan karet dari masyarakat ini juga diminta dilakukan secara sistematis di berbagai daerah.

Bahkan, pemerintah juga mengikutsertakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk mendorong pemerintah daerah mendukung penyerapan karet pada jalan di daerahnya.


Baca juga artikel terkait ASPAL atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno