Penyelamat dan Penista Penampilan Musisi: Lip Sync

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 5 Januari 2017
Dibaca Normal 4 menit
Teknologi rekaman pada dunia musik telah melahirkan sebuah teknik yang kelak menjadi penista namun juga penyelamat seorang musisi ketika tampil secara live di panggung, yakni teknik sinkronisasi bibir, atau lazim disebut Lip Sync. Sejak kemunculannya, industri musik tak lagi sama.
tirto.id - Di dunia musik, nama Mariah Carey adalah jaminan mutu. Namun, jaminan itu hanya valid di era 1990-an, bukan di tahun 2016 ini. Kini, namanya makin identik dengan penyanyi sinkronisasi bibir atau lip sync, terlebih sejak penampilannya di Times Square, New York, Amerika Serikat, pada malam tahun kemarin.

Masyarakat dunia terkejut, dan hingga hampir seminggu setelah penampilan tersebut, media-media internasional masih terus memberitakannya, entah itu dalam bentuk opini, ataupun klarifikasi dari pihak sang diva internasional itu. Terakhir, Tommy Mottola, mantan suami Mariah, pada Rabu (1/4/2016) waktu setempat, mengatakan bahwa Mariah sebaiknya memecat penasihatnya dan "menyewa profesional yang lebih berpengalaman dan dihormati," demikian seperti dikutip dari Billboard.

Mariah sesungguhnya tidak hanya kali ini melakukan lip sync dalam penampilan live-nya. Penyanyi yang terkenal dengan teknik whistle voice itu sudah melakukannya sejak lama. Masalahnya, ia adalah seorang penyanyi lip sync yang buruk.

Pada tahun 2002, ia menyanyikan bagian rapper Busta Ryhmes ketika menyanyikan lagu "I Know What You want" dalam sebuah acara live. Pada 2008, ia juga tidak melakukannya dengan baik ketika menyanyikan lagu "Touch My Body" pada acara Good Morning America. Acara tahun baru kemarin adalah yang terparah sepanjang karier Mariah sejak ia merengkuh popularitas sebagai diva internasional.

Ia seakan sudah tidak peduli lagi akan penampilannya pada acara Dick Clark’s New Year’s Rockin’ Eve With Ryan Seacrest itu. Mengawali penampilannya dengan lagu "Auld Lang Syne" dengan tidak terlalu meyakinkan, ia kemudian memilih untuk hampir sama sekali tidak menyanyi pada lagu "Emotions." Pada lagu terakhirnya yang cukup terkenal "We Belong Together," sang diva juga gagal melakukan teknik lip sync dengan baik.

Kontroversi pun bermunculan. Kepada Billboard, perwakilannya Nicole Perna mengatakan, Mariah sesungguhnya telah berlatih berjam-jam sebelum penampilan itu dan ia gagal hanya karena produser acara itu mengatakan ear piece yang ia kenakan tidak berfungsi namun menolak untuk memperbaikinya sehingga Mariah tidak dapat mendengar musiknya.

Hal itu dibantah oleh tim produksi acara itu. Seorang narasumber dari tim produksi mengatakan bahwa Mariah "memiliki waktu yang cukup banyak untuk melakukan rehearsal, tetapi memilih tidak melakukannya."

"Musik itu disediakan oleh timnya, ada tidak kurang dari delapan wedges audio monitor di depannya dan penari tidak punya masalah melakukan sinkronisasi dengan musik," sebut sang narasumber.

Sementara itu, audio produser veteran Robert Goldstein dari Maryland Sound International, yang bekerja pada acara tersebut, mengatakan, "Setiap perangkat monitor dan in-ear bekerja dengan sempurna. Saya tidak bisa mengomentari lebih dari itu dan tidak tahu apa masalah nonteknis apa yang [Mariah] mungkin telah alami."

Yang Selamat dan Dicerca Karena Lip Sync

Pada mulanya teknik lip sync banyak dipakai pada acara-acara televisi. Pun demikian, pemakaian teknik itu sesungguhnya selalu tidak lepas dari kritikan dari para musisi itu sendiri.

Meluncur kembali pada tahun 1991, Nirvana pernah melakukan aksi protes terhadap permintaan untuk melakukan penampilan live di acara Top of the Pops dengan menggunakan backing track (audio yang diputar minus vokal, vokal dinyanyikan secara live).

Acara tersebut berjalan, namun Nirvana melakukannya dengan asal-asalan. Kurt Cobain mengganti lirik lagu "Smells Like Teen Spirit" yang mereka bawakan, sementara Dave Grohl memukul drumnya seenak jidat dan Krist Novoselic menari-nari liar sembari memutar-mutar gitar bass-nya di panggung.

Ada pula Iron Maiden pada tahun 1986 pada kemunculannya di stasiun televisi Jerman P.I.T dan Iggy Pop pada acara musik televisi Countdown di Australia tahun 1979 yang melakukan protes juga melalui penampilannya yang seenaknya sendiri.

Infografik Para Penyanyi yang Tak Bernyanyi


Seiring dengan perkembangan zaman, teknik itu, mau tidak mau, dapat dikatakan sudah menjadi bagian dari penampilan live, yang kemudian akhirnya semakin menambah kontroversi. Sebab, apa gunanya menambah embel-embel live pada pertunjukan musik jika yang diperdengarkan adalah rekaman dan musisi tersebut hanya melakukan akting di panggung?

"Melakukan lip sync telah dikaitkan dengan sesuatu yang biasanya merupakan sebuah pelanggaran mengerikan untuk musisi panggung," kata wartawan seni dan hiburan Chuck Taylor, seperti dikutip dari ABC News. "Memahami apakah sebuah penampilan merupakan penampilan langsung atau tidak adalah [...] sebuah hal yang sangat rapuh."

Meski demikian, eksekutif editor majalah Billboard Robert Levine tidak melihat lip sync sebagai suatu hal yang salah dan tabu dalam industri pertunjukan live. Dalam komentarnya terhadap lip sync yang dilakukan oleh Jennifer Hudson pada acara Super Bowl 2009, ia menilai langkah produser acara tersebut sudah benar.

"Jika Jennifer Hudson melakukan kesalahan dalam menyanyikan lagu kebangsaan, orang-orang akan marah. Orang ingin penampilannya menjadi sempurna secara teknis serta menginspirasi secara emosional. Dapatkah Anda menjamin hal itu dalam penampilan live? Mungkin. Tapi akan baik untuk memiliki asuransi."

Levine juga memiliki jawaban tersendiri mengapa teknik lip sync semakin sering digunakan dalam acara-acara yang bersifat live, terutama pada acara-acara musik pop. Ia mengatakan pada umumnya, di dalam musik jazz dan opera, terdapat penyanyi dengan teknik yang hebat. Meski demikian penonton tidak begitu peduli akan kesempurnaan pada mereka.

Hal ini, lanjutnya, berbeda dengan yang terjadi pada musik pop. Ia mengatakan bahwa generasi muda saat ini sudah sangat terpengaruh dengan "kesempurnaan" estetis pada musik pop, terutama semenjak industri rekaman memiliki teknologi auto tune – teknologi yang mampu menjaga kestabilan nada para penyanyi ketika mereka sedang berada di dapur rekaman.

"Seiring dengan musik pop menjadi lebih sempurna secara artifisial, anak-anak yang dibesarkan di estetika tersebut menginginkan kesempurnaan itu. Ketika Anda terbiasa dengan segala sesuatu berada pada nada yang tepat, Anda tidak ingin mendengar yang lainnya lagi," kata Levine.

Kombinasi dari tekanan hebat dalam industri pertunjukan akan kesempurnaan dan semakin rumitnya penampilan live di industri hiburan modern kemudian turut menyuburkan praktik lip sync ini. "Saya pikir ada kalanya seniman diperbolehkan [melakukan lip sync], karena acara hiburan telah menjadi begitu besar, baik dalam hal produksi, menari, dan berputar-putar pada trapeze," jelas Taylor.

Teknisi audio yang mendapat nominasi Piala Oscar, Ariel Chobaz sependapat dengan Taylor. Ia mengatakan bahwa pada akhirnya ada sangat sedikit ruang untuk kesalahan jika acara siaran itu merupakan acara yang besar, dan terkadang, apapun yang terjadi acara tersebut harus tetap berjalan. Termasuk ketika penyanyi yang akan tampil sedang sakit, sehingga harus bergantung pada rekaman audio yang telah direkam sebelum acara dimulai.

Kendati demikian, melakukan lip sync bukanlah perkara mudah dalam penampilan live. Banyak artis yang terjerembab dan dicerca karenanya, entah karena itu akibat kesalahan teknis, ataupun karena ketidakmampuan dari sang penyanyi itu sendiri. Duo R&B Milli Vanilli telah merasakannya pada tahun 1989, pun demikian dengan Ashlee Simpson pada acara televisi Saturday Night Live tahun 2004.

Yang paling parah mungkin dialami oleh Britney Spears. Selebriti pop yang terkenal dengan tarian seksi dan kemampuan lip sync-nya tersebut harus menekan pil pahit tahun 2009, ketika penonton konser "Circus Tour"-nya di Australia berjalan pergi meninggalkan tempat pertunjukan sembari mengucapkan sumpah serapah karena penampilannya yang sangat buruk pada konser itu.

Britney memang tidak pernah menjual suara indah. Kekuatannya adalah pada performanya ketika tampil secara live, termasuk pada atraksi dan tarian yang ia lakukan. Ketika itu hilang, dan hal itu terjadi pada konser tahun 2009 tersebut, maka tidak ada lagi yang tersisa pada dirinya sebagai seorang artis panggung.

Raja musik pop almarhum Michael Jackson dan penyanyi klasik kenamaan Italia almarhum Luciano Pavarotti merupakan beberapa yang berhasil melakukan penampilan lip sync dengan gemilang. Michael melakukannya ketika membawakan lagu "Billie Jean" pada acara Motown 25 tahun 1983. Hal itu merupakan kompensasi atas tarian Moonwalk briliannya dan sempitnya waktu persiapan yang tersedia.

Pavarotti, di sisi lain, melakukan lip sync pada penampilannya di Olimpiade Musim Dingin tahun 2006 yang membawakan aria dari Nessun Dorma sebelum ia meninggal di bulan September tahun berikutnya. Penampilan itu begitu hebat, hingga seorang penggemarnya menuliskan sebuah komentar pujian di Youtube.

"Mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memotong nada tinggi yang terakhir untuk mencocokkan dengan rekaman merupakan suatu yang hampir tidak mungkin ... Ini merupakan live, itu adalah dia," tulis sang penggemar, seperti dikutip dari The Guardian.

Cuaca ekstrem dan kondisi Pavarotti yang sakit kanker menjadi sebab mengapa penampilan itu menggunakan teknik lip sync. Sebagai catatan, hal ini baru terungkap tahun 2008 ketika buku berjudul Pavarotti Visto Da Vicino diterbitkan pada bulan April.

Jika melihat kenyataan yang ada, penggunaan lip sync yang makin ekstrem jelas semakin tidak terhindarkan. Meski demikian, Chobaz mengatakan separah apapun penyanyi atau musisi melakukan lip sync, jika seseorang tidak memiliki emosi, perasaan dan kualitas yang tepat maka ia tidak akan pernah menjadi seorang bintang. "Anda harus memiliki sihir kualitas tertentu untuk benar-benar membuatnya bekerja," katanya.

Tentunya, hal ini juga berlaku untuk mereka yang sudah menyandang status bintang. Sebab, penonton mana yang tahan jika terus menerus ditipu dengan suara dan bunyi-bunyian palsu ketika mereka sudah membayar harga yang mahal untuk menonton pertunjukan para musisi tersebut?

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Musik)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara