Penyebab Perubahan Iklim, Fakta dan Solusinya

Oleh: Febriansyah - 6 Desember 2019
Dibaca Normal 2 menit
Para ilmuwan sepakat bahwa sebagian besar kerusakan lingkungan seperti hutan gundul, kekeringan, air laut naik dan gunung es mencair, memicu pemanasan global.
tirto.id - Perubahan iklim adalah perubahan pada suhu, curah hujan, pola angin dan berbagai efek-efek lain secara drastis. Dilansir dari laman ditjenppi.menlhk.go.id, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan perubahan iklim sebagai gejala yang disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia.

Hal tersebut turut mengubah komposisi dari atmosfer global dan variabilitas iklim alami pada periode waktu yang dapat diperbandingkan.

Komposisi atmosfer global yang dimaksud adalah komposisi material atmosfer bumi berupa Gas Rumah Kaca (GRK) yang di antaranya, terdiri dari Karbon Dioksida, Metana, Nitrogen, dan sebagainya.

Perubahan iklim dapat diukur dalam bentuk statistik melalui International Panel on Climate Change. Salah satu perubahan iklim yang sering terjadi adalah bencana alam yang terkait dengan peningkatan suhu bumi.

Dilansir Lingkunganhidup.co, suhu rata-rata bumi telah meningkat sebesar 1,5 derajat Farenheit di bandingkan beberapa abad lalu. Suhu ini diperkirakan akan naik lagi seratus tahun ke depan sebesar 0,5 sampai 8,6 derajat Farenheit.

Dalam data NASA, tahun 2016 adalah tahun terhangat yang pernah tercatat. Data NASA dan NOAA menunjukkan bahwa rata-rata global pada 2016 adalah 1,78 derajat F (0,99 derajat C) lebih hangat daripada rata-rata pertengahan abad ke-20. Kenaikan suhu seperti ini berpotensi menciptakan iklim berbahaya bagi kelangsungan hidup.

Salah satu dampak berbahaya yang kini dihadapi adalah efek Gas Rumah Kaca. Gas Rumah Kaca (Green House Gases) adalah gas-gas di atmosfir yang memiliki fungsi menangkap energi matahari agar tidak kembali lagi seutuhnya ke atmosfir. Gas Rumah Kaca berfungsi menjaga suhu bumi tetap stabil.

Tetapi saat konsentrasi Gas Rumah kaca semakin meningkat membuat lapisan atmosfer semakin tebal. Penebalan lapisan atmosfer ini akhirnya menyebabkan jumlah panas bumi yang terperangkap di atmosfer bumi semakin banyak, sehingga mengakibatkan peningkatan suhu bumi atau pemanasan global.

Beberapa senyawa yang menyebabkan gas rumah kaca adalah Karbon dioksida (CO2), Nitro Oksida (NOx), Sulfur Oksida (Sox), Metana (CH4), Chloroflurocarbon (CFC) dan Hydrofluorocarbon (HFC)

Penyebab Perubahan Iklim

Aktivitas manusia menjadi pemicu dasar perubahan iklim ini. Para ilmuwan sepakat bahwa sebagian besar kerusakan lingkungan seperti hutan gundul, kekeringan, air laut naik dan gunung es mencair, memicu pemanasan global yang merupakan akibat ulah manusia.

Dilansir WWF, aktivitas manusia berupa pembakaran bahan bakar fosil dan deforetasi dan kegiatan industri menjadi penyebab efek rumah kaca. Selain itu aktivitas-aktivitas manusia sehari-hari seperti:

1. Mengendarai kendaraan bermotor

Bensin mengandung banyak polusi kimia termasuk CO2. Konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer kita, pada 2018, adalah yang tertinggi dalam 3 juta tahun.

2. Sampah

Tempat pembuangan sampah merupakan lokasi pembusukan sampah yang mengandung banyak gas methan.

3. Kulkas

Gas CFC dapat menciptakan kondisi buruk efek rumah kaca 10 ribu kali lebih buruk dari CO2. CFC juga menghancurkan ozon, bagian penting yang berada di lapisan atas atmosfer. Senaywa ini berada dalam alat pendingin di rumah kita.

4. Pertanian dan peternakan

Saat petani menambah pupuk penyubur nitrogen ke dalam tanah, beberapa dari nitrogen tersebut berubah menjadi Nitro Oksida (N2O), gas rumah kaca yang sangat kuat. Sapi menciptakan gas methan saat rumput mengalami peragian di perut mereka. Ada sekitar 1,2 miliar ternak sapi didunia, semuanya menambah kadar gas rumah kaca seluruh dunia.


Solusi yang bisa dilakukan


Conversation International menjelaskan bahwa alam merupakan solusi yang paling baik dalam menangani perubahan iklim. Hutan tropis sangat efektif untuk menyimpan karbon dan mencegah skenario perubahan iklim terburuk. Sayangnya, solusi berbasis alam masih hanya menerima 2 persen dari seluruh pendanaan iklim.

Padahal menurut laporan Conversation solusi iklim alami seperti mengakhiri deforestasi dan memulihkan hutan yang terdegradasi, pada tingkat global, dapat menciptakan 80 juta lapangan kerja, membawa 1 miliar orang keluar dari kemiskinan dan menambah 2,3 triliun dolar Amerika dalam pertumbuhan produktif.

Oleh sebab itu, Conservation bekerja mencapai deforestasi nol-bersih di Amazonia pada tahun 2020 untuk melindungi sumber daya penting, mengurangi perubahan iklim dan meningkatkan kemakmuran bagi masyarakat.

Conservation International juga menasihati lebih dari 20 negara untuk membantu menempa Perjanjian Paris, pakta iklim pertama dari jenisnya yang mengakui peran kunci yang harus dimainkan oleh alam dalam setiap solusi perubahan iklim.


Baca juga artikel terkait PERUBAHAN IKLIM atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Febriansyah
Penulis: Febriansyah
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight