Penyebab Pendaki Gunung yang Hipotermia Buka Baju Saat Kedinginan

Oleh: Dewi Adhitya S. Koesno - 27 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Apa penyebab pendaki gunung yang hipotermia membuka bajunya saat dalam kondisi kedinginan dan tubuh menggigil?
tirto.id - Seorang pendaki gunung Andi Sulistyawan baru-baru ini ditemukan tewas di Gunung Lawu. Video mengenai aktivitas Andi sebelum meninggal pun mendadak viral.

Sebuah unggahan video YouTube dari akun Udien Jagoan merekam aktivitas Andi sebelum ditemukan meninggal dunia di Gunung Lawu pada Jumat, 24 Juli 2020.

Video yang diunggah pada Rabu (22/7/2020) tersebut merekam gelagat aneh dari korban Andi.

Dalam rekaman, terlihat Andi sedang mencari kayu bakar di Gegerboyo. Saat mengumpulkan kayu, Andi justru melepaskan pakaiannya untuk membungkus kayu bakar tersebut.

Meski tubuh Andi tampak menggigil, tetapi ia terus menyelimuti ranting kayu dengan kaos dan jaketnya. Padahal, saat kejadian, suhu Gunung Lawu begitu dingin.

Saat perekam video menanyakan kepada Andi Sulistyawan mengapa ia mengumpulkan kayu-kayu tersebut, Andi pun menjawab "Untuk Mbok," yang tak jelas maksud Mbok yang dia sebut itu.



Penyebab Hipotermia


Hipotermia merupakan salah satu kendala yang sering dikhawatirkan para pendaki saat menjejakkan kakinya di gunung. Tak sedikit dari mereka yang harus meregang nyawa karena serangan yang jamak terjadi di ketinggian ini.

Menurut laman NHS, hipotermia adalah suatu kondisi di mana tubuh kesulitan mengatur keseimbangan suhu karena tekanan udara dingin.

Kondisi ini disebabkan suhu bagian dalam tubuh berada di bawah 35°C. Padahal, tubuh manusia hanya mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5 hingga 37,5°C.

Di luar suhu tersebut, respons tubuh untuk mengatur suhu akan aktif. Dan menyeimbangkan antara produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.

Dokter spesialis kejiwaan dr Nurul Utami, SpKJ menyebutkan bahwa penderita hipotermia yang melepaskan baju di saat kondisi kedinginan perlu dilihat terlebih dulu kondisinya.

"Artinya melepas baju mungkin sebagai pilihan karena baju basah atau baju yang tidak tepat saat naik gunung itu, misalnya terlalu pas di badan atau bisa pula menyesakkan," ujar dokter yang biasa disapa Tami ini kepada Tirto, Senin (27/7/2020).

Tami mengatakan, kondisi hipotermia itu suhu di bawah normal artinya kedinginan yang menyebabkan bibir pucat dan membiru sehingga harus dihangatkan atau diletakkan di tempat yang lebih hangat.

"Kebanyakan kasus hipotermia adalah terjadinya gagal nafas, jadi kalau bajunya terlalu ketat, melepas baju itu bisa saja melapangkan jalan nafasnya," kata dr Tami.


Namun untuk kasus almarhum Andi, kata dr Tami, kemungkinan besar adalah karena dia kehilangan kesadaran akibat cairan di tubuhnya yang berkurang.

"Kalau elektrolit berkurang otomatis jadi ngawur dan terkadang halusinasi. Biasa namanya disebut reticular activating system yang terganggu," imbuhnya

Ascending reticular activating system (ARAS) adalah sebuah jalur yang menghantarkan impuls syaraf yang berasal dari RETICULAR FORMATION yang berasal dari otak tengah ke atas melalui thalamus menuju ke seluruh bagian cerebral cortex.

"Jadi kalau ARAS terjadi kerusakan, bisa mengganggu fungsi kesadaran, mengganggu derajat kesadaran. ARAS ini juga berhubungan sama memori, emosi, dan aktivasi. Hal itulah yang seharusnya mengatur jangan sampai jatuhnya ke halusinasi atau meracau seperti yang dialami almarhum Andi," terang dr Tami.

"Umumnya para pendaki gunung itu memang sering merasa kelelahan yang mengakibatkan mereka kekurangan oksigen dan gangguan elektrolit," lanjut dokter yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan ini.

Karenanya, dr Tami menyarankan para pendaki untuk tidak memaksakan diri apabila sudah merasa kelelahan, kondisi pendaki juga harus dalam keadaan benar-benar sehat, serta menggunakan pakaian pendakian yang tepat.

"Yang terpenting juga, persediaan makanan dan minuman harus dilebihkan agar tidak kekurangan saat berada di atas," pungkasnya.


Baca juga artikel terkait ANDI SULISTYAWAN atau tulisan menarik lainnya Dewi Adhitya S. Koesno
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dewi Adhitya S. Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight