Penyalin Cahaya: Puncak Gunung Es Isu Kekerasan Seksual Perfilman

Oleh: Gisela Swaragita - 14 Januari 2022
Dibaca Normal 3 menit
Nama Henricus Pria dicoret di kredit film Penyalin Cahaya atas tuduhan kekerasan seksual. Ini hanya puncak gunung es kekerasan seksual di industri film.
tirto.id - Film Penyalin Cahaya akhirnya resmi tayang di Netflix, Kamis (13/1). Film panjang pertama garapan sutradara Wregas Bhanutedja itu sudah dinanti oleh khalayak, menyusul kemenangan besarnya di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2021 dengan memborong 12 Piala Citra dan 17 nominasi, termasuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Respons positif publik pun membuncah. Sayangnya reputasi film yang bercerita tentang penyintas kekerasan seksual tersebut ternoda oleh kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh penulis skenario Henricus Pria.

Informasi tersebut dirilis ke publik oleh rumah produksi Penyalin Cahaya, Rekata Studio dan Kaninga Pictures, pada Senin (10/1) menyatakan mencoret nama kru yang diduga menjadi pelaku kasus kekerasan seksual di masa lalu.

“Berdasarkan informasi yang kami terima dari suatu komunitas yang mengelola pelaporan terhadap peristiwa pelecehan seksual, kami mendapati sebuah nama dari tim film 'Penyalin Cahaya' tercatat sebagai terlapor akan dugaan perbuatan di masa lalunya,” demikian pernyataan yang diunggah di kanal-kanal sosial media resmi Rekata Studio, Kaninga Pictures, dan akun pribadi Wregas.

Pernyataan tersebut melanjutkan bahwa sebagai tanggung jawab etik dan komitmen terhadap penghapusan kekerasan seksual, pihak rumah produksi sepakat menghapus nama terlapor dari kredit film. Penyataan tersebut juga menyatakan bahwa kru tersebut tidak lagi menjadi bagian dari film Penyalin Cahaya dan Rekata Studio.

Dalam rilis tersebut, para produser justru mangkir menyebutkan nama terduga pelaku juga kontribusinya dalam pembuatan film. Para produser hanya menyebutnya sebagai “terlapor”. Nama pelaku mencuat setelah publik menelisik nama pelaku yang telah dihapus dari laman resmi film Penyalin Cahaya di situs Rekata Studio.

Nama Henricus pun ramai diperbincangkan di media sosial.



Untuk karyanya bersama Penyalin Cahaya, Henricus membawa pulang Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia 2021 sebagai penulis skenario asli terbaik. Ia menulis naskah film tersebut secara tandem bersama Wregas. Pada ajang tersebut, Penyalin Cahaya menyabet 12 Piala Citra dan memborong 17 nominasi, termasuk dalam kategori Film Cerita Panjang Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Menyusul pernyataan sikap Rekata Studio dan Kaninga Pictures, unggahan FFI mengenai pemenang Penulis Skenario Asli Terbaik dihujani cercaan oleh warganet yang menuntut penghargaan tersebut dicabut.

Berbagai tuduhan lantas muncul ke permukaan. Sikap predator Henricus diduga telah ramai dibahas di berbagai forum pencegahan kekerasan seksual dan komunitas film sejak 2019.

Para pengguna media sosial pun meragukan ketulusan pernyataan sikap para produser dan mempertanyakan keputusan mereka dalam menempatkan Henricus pada posisi penting di pembuatan film sebagai penulis.

Beredarnya kabar bahwa penulis Penyalin Cahaya merupakan terduga pelaku kekerasan seksual merupakan ironi karena film panjang pertama Wregas ini bercerita tentang sulitnya penyintas kekerasan seksual mencari keadilan, apalagi melawan pelaku yang didukung kekuasaan dan popularitas.

Penikmat sinema di Tanah Air juga telah menunggu kesempatan menonton Penyalin Cahaya secara legal setelah kemenangan besarnya di FFI serta premiernya yang spektakuler di Busan International Film Festival (BIFF) pada Oktober 2021. Layanan streaming Netflix, yang telah membeli hak siarnya, telah menjadwalkan penayangannya mulai 13 Januari 2022.

Publik pun terbelah. Tak sedikit penikmat sinema yang menyatakan tidak akan menonton sebagai sikap dukungan terhadap korban, namun banyak juga yang menyatakan ingin tetap menonton untuk menghargai karya tim pembuat film selain terduga pelaku.

Puncak gunung es

Kita tahu kasus tersebut bukanlah yang pertama. Pada Januari 2020, kabar kekerasan seksual yang melingkupi industri perfilman muncul setelah aktor dan musisi Mian Tiara menumpahkan pengalamannya lewat Twitter setelah mengalami kekerasan seksual di lokasi syuting, yang dilakukan oleh aktor tandemnya.

Wartawan Tirto Aulia Adam dan Fadiyah Alaidrus dalam artikel tentang kasus tersebut menulis bahwa dalam utas yang ditulisnya 23 Januari, Tiara bercerita tentang hari pertama proses syuting film pendek yang ia lakoni. Tak ada yang ganjil, sampai seorang aktor senior memintanya duduk bersebelahan untuk berlatih dialog.

Awalnya, Tiara tak berprasangka apa pun dan obrolan mereka berjalan normal. "Dia senior, jadi out of respect, I tried to be polite when he wanted to chat with me," kata Tiara. Tak dinyana, dalam kesempatan mengobrol di ruangan berbeda, aktor senior itu tiba-tiba menghadapkan kursinya ke Tiara. "Dan mengelus paha saya," ceritanya. "Saya tidak bereaksi apa-apa, there was so much going on in my head. Saya merasa terlanggar. Saya marah."

Sutradara film pendek itu tiba-tiba masuk ruang rias, tempat Tiara dan si aktor senior berbincang. Tiara yang sudah sangat tidak nyaman memanfaatkannya untuk keluar dari sana. Sepanjang sisa proses syuting, Tiara menghindari si aktor senior, menjaga jarak. Ia tidak membicarakan hal itu pada siapa pun karena takut dianggap mengganggu proses syuting dan dianggap berlebihan, serta masih mencoba memproses insiden itu di dalam diri sendiri.

Tapi, di ujung hari, si aktor senior kembali melakuan tabiat durjananya dalam sesi foto bareng. Ia dengan sengaja menarik bagian belakang celana jins Tiara, lalu menyelipkan jarinya masuk. Menahan Tiara, yang kemudian berusaha meloncat untuk melepaskan genggaman itu. "Tapi dia malah menarik saya ke belakang, it was as if he was telling me: Hey, you've been a bad girl," kata Tiara. "I froze."

Butuh waktu relatif tidak sebentar buat Tiara memproses semuanya. Ia baru buka bicara sekitar seminggu setelah kejadian, karena masih trauma dan mempertimbangkan dampak-dampak yang akan dia hadapi.



"Saya enggak naif. Saya tahu kejadian semacam ini banyak sekali yang enggak tuntas (diusut). Bahkan kita (korban) sering kali dianggap mengada-ada," tulis Tiara pada utasnya. Namun, ia kemudian menceritakan kejadian itu pada sang manajer, sutradara dan produser film pendek mereka, karena ia tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi. Ia juga ingin si aktor senior pelaku meminta maaf. Produser film pendek itu sempat menyampaikan keberatan Tiara kepada si aktor senior.

Namun, lewat manajernya, aktor senior itu ternyata menampik dan merasa tersinggung dengan laporan Tiara: kebiasaan yang umum dilakukan predator. Tiara sendiri tak terima.

Di luar kasusnya sendiri, persoalan pelecehan seksual dan perlakuan seksisme di lingkungan film, menurut Tiara sudah jadi masalah besar yang bikin korban sering kali tidak didengar, bahkan terpinggir. Padahal, yang harus terjadi adalah sebaliknya. Membuat kasus-kasus seperti ini cuma jadi angin lalu, dan cenderung dimaklumi sebagai hal biasa alias wajar. "Ini yang bikin saya harus mulai bicara," kata Tiara, yang akhirnya memutuskan membuat utas di Twitter.

Kritikus film Lisabona Rahman, salah satu inisiator kampanye #sinematikgakharustoxic, sebuah inisiatif bersama untuk menghapus dan mencegah kekerasan seksual di komunitas film serta kegiatan perfilman, mengatakan bahwa penonton harus berlatih lebih aktif dan kompleks ketika dihadapkan dengan kasus etis seperti ini.

“Saya mengerti pilihan boikot adalah langkah menghentikan dukungan publik dan akumulasi profit. Sebagai pilihan sikap, ini sangat bisa dipertanggungjawabkan,” katanya, Selasa (11/1).

“Tapi, kita harus juga latihan terlibat lebih aktif dan kompleks dengan karya seni.

Film adalah karya banyak orang dan saya percaya kru lainnya berhak mengungkapkan karyanya untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Saya yakin ada aspek berguna dari karya ini untuk tujuan kajian dan bahan belajar bersama.”

Ia melanjutkan bahwa para produser harus memastikan adanya langkah berkelanjutan untuk menunjukkan tanggung jawab etis korporasi.

“Saya harap akan ada langkah berkelanjutan yang menunjukkan tanggung jawab korporasi dalam memastikan bahwa produksi dan distribusi film mempertimbangkan aspek etika. Kita perlu lingkungan kerja yang lebih sehat,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Gisela Swaragita
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Gisela Swaragita
Penulis: Gisela Swaragita
Editor: Adi Renaldi
DarkLight