Advertorial

Pentingnya Sedia Dana Darurat di Masa Krisis

Ilustrasi dana darurat. FOTO/iStockphoto
Oleh: Advertorial - 4 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Orang bijak bilang, akan selalu ada pelajaran dari tiap krisis.
Teman saya kerja di perusahaan swasta bergaji 80 jutaan per bulan. Baru 2 bulan dirumahkan, rumah tangganya langsung berantakan karena selama ini keluarganya berbiaya tinggi. Kredit mobil mewah, KPR rumah di Kota Wisata harga 3 M. Tabungan tipis. Sekarang mereka bingung. Kasihan.”

Cuitan yang dibuat akun bernama Parsiholan di Twitter pada 23 April 2020 itu jadi viral. Per 4 Mei 2020, cuitan itu sudah di-retweet sebanyak 10.500-an kali. Ramainya respons di cuitan itu tidak mengherankan. Bayangkan kalau kamu punya gaji Rp80 juta per bulan, tapi dalam waktu singkat harus terpuruk karena dirumahkan, sementara cicilan besar terus berjalan.

Kisah itu, terlepas benar atau tidaknya, seperti membenarkan apa yang pernah dibilang oleh Paul Clitheroe, analis finansial yang dikenal ketika menjadi pembawa acara di program keuangan "Money" dari 1993 hingga 2002.

“Jumlah uang yang kamu punya itu gak ada hubungannya dengan jumlah penghasilanmu. Orang yang punya penghasilan satu juta dolar per tahun, bisa saja tidak punya uang. Sedangkan orang yang menghasilkan 35 ribu dolar per tahun bisa hidup berkecukupan. Jadi ini bukan tentang berapa penghasilanmu, melainkan berapa jumlah pengeluaranmu,” ujarnya suatu ketika.

Orang bijak bilang, akan selalu ada pelajaran dari tiap krisis. Perkara keuangan, pelajaran yang harus terus diingat adalah: kita harus punya dana cadangan alias tabungan alias emergency funds. Dana ini biasanya dipakai jika kondisi benar-benar darurat, seperti ketika ada pemutusan hubungan kerja, anggota keluarga jatuh sakit, atau renovasi rumah.

Masalahnya, menyisihkan dana untuk tabungan ini bukan pekerjaan mudah. Tidak semua orang punya kelonggaran dana untuk menabung. Namun menabung bukannya mustahil. Sudah ada banyak metode yang dipakai orang untuk bisa menabung.

La Vayesh Beanda (25), seorang karyawan swasta di perusahaan teknologi informasi, membuat dua rekening. Satu untuk keperluan menerima gaji, dan satu lagi dipakai untuk tabungan. Ribet memang harus membuka dua rekening, tapi apa boleh buat. Sedangkan untuk memastikan ia rutin menabung, Vayesh memakai fitur autodebet.

“Aku sisihkan 20 persen dari gaji bulanan buat nabung,” ujarnya.

Hasilnya nanti akan ia putar untuk investasi, semisal membeli emas atau reksadana. Dia pernah menyisihkan dana untuk deposito jangka panjang. Suatu hari dia butuh uang cepat, sayangnya dana di deposito tidak bisa ditarik dalam waktu cepat.

“Kalaupun bisa, aku bakal kena denda,” keluhnya.

Sejak itu, Vayesh memilih untuk menabung di dua rekening. Meski terkesan tidak praktis, belum lagi ada biaya administrasi untuk dua rekening, saat ini itu adalah metode paling aman. Metode ini juga menjamin rasa nyaman Vayesh jikalau dia butuh dana mendadak.

Tapi melihat kasus karyawan bergaji Rp80 juta per bulan yang tetap saja kesusahan, pertanyaannya mungkin tidak hanya apakah kita punya tabungan atau tidak. Melainkan: berapa idealnya dana darurat yang harus kita punya?

Jawabannya akan tergantung pada banyak hal. Misalkan kondisi personal, hingga aset finansial lain selain dana darurat. Selain itu, kebutuhan pengeluaran bulanan akan berbeda di tiap orang. Ada yang merasa pengeluaran bulanan yang diambil dari dana darurat adalah yang mencakup kebutuhan dasar, semisal biaya sewa rumah atau KPR, cicilan, belanja bulanan, juga listrik dan air. Ada pula yang merasa dana darurat sebaiknya bisa membuat kita hidup seperti hari-hari biasa, termasuk adanya dana untuk kebutuhan tersier.

Investopedia, situs investasi dan keuangan, menulis bahwa dana darurat ini sebaiknya bisa menutupi pengeluaran bulanan antara 3 hingga 24 bulan. “Saran yang paling sering diberikan penasihat keuangan adalah tiga hingga enam bulan,” tulis mereka.

Aplikasi Keuangan untuk Dana Cadangan

Alicia Adamczyk dari CNBC pernah menulis laporan bahwa di Amerika Serikat kini ada 26 juta penduduk yang kehilangan pekerjaan, dan puluhan ribu bisnis mengalami kesulitan. Dan itu belum puncaknya: pertempuran melawan krisis yang disebabkan pandemi ini masih panjang. Ini adalah maraton, bukan sprint.

“Karena itu, hal paling penting yang harus disiapkan di masa resesi ini adalah menyediakan cadangan dana,” tulisnya.

Menurut Alicia, langkah pertama untuk menyiapkan dana cadangan adalah: mencari aplikasi tabungan yang cocok dengan dirimu. Kenapa justru aplikasi yang diperlukan? Karena saat ini ada banyak aplikasi keuangan di luar sana, tapi tidak semua punya keunggulan yang diperlukan konsumen. Di masa hidup bisa terbantu oleh algoritma, aplikasi bisa membantu kita dalam banyak hal, termasuk mengatur keuangan dan menabung.

Untuk perkara mengatur keuangan dan menabung, Jenius adalah aplikasi yang tepat. Fitur-fiturnya memudahkan kita dalam mengatur keuangan, termasuk menyisihkan pemasukan untuk dana darurat. Jenius memberikan beberapa pilihan tabungan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Kamu bisa mengatur keuanganmu dengan leluasa, termasuk membagi pengeluaran bulanan, transaksi harian, dan tabungan.

Flexi Saver, misalnya. Sesuai namanya, kamu bisa setor dan tarik dana tabungan tanpa ada biaya penalti dengan fitur ini. Selain itu, mereka juga akan memberikan bunga 4 persen per tahun, tanpa saldo minimal.

Lalu ada pula Maxi Saver, deposito berjangka ala Jenius. Dengan nilai pokok mulai dari Rp10 juta, kamu bisa memilih jangka waktu tabungan, mulai dari 1 hingga 12 bulan. Jika kamu masih ingin menabung, kamu juga bebas memperpanjang sesuka hati. Dengan bunga 5,5 persen per tahun (per 5 Juni 2020), Maxi Saver punya keunggulan lain ketimbang deposito konvensional: tak ada penalti jika melakukan pencairan sebelum jatuh tempo.

Fitur Card Center pun tak hanya bisa dimanfaatkan untuk belanja praktis, tapi juga menjaga pengeluaran agar tak berlebihan. Kamu bisa membuat maksimal tiga kartu debit tambahan atau x-Card untuk membantu mengatur pengeluaran spesifik, misalkan untuk belanja atau kebutuhan transportasi. Alokasi dana di tiap kartu debit tambahan bisa kamu atur melalui fitur Card Center.

Manfaatkan saja menu Ubah Limit untuk menentukan nominal transaksi. Jadi, andaikan ingin menghemat dan membatasi transaksi maksimal Rp100 ribu per hari, maka kamu tidak akan bisa melakukan transaksi melebihi angka maksimal itu. Fitur ini cukup penting dipakai olehmu yang kerap kesulitan menahan godaan belanja online. Banyaknya promo menarik, juga penawaran produk-produk limited edition yang kerap memancingmu impulsif bisa ditahan, tabungan pun aman.

Tentu saja, perkara keamanan, kamu tak perlu khawatir. Jenius memastikan data dan keamanan pelanggan terjamin lewat fitur keamanan tambahan selain CVV, yakni pemblokiran pada semua Kartu Debit Jenius baik m-Card, e-Card, maupun x-Card, langsung melalui aplikasi. Kamu bisa memilih blokir sementara, buka blokir, sampai dengan blokir permanen sesuai kebutuhan.

Dengan segala fitur, kemudahan, dan keamanan yang disediakan oleh Jenius, mengatur keuangan—termasuk menyiapkan dana darurat—tentu tak lagi sulit dilakukan.
DarkLight