Pentingnya Cek Tekanan Darah Secara Rutin Saat Pandemi Covid-19

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 15 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Apa pentingnya rutin cek tekanan darah selama pandemi virus corona Covid-19?
tirto.id - Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension/InaSH) menekankan hipertensi adalah salah satu penyakit bawaan (komorbid) yang berbahaya bagi pasien Covid-19. Organisasi ini merekomendasikan orang-orang untuk memonitor tekanan darah mereka lebih sering selama pandemi.

“Panduan dari American Heart Association (AHA) menekankan bahwa penderita hipertensi akan menghadapi risiko komplikasi yang lebih parah jika mereka terinfeksi virus COVID-19,” ucap dokter spesialis penyakit dalam Tunggul Situmorang, Ketua Umum InaSH, dalam OMRON & InaSH Virtual Media Briefing, Rabu (14/10/2020).

Tunggul menganjurkan agar orang-orang lebih memperhatikan risiko hipertensi dengan melakukan pengecekan tekanan darah di rumah secara lebih teratur.

Tunggul mengatakan, banyak pengidap hipertensi yang tidak mengalami gejala apa pun sehingga merasa dirinya dalam kondisi sehat.

"Oleh karena itu, harus sering mengukur tekanan darah," kata dia, seperti dikutip Antara News.

Dokter spesialis Neurologi Yuda Turana menambahkan, rutin mengukur tekanan darah di rumah bermanfaat untuk menghindari stroke dan serangan jantung.

"Pengukuran tekanan darah di rumah memprediksi kerusakan organ lebih baik daripada pengukuran tekanan darah klinik," kata Yuda, Anggota Dewan Pembina dan Badan Pengawas Perhimpunan Hipertensi Indonesia.

Dia mengatakan, pasien yang memantau tekanan darah di rumah punya kecenderungan untuk melakukan pengobatan secara teratur. Kepatuhan ini penting, sebab tanpa ada kepatuhan, obat terbaik pun takkan ada hasilnya.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan sebelum mengukur tekanan darah, di antaranya adalah tidak merokok, berolahraga dan mengonsumsi kafein minimal 30 menit sebelumnya. Sebaiknya jangan makan sebelum mengecek tekanan darah serta kosongkan dulu kantong kemih.

Ketika mengukur tekanan darah di rumah, Yuda menyarankan agar mengukur lebih dari satu kali, kemudian mencatat semua hasilnya.

"Setidaknya dua atau tiga kali, jarak antara pengukuran kurang lebih satu menit," ujar dia.

Pencatatan harus dilakukan rutin pada pagi hari sebelum pengobatan, lalu malam hari sebelum tidur.

Yuda menjelaskan, walau pengukuran tekanan darah di klinik tetap menjadi landasan manajemen hipertensi, mengukur sendiri di rumah juga tambahan informasi penting.

"Selain meningkatkan kontrol hipertensi, cek tekanan darah di rumah lebih unggul daripada cek tekanan darah di klinik dalam memprediksi kejadian penyakit kardiovaskuler di masa depan," papar Yuda.

Banyak Pasien Covid-19 Meninggal dengan Komorbid Hipertensi


Kementerian Kesehatan mengungkapkan 13,3 persen pasien COVID-19 dengan penyakit bawaan atau komorbid hipertensi atau tekanan darah tinggi meninggal dunia, demikian menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Putri Ariane

Dalam konferensi pers melalui telekonferensi yang dipantau di Jakarta, Selasa, ia menyebutkan penyakit hipertensi menjadi faktor risiko paling tinggi menyebabkan pasien COVID-19 meninggal dunia diikuti oleh penyakit komorbid lainnya seperti diabetes, jantung koroner dan gagal ginjal.

Cut menyebutkan dari 1.641 orang pasien COVID-19, penyakit penyerta paling banyaknya adalah hipertensi dengan jumlah mencapai 50,8 persen.

Sisanya diikuti oleh penyakit diabetes 34,4 persen, jantung koroner 19,7 persen, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) 10,1 persen, gagal ginjal 6,2 persen dan penyakit kanker 1,5 persen.

"Artinya orang-orang ini kondisinya sudah sakit yang berpengaruh pada imunitas tubuhnya, sehingga COVID-19 akan bertambah berat pada orang ini dibanding yang lain," kata Cut.

Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, penyakit tidak menular seperti hipertensi dapat segera diketahui secara dini dan lebih cepat mendapatkan penanganan.

Untuk orang yang sudah memiliki riwayat hipertensi diharapkan meminum obat dengan rutin agar tekanan darahnya terkendali dan tidak berimplikasi pada munculnya gangguan kesehatan lain.

Cut menyebut hipertensi bisa memicu gangguan kesehatan lain seperti gagal ginjal, stroke dan jantung koroner. Padahal, lanjutnya, penyakit hipertensi adalah penyakit tidak menular yang sangat bisa dicegah dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat.

Namun sayangnya, dari 10 orang yang memiliki penyakit tidak menular seperti hipertensi, hanya tiga orang yang mengetahui dirinya memiliki gangguan kesehatan sementara tujuh lainnya tidak menyadarinya.

Orang yang memiliki penyakit hipertensi bisa tidak merasakan gangguan kesehatan apapun sehingga dianggap baik-baik saja.

Cut mengajak masyarakat agar mengubah perilaku menjadi lebih sehat dengan membatasi asupan gula, garam, lemak, berolahraga secara teratur, mengonsumsi gizi seimbang, istirahat cukup dan menghindari faktor risiko seperti merokok.

Selain itu, jangan lupa untuk menerapkan protokol kesehatan. #IngatPesanIbu untuk selalu menjaga jarak, menghindari kerumunan, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun.


_____________

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).


Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight