Menuju konten utama

Penting: Hotline untuk Krisis Kejiwaan dan Dorongan Bunuh Diri

Ada beberapa upaya untuk membantu orang dengan krisis kejiwaan, di antaranya hotline konseling dan kelompok dukungan.

Penting: Hotline untuk Krisis Kejiwaan dan Dorongan Bunuh Diri
Ilustrasi Konsultasi Kejiwaan

tirto.id - April 2018 lalu, lembaga layanan konsultasi psikologi Into The Light menutup fasilitas konseling email yang merupakan layanan bagi yang mengalami depresi dan keinginan bunuh diri. Mereka menyatakan ingin lebih fokus pada edukasi pencegahan bunuh diri.

Penutupan ini disayangkan oleh orang yang pernah merasa terbantu dengan layanan tersebut. Amy (21), bukan nama sebenarnya, menceritakan proses yang ia alami kepada saya.

“Proses hingga saya mencoba bunuh diri panjang dan kompleks. Secara biologis, saya memiliki keturunan kecenderungan gangguan mental. Secara psikologis, saya memiliki berbagai macam trauma sejak kecil, mulai dari kekerasan orangtua, hingga kekerasan seksual,” kata Amy.

Amy pun menyampaikan bahwa dirinya tak mendapatkan dukungan secara sosial. Di lingkungan sekolah, Amy kerap menjadi korban bullying, sehingga depresi itu muncul sejak kecil. Proses itulah yang membuat Amy melakukan percobaan bunuh diri.

“Suatu saat saya menyadari, bahwa ada yang salah dalam diri saya, dan ini enggak bisa dibiarkan. Saya merasa enggak mau terus hidup dengan menahan diri dari pemikiran bunuh diri. Saya ingin lepas dari pikiran ini. Hingga saya menghubungi Into The Light, melalui pendampingan email yang dulu mereka miliki,” ungkap Amy.

Melalui pendampingan itu, Into The Light membantu Amy dengan memberi rekomendasi psikolog. Amy mengakui, mencari psikolog yang cocok bukanlah hal yang mudah. Ia sempat merasa pesimis terhadap kesehatan jiwanya. Akhirnya, setelah berganti 2 psikolog dan 2 psikiater, Amy menemukan kecocokan dengan seorang psikolog.

Dari situ, Amy melakukan terapi brainspotting yang berfokus pada pemulihan trauma, tanpa harus menceritakan detail kisah yang dia alami. Hingga kini, Amy rutin melakukan terapi seminggu sekali. Meski prosesnya panjang, Amy selalu memberi semangat untuk dirinya dengan mengingat proses pemulihan yang ia alami. Kini, interaksi Amy dengan lingkungan sosialnya pun mulai membaik.

Manfaat layanan hotline psikologi untuk depresi dan dorongan bunuh diri juga dirasakan oleh Bram (26), juga bukan nama sebenarnya.

“Kalau dulu sih saya karena ada masalah di sekolah, ada bullying, dan juga masalah di keluarga, dibanding-bandingkan dengan orang lain. Saya juga bukan orang yang memiliki banyak teman. Jadi kalau di sekolah di-bully, pulang ke rumah dibanding-bandingin. Jadi mudah stres dan depresi. Sering menyalahkan diri sendiri juga,” ungkap Bram.

Mulanya Bram merasa malu untuk melakukan konsultasi ke psikolog, sebab Bram merupakan mahasiswa jurusan psikologi.

“Ada stigma, 'masak anak psikologi berobat?' Tapi di Into The Light, mereka katakan bahwa itu hal yang wajar, karena sesama psikolog harus saling sharing, dan itu bukan hal yang memalukan,” ujar Bram.

Bagi Bram, layanan konsultasi psikologi 24 jam seperti Into The Light sangat penting, sebab kala depresi datang, ia memiliki teman untuk cerita. Yang dibutuhkan oleh orang depresi adalah didengarkan, agar kondisi psikologi mereka tidak semakin buruk.

“Belakangan ini sempat punya keinginan untuk bunuh diri lagi, karena ada teman meninggal karena bunuh diri. Saya kena paparan dampak suicide itu. Waktu itu malam-malam sempat down, awalnya saya enggak diberi tau alasannya, tapi karena ada media yang memberitakan cara bunuh diri teman saya secara detail, dan beberapa hari sebelumnya saya sempat ngobrol dengan dia, jadi saya depresi lagi,” kata Bram.

Bram juga menceritakan, saat rumahnya dalam keadaan kosong, ia sempat memetakan seluruh isi rumah untuk mencari titik bunuh diri. Namun, akhirnya Bram memutuskan untuk menghubungi Into The Light saat tengah malam untuk sharing. Dorongan itu pun surut.

Alasan Into The Light Menutup Layanan

Pendiri Into The Light, Benny Prawira, menyampaikan alasan dirinya menutup layanan konseling online karena mereka ingin berfokus pada edukasi. Mereka menyadari, sejak membuka layanan konseling di tahun 2013, ekspektasi masyarakat terhadap layanan tersebut sangat tinggi.

Benny mengatakan, sejak awal ia membuka layanan tersebut, Into The Light telah menerima sekitar 20 email setiap harinya. Bahkan, sejak layanan itu ditutup pada April 2018 lalu hingga kini, pihaknya masih menerima lebih dari 200 email konsultasi depresi dan suicidal. Tingginya angka tersebut, membuat Into The Light memutuskan untuk membuat program yang lebih efektif untuk mengurangi angka depresi dan keinginan untuk bunuh diri.

“Program sharing stories, jadi kami adakan pertemuan, kemudian lempar tema, teman-teman bicara tentang tema-tema itu. Bagi yang siap berbagi, bisa berbagi disana, yang belum siap bisa mendengarkan. Setidaknya dengan bertatap muka, bisa mendorong mereka untuk berani berbicara. Untuk program ini, prioritasnya teman-teman yang di Jakarta,” ujar Benny.

Benny juga menyampaikan, untuk klien di luar Jakarta, pihaknya memberikan program Ruang Jeda, yakni chat room yang berlaku pada waktu tertentu. Dalam chat room itu, peserta bisa menceritakan permasalahan yang mereka alami, dan dapat berkonsultasi langsung kepada volunteer.

Alasan Benny membentuk program Ruang Jeda karena saat ia membuka layanan konsultasi online 24 jam itu, banyak kliennya yang berasal dari luar pulau. Bahkan, Into The Light pernah mendapatkan klien dari Sorong, Papua.

Pentingnya Hotline Krisis Psikologi

Benny Prawira mengakui bahwa layanan hotline konsultasi psikologi untuk depresi dan masalah suicidal sangat penting, setidaknya kata dia, untuk memberikan rekomendasi psikolog atau psikiater terdekat untuk melakukan terapi.

Benny mengatakan keinginan bunuh diri merupakan masalah yang harus ditanggapi secara serius. Sebab, dalam sebuah kasus bunuh diri, setidaknya akan ada 4 hingga 8 orang yang berpotensi untuk melakukan hal serupa akibat rasa duka yang mendalam.

Carly Breit dalam artikel berjudul “I Work At A Suicide Hotline-Here’s What It’s Like” menyampaikan betapa pentingnya petugas konselor krisis hotline. Mereka berperan untuk mendengarkan penelepon yang sedang mengalami depresi.

“Ketika orang berpikir bahwa mereka adalah satu-satunya yang punya keinginan untuk bunuh diri, saya harus meyakinkan mereka jika mereka tidak sendiri. Saat ada penelepon yang ingin bercerita, saya ada untuk mendengarkan. Dan saat mereka mencari alasan untuk hidup di hari lain, saya ada untuk membantu mereka menemukannya,” ungkap Breit dalam artikel itu.

Meski tujuan hotline konseling psikologi untuk depresi dan suicidal bukan untuk membantu klien menemukan solusi, tapi layanan konsultasi itu bermanfaat agar seseorang yang depresi dapat menemukan jalan keluar dari permasalahan mereka sendiri.

Hal ini yang diungkapkan dalam studi “Intervention among Suicidal Men: Future Directions for Telephone Crisis Support Research” yang dilakukan oleh Tara Hunt, dkk (pdf). Dalam penelitian tersebut, mereka menuliskan bahwa layanan hotline itu bisa memberikan bantuan kepada orang yang mengalami krisis kejiwaan dalam waktu terbatas.

“Layanan hotline crisis dibentuk dan diimplementasikan di seluruh dunia untuk memberi dukungan kepada orang yang memiliki krisis psikologi, dalam artian mereka memiliki waktu terbatas, namun ada ketidakseimbangan psikologis yang dimiliki, serta ketidakmampuan mereka untuk mengatasi masalahnya,” ungkap Hunt.

Tara Hunt, dkk juga menyebutkan krisis psikologis itu meliputi berbagai macam masalah seperti kesehatan mental seperti depresi, masalah sosial, emosi, tekanan lingkungan, atau rasa dikucilkan dan kesendirian.

Meski hotline layanan konseling depresi dan suicidal itu penting, rupanya pemerintah Indonesia belum serius mengelola masalah ini. Seperti dikutip CNN, pada 2010 pemerintah pernah membuka layanan konsultasi bagi pengidap depresi melalui nomor 500-454, namun pada tahun 2014 ditutup karena dianggap sepi peminat.

Data yang dimiliki Kementerian Kesehatan, sejak tahun 2010 hingga 2014 tercatat 161 penelepon (2010), 222 penelepon (2011), 347 penelepon (2012), 267 penelepon (2013), dan 46 penelepon (2014).

Tiga tahun kemudian, tepatnya di tahun 2017, Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek kembali membuka layanan darurat untuk mencegah aksi bunuh diri melalui nomor 119, “Nomor 119 bisa dimanfaatkan untuk pencegahan. Nomor itu untuk emergency dan bisa untuk kesehatan mental,” ujar Nila saat itu, seperti dilansir CNN.

Namun, saat saya mencoba menghubungi layanan 119 pada Rabu, 2 Agustus 2018, rupanya layanan tersebut bukanlah layanan konsultasi psikologi seperti diungkapkan Menteri Nila, melainkan layanan kesehatan terpadu. Saya sempat bertanya tentang layanan konsultasi depresi dan masalah suicidal, tapi suara di ujung telepon mengatakan bahwa pihaknya tak memiliki layanan tersebut.

Saya kemudian diarahkan untuk menghubungi nomor 112 untuk mendapatkan pelayanan konsultasi psikologi depresi dan suicidal, tapi lagi-lagi saya tak mendapatkan layanan tersebut. Saat saya hubungi, rupanya nomor tersebut adalah hotline pengaduan bencana.

Infografik depresi dan keinginan bunuh diri

Infografik depresi dan keinginan bunuh diri

Dorongan Bunuh Diri

Danika Nurkalista, Koordinator Yayasan Pulih, mengatakan ada sekitar 60 orang yang datang ke lembaganya untuk melakukan konsultasi depresi dan keinginan bunuh diri. Kliennya itu kata dia, hanya berasal dari daerah Jabodetabek saja.

“Ada sekitar 17 persen dari klien yang diterima tahun lalu, yang datang ke layanan konseling dengan keluhan depresi. Kasus depresi adalah kasus yang paling tinggi diantara kasus yang lain,” ujar Danika.

Danika menyadari, stigma yang kuat di masyarakat ketika membahas tentang isu depresi dan bunuh diri. Untuk itu, saat ada orang yang mengalami depresi, orang sekitarnya haruslah membantu mereka. Mendengarkan tanpa menghakimi, serta memberi dukungan seperti membantu mencari konselor, psikolog, atau psikiater.

“Perlu diingat bahwa seseorang yang mengungkapkan pikiran dan perasaan putus asa, keinginan untuk menyakiti dan mengakhiri hidup perlu ditanggapi secara serius. Jadi tidak baik bila dianggap bercanda,” ungkap Danika.

Danika menjelaskan, kala ada orang yang menceritakan keinginannya untuk bunuh diri, harus direspons dengan bertanya tentang rencana dia untuk bunuh diri, termasuk metode, waktu, serta keinginannya. Bagi Danika, cara ini dapat membantu untuk mengidentifikasi kegawatan kondisi orang tersebut.

Konseling depresi dan keinginan bunuh diri tak hanya masuk ke Yayasan Pulih saja. Edo S. Jaya, Pendiri IndoPsyCare mengatakan sejak layanan lembaganya dibuka sejak Mei 2018 lalu ia menerima 7 email masuk untuk konseling.

Saat ada yang menceritakan keinginan untuk bunuh diri, Edo biasanya akan menanyakan hal mendasar dari keinginannya untuk bunuh diri, termasuk frekuensi perasaan itu muncul.

“Biasanya kepada psikolog mereka enggak akan cerita, kecuali kalau ditanya, dan akan selalu tanya di pertemuan pertama. Selalu tanya hal dasar keinginan bunuh diri, kalau iya seberapa sering, seberapa intens perasaan itu muncul, sudah sering dilakukan atau belum,” kata Edo.

Menurut Edo, penyebab bunuh diri seseorang tak bisa digeneralisasi. Setiap pasien depresi juga perlu penanganan yang berbeda. “Enggak semua orang yang depresi itu menangis, atau punya kesulitan tidur, atau enggak nafsu makan,” tandasnya.

=======

Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Infografis dalam artikel ini telah direvisi. Sebelumnya kami mencantumkan International Wellbeing Center (IWC) dalam infografis. Kemudian perwakilan dari IWC melayangkan surel klarifikasi kepada redaksi pada Kamis, 10 Oktober 2019 pukul 12.25 WIB. Surel tersebut menyatakan bahwa IWC bukanlah layanan hotline atau crisis center, melainkan biro konsultasi psikologi profesional yang bertanggung jawab terhadap klien. Karena itu kami menghapus IWC dari daftar yang tercantum dalam infografis.

Baca juga artikel terkait BUNUH DIRI atau tulisan lainnya dari Widia Primastika

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani