Penjelasan BMKG Soal Penyebab Cuaca Ekstrem di NTT

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 23 Januari 2020
Menurut BMKG hujan deras yang terjadi sejak Rabu (22/1/2020) disebabkan karena adanya pola siklonik di sekitar Teluk Carpentaria di pesisir utara Australia.
tirto.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun El Tari menyebutkan pola siklonik yang terjadi di sekitar Teluk Carpentaria di pesisir utara Australia, telah memicu terjadinya cuaca ektrem di wilayah Nusa Tenggara Timur, Kamis (23/1/2020)

"Hujan deras yang terjadi sejak Rabu (22/1/2020) disebabkan karena adanya pola siklonik di sekitar Teluk Carpentaria di pesisir utara Australia," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari, Agung Sudiono Abadi di Kupang, melansir laman Antara.

Pola siklonik inilah yang mengakibatkan adanya konvergensi angin di wilayah NTT, khususnya wilayah Pulau Timor.

Dampaknya adalah akan terjadinya hujan deras, dan diprakirakan sepanjang hari Kamis (23/1/2020) akan berawan dan berpotensi terjadi hujan ringan sampai sedang.

Selain berdampak pada peningkatan gelombang di sejumlah wilayah perairan laut NTT dalam beberapa hari ke depan.

Dalam hubungan itu, dia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak bencana yang dapat ditimbulkan seperti banjir, genangan air, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang dan kilat/petir.

Selain itu, bagi pengguna dan operator jasa transpotasi laut, nelayan, wisata bahari dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar wilayah pesisir, diimbau untuk mewaspadai potensi tinggi gelombang laut.

Mengenai gelombang dia mengatakan, tinggi gelombang berkisar 1.25-2.5 meter berpotensi terjadi di perairan laut Selat Sape bagian selatan, selat Sumba bagian barat, laut Sawu.

Selain terjadi pada wilayah perairan laut Samudera Hindia selatan Sumba, Sabu, perairan Selatan Kupang-Rote Ndao, katanya menambahkan.


Baca juga artikel terkait CUACA EKSTREM atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Antara
Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight