Pengusaha Erwin Aksa Dukung Sandiaga, Karena Teman atau Cari Aman?

Oleh: Felix Nathaniel - 21 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Dukungan Erwin Aksa untuk Sandiaga Uno tak sejalan dengan ayahnya Aksa Mahmud, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Partai Golkar.
tirto.id - Erwin Aksa mendukung calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno. Dia mendukung Sandiaga, dan dengan begitu Prabowo Subianto, atas alasan “persahabatan” meski konsekuensinya dia mesti dipecat dari jabatan Ketua Bidang Koperasi dan UKM DPP Partai Golkar.

Meski dipecat dari jabatan struktural, namun Erwin masih berstatus kader partai.

"Saya dan Sandiaga Uno merupakan sahabat sejati. Kami punya ikatan emosional yang tidak bisa kami hilangkan dan kami lupakan," katanya, dalam keterangan pers yang disampaikan Selasa (19/3/2019) lalu. “Bagi saya, persahabatan lebih penting dari segalanya. Jangan sampai persahabatan terputus karena pilihan politik yang berbeda.”

Langkah keponakan Wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut tidak sejalan dengan Golkar yang mendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Juga ayahnya, Aksa Mahmud, dan JK sendiri yang kini menjabat Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Erwin mengklaim telah menyampaikan keputusan tersebut kepada keluarga, termasuk ke JK, secara langsung. Erwin bahkan mengaku telah berpamitan kepada JK sebelum kedatangannya dalam debat ketiga Pilpres 2019 yang ramai diperbincangkan.

"Enggak ada masalah dengan Pak JK, Keluarga sering beda pendapat di politik," kata Erwin kepada reporter Tirto, Selasa (19/3/2019).

Perbedaan politik sebetulnya bukan hal baru bagi keluarga Aksa. Ketika pemilihan Ketua Umum Golkar pada 2014 misalnya. Saat itu JK mendukung Surya Paloh, sementara Erwin malah mendukung Aburizal Bakrie. "Dulu waktu Pilkada Sulsel, beliau (JK) dukung Golkar, saya dukung non-Golkar," tambah Erwin.

Pebisnis cum Politikus


Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komarudin, manuver Erwin sangat lazim dilakukan pebisnis yang menjadi politikus. Pertimbangannya semata untung dan rugi, kata Erwin.

"Itu memang strategi pengusaha berbasis politik. Umumnya begitu," kata Ujang di kawasan Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Dan itu sangat tepat, katanya, karena apa pun yang terjadi dengan hasil Pilpres 2019, maka trah Aksa atau bagian keluarga JK akan tetap mendapat keuntungan.

"Bisa jadi mereka berbagi peran. Satu di 01, satu di 02. Ketika itu bersaing ya sah-sah saja," tegasnya.

Sedangkan dosen Ilmu Sosial dan Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, memandang dukungan Erwin lebih kepada kedekatan pribadi dengan Sandiaga. Sebagai sesama pebisnis, kata dia, tentu mereka mempunyai keakraban khusus.

"Dia tidak ingin pilpres mengorbankan pertemanan. Ini makin menegaskan kenapa Erwin ke Anies waktu Pilkada Jakarta. Ya karena ada Sandi di situ," tegas Adi kepada reporter Tirto.

Pengaruh Kecil


Selain dengan keluarganya sendiri, langkah Erwin Aksa juga berbeda dengan Golkar. Golkar adalah salah satu mesin utama Jokowi-Ma'ruf.

Meski tampak pecah, tapi Ketua DPP Golkar yang juga juru bicara TKN, Ace Hasan Syadzily, menegaskan Golkar masih solid. Perkara Erwin yang dicopot dari jabatan struktural tapi tak diberhentikan sebagai kader, katanya, karena pemecatan harus melalui majelis kode etik partai.

"Yang terpenting sebetulnya sekarang ini proses itu masih terus dijalankan. Tetapi untuk mengisi jabatan lowong, maka untuk itulah partai mengambil langkah cepat untuk menggantikan posisi ini di struktural partai," ujar Ace.

Selain mungkin tidak ada pengaruhnya kepada Golkar, peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Ikrama Masloman juga berpendapat manuver Erwin Aksa tidak akan mempengaruhi elektabilitas, baik Golkar atau Prabowo-Sandi.

"Mungkin efeknya di elite. Erwin juga tidak populer. Memang benar dia punya beberapa perusahaan dengan JK, namun kepopuleran dia di tingkat pemilih saya pikir tidak terlalu berpengaruh," ujar Ikrama di Jakarta Timur.


Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Gilang Ramadhan