Pengidap HIV/AIDS Lebih Berisiko Terkena TBC, Kata Dokter

Penulis: Yandri Daniel Damaledo, tirto.id - 2 Des 2022 11:22 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Dokter sebut pengidap HIV/AIDS 30 kali lebih berisiko terkena penyakit TBC.
tirto.id - Dokter spesialis penyakit dalam dr. Herikurniawan, Sp.PD, KP menyebutkan, pasien HIV/AIDS lebih berisiko 30 kali lipat lebih tinggi terkena tuberkulosis (TB).

"Kalau bicara AIDS enggak afdol kalau enggak bicara TB. Kita perlu aware dengan TB ini karena pasien HIV berisiko 30 kali lipat lebih tinggi terkena TB," ujar dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu dalam bincang-bincang media di Jakarta, seperti dilansir Antara, Kamis (1/12/2022).

Insidensi total penyakit TB tahun 2021 di Indonesia sebesar 354/100.000 populasi atau 969.000 kasus. Sedangkan, insidensi TB-HIV tahun 2021 sebesar 8,1/100.000 populasi atau 22.000 kasus.


Kematian TB non-HIV pada tahun 2021 mencapai 52/100.000 populasi atau 144.000 kasus. Sedangkan kematian TB-HIV sebesar 2,4/100.000 populasi atau 6.500 kasus.

dr. Herikurniawan mengatakan TB disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Bila menginfeksi paru maka menyebabkan TB Paru, namun kuman ini juga mampu menginfeksi organ tubuh lainnya seperti hati, otak, mata hingga tulang.

Kuman ini bisa bertahan hingga suhu terendah -70 derajat, namun mati dalam beberapa menit jika terkena sinar matahari atau suhu 30-37 derajat.

TB pada non-HIV dan HIV memiliki gejala yang sama seperti batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, keringat malam berlebih, nafsu makan menurun, lemah dan lelah.

Namun pada pasien HIV, keluhan batuk berapapun lamanya harus tetap melakukan pemeriksaan. "Semua pasien yang terdiagnosa HIV positif wajib dilakukan pemeriksaan TB, kita periksa dahaknya," kata dr. Herikurniawan.

Lebih lanjut, dr. Herikurniawan mengatakan pengobatan TB pada pasien HIV harus didahulukan dengan pemberian obat OAT selama 6 bulan setiap hari.

Pada pasien HIV juga sering ditemukan infeksi hati sehingga mudah terjadi efek samping obat berupa gangguan hati pada beberapa obat OAT.


Selain itu, semua pasien TB-HIV positif akan diberikan antibiotik pencegahan Kotrimoksazol untuk mencegah infeksi oportunistik lain.

"Kalau baru ketahuan HIV itu harus langsung cek TB, kalau enggak ada TB tetap harus dikasih pencegahan," ujar dr. Herikurniawan.

WHO: TBC Saingi HIV/AIDS Sebagai Penyebab Kematian Utama


Sementara itu, Badan Organisasi Dunia atau WHO baru-baru ini menyebutkan bahwa, untuk pertama kalinya, tuberkulosis (TBC) menyaingi HIV dan AIDS sebagai penyakit infeksi penyebab utama kematian orang di dunia, menurut badan kesehatan dunia, WHO.

Data menunjukkan, sepanjang 2014 lalu, terdapat 1,1 juta orang meninggal karena TBC. Sementara HIV dan AIDS telah membunuh 1,2 juta orang di dunia, termasuk 400 ribu orang yang menderita TB dan AIDS.

Direktur program TB WHO, Dr. Mario Raviglione, mengatakan, sekalipun intervensi TB sejak 2000 telah menyelamatkan nyawa 43 juta orang, namun angka kematian penyakit ini masih tinggi.

"Berita baiknya adalah intervensi TB telah menyelamatkan 43 juta orang sejak tahun 2000, namun sekalipun kebanyakan kasus TB telah ditangani, angka kematiannya masih tinggi," kata dia seperti dilansir Reuters.

Sebuah laporan dari 205 negara mengenai TB memperlihatkan, sekitar 6 juta kasus baru TB muncul pada 2014, lebih sedikit dibandingkan tahun lalu, yakni 9,6 juta orang.

Kemudian, dari 480 ribu kasus MDR TB (resistensi tehadap dua obat anti TB) pada 2014, hanya seperempat kasus yang terdiagnosa. Raviglione mengatakan, mengetahui kondisi ini, sudah saatnya dana internasional untuk TB mulai ditingkatkan.

Menurut dia, saat ini dana internasional untuk HIV dan AIDS 10 kali lebih besar dibandingkan untuk TB.

Hal ini karena HIV dan AIDS sendiri telah menjangkiti wilayah-wilayah miskin di Afrika. Sementara TB lebih banyak ditemukan di India dan China, yang pemerintah lebih mampu menangani infeksi TB.

Ciri-Ciri Sakit TBC


Tuberculosis adalah penyakit menular yang menyerang beberapa bagian tubuh namun utamanya pernapasan.

Dilansir dari laman CDC, penyakit tuberculosis disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis yang biasanya menyerang paru-paru.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, infeksi tuberkulosis mulai muncul di negara berkembang pada tahun 1985 beriringan dengan munculnya HIV yang menyebabkan imunitas seseorang menjadi turun sehingga tidak bisa melawan bakteri tuberculosis.

Penyakit ini menyebar melalui udara dari satu orang ke orang lainnya. Penyebaran bisa terjadi ketika orang dengan penyakit tuberculosis yang menyerang paru-paru atau tenggorokan mereka sedang berbicara sehingga bakteri tuberculosis bisa menyebar lewat udara dan terhirup oleh orang di sekitarnya.

Penyakit ini tidak menyebar melalui jabatan tangan, makanan atau minuman, pemakaian sikat gigi bersamaan ataupun ciuman. Ketika seseorang menghirup bakteri tuberculosis, bakteri tersebut akan berdiam di paru-paru dan bertumbuh. Setelah itu bakteri bisa menyerang anggota tubuh lain seperti ginjal dan otak melalui pembuluh darah.

Secara umum terdapat dua jenis tuberculosis yaitu tuberculosis aktif dan tuberculosis tersembunyi. Tuberculosis aktif merupakan kondisi yang bisa membuat penderitanya sakit dan menyebarkan penyakit tersebut ke orang lain.

Gejala bisa muncul sekitar seminggu atau bertahun-tahun setelah terinfeksi bakteri tuberculosis.

Sementara tuberkulosis tersembunyi merupakan kondisi di mana seseorang terinfeksi bakteri tuberculosis tetapi bakteri tersebut tidak aktif dan tidak menimbulkan gejala.

Kondisi ini biasanya tidak menular dan suatu saat mungkin bisa berubah menjadi tuberculosis aktif.

Gejala-gejala umum tuberculosis antara lain adalah:

- Batuk-batuk selama lebih dari tiga minggu
- Batuk berdarah
- Nyeri di dada
- Nyeri ketika bernapas atau batuk
- Penurunan berat badan drastis
- Kelelahan
- Demam
- Keringat dingin di malam hari
- Menggigil
- Kehilangan selera makan.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight