Penghapusan Stigma Pasien COVID-19 Masih Jauh dari Tuntas

Oleh: Alfian Putra Abdi - 30 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Stigma terhadap pengidap COVID-19 masih juga ada. Ini membuat mereka alih-alih dibantu malah dijauhi.
tirto.id - Hafidz Fauzan tidak bisa tidur usai mengantar ibunda ke rumah sakit pada 23 Januari 2021. Stok kebutuhan pangan mereka sekeluarga, yang sedang menjalankan isolasi mandiri akibat COVID-19, menipis. Situasi jadi sulit karena tetangga sekitar rumah tidak bisa diharapkan.

Sekitar pukul 2 pagi, Hafidz membuka Twitter dan mencuitkan sesuatu: Twitter please do your magic. Inti cuitannya adalah memberitahukan kondisi terkini dari keluarga yang sedang isolasi karena terpapar COVID-19 dan kelaparan.

Per 26 Januari, cuitannya telah direspons dengan 7,1 ribu cuitan ulang, 421 cuitan kutipan, dan 20,4 ribu menyukai.

Hafidz pemuda 21 tahun, anak pertama dari pasangan Arief Rachmat berusia 50 tahun dan Siti Rini 47 tahun. Ia memiliki tiga adik: Hariz Naufal (19), SN (14), dan AM (4). Mereka tinggal di sebuah kompleks di Kabupaten Bandung.

Seluruh anggota keluarga tak terkecuali Hafidz jatuh sakit pada 13 Januari 2021. Mereka merasakan hal yang sama: demam, batuk dan sakit kepala; dengan intensitas sedang hingga berat. Mereka pikir hanya flu biasa saja sehingga tidak membatasi aktivitas. Mereka masih berbelanja ke warung.

Namun, setelah satu minggu, gejala tak kunjung membaik. Kondisi si ayah memburuk, dadanya bertambah sesak. Kepanikan mulai muncul.

Karena tidak cukup uang untuk melakukan tes swab berjamaah, si ayah menjadi prioritas. Dengan biaya sebesar Rp 1,5 juta, si ayah tes di rumah sakit swasta dan hasilnya positif. “Ayah itu yang paling susah bernapas sampai harus pakai alat bantu, sementara alat bantu, kan, ada di RS. Jadi dirawat ke RS,” ujar Hafidz.


Anggota keluarga lain menjalani pengisolasian diri di rumah. Untuk makan mereka mengandalkan layanan pesan antar melalui aplikasi, begitu juga untuk obat-obatan.

Setelah keuangan semakin menipis, keluarga Hafidz meminta seorang tetangga membelikan bahan makanan dan memasak untuk mereka. Kalau sudah matang, tinggal di antara dan digantung di pagar rumah. Tak ada kontak fisik.

Cara ini hanya berjalan sekali untuk kebutuhan makan pagi, saat tiba-tiba tetangga yang menolong keluarga Hafidz ditegur Rukun Tetangga setempat. Ia dilarang berkontak dengan keluarga Hafidz. “Bu RT apakah sakit begitu tidak boleh makan? ‘Kan dia mah orang kaya ceunah, ada uang untuk beli Gofood atau apa’,” ujar si tetangga menirukan perbincangan dengan pihak RT.

Akumulasi situasi membuat Ibunda Hafidz stres dan lelah, juga yang lain. Dokter bilang mereka semestinya istirahat total. Tapi mereka juga harus mengurus AM, si bungsu yang memiliki riwayat dirawat di rumah sakit akibat asma. “Kami tidak boleh kecapaian, tapi dia [AM] lagi aktif-aktifnya,” ujar Haifdz.

Setelah Hafidz mencuitkan sesuatu di Twitter, bantuan mulai berdatangan. Seorang warganet memberikan Hafidz kontak puskesmas terdekat untuk keperluan tes swab sekeluarga. Puskesmas penuh dan baru bisa melayani satu minggu kemudian.

Akhirnya mereka melakukan tes swab di fasyankes lain. Hasilnya Hafidz negatif, sementara ibu dan adik-adiknya positif.

Sekarang Hafidz sekeluarga mulai kedatangan bantuan makanan dari orang-orang. Untuk obat-obatan, mereka memenuhinya sendiri dengan pengetahuan alakadarnya. Mereka hanya tahu bahwa tubuh mereka membutuhkan banyak vitamin.

“Semenjak kontak kemarin belum ada tindakan apa-apa [dari puskesmas dan Satgas COVID-19],” tutur Hafidz.

Stigma

Pandemi COVID-19 sudah bergulir hampir satu tahun namun persoalan stigma terhadap mereka yang terpapar seperti yang dialami Hafidz dan keluarga belum juga selesai. Menurut Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono, stigma seperti ini berasal “dari masyarakat yang tidak tahu.”

Menurutnya agar hal ini tidak terulang Satgas harus memberitahukan hasil laboratorium kepada RT/RW yang memiliki warga terpapar COVID-19. Nantinya RT/RW yang menyosialisasikan lebih lanjut ke warga.


Sementara penyebabnya, menurut relawan LaporCovid-19 Tri Maharani, karena pemerintah tidak bersungguh-sungguh menuntaskan bias informasi yang ada di tengah masyarakat.

Oleh karena itu menurutnya pemerintah perlu membuat formula edukasi yang progresif dengan lebih banyak dan sering melibatkan televisi dan radio, serta memanfaatkan pejabat lokal hingga tingkat RT/RW.

RT/RW juga harus diberdayakan sebagai pencatat dan pelapor warga yang positif atau sudah negatif COVID-19. Sementara kelurahan harus pro-aktif berkoordinasi dengan rumah sakit atau puskesmas untuk mengetahui ketentuan durasi pengisolasian mandiri dari warga terpapar. Sistem kerja seperti ini harus dibiasakan sehingga melunturkan anggapan bahwa pasien COVID-19 patut dikucilkan.

“Harus stakeholder mendukung masyarakat, bukan masyarakat berjuang sendiri,” ujarnya kepada reporter Tirto, Senin (25/1/2021) awal pekan lalu.

Kembali ke perkara Hafidz, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Grace Mediana mengatakan berkoordinasi dengan satgas desa dan kecamatan.

Ia juga mengimbau agar warga setempat “tidak melakukan stigma sosial” dan menganjurkan “masyarakat harus peduli terhadap sesama.” “Saya kira bukan tugas dinkes saja, semua berperan serta,” imbuhnya kepada reporter Tirto, Senin.

Baca juga artikel terkait ISOLASI MANDIRI atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino
DarkLight