Menuju konten utama

Penggurunan Semakin Meluas dan Upaya Mitigasi Pemerintah China

Penggurunan di bagian utara China terjadi dengan kecepatan mencapai 3.400 kilometer per tahun.

Penggurunan Semakin Meluas dan Upaya Mitigasi Pemerintah China
Ilustrasi Gurun Pasir. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Setelah sering menyaksikan keponakannya disuntik karena rutin sakit, Ma Shiliang tahu betul bagaimana menyuntik pasien dengan baik dan benar.

Meskipun tak sempat duduk di bangku sekolah menengah, lewat pengetahuan yang diperolehnya secara otodidak, ia diangkat menjadi mantri pada tahun 1990-an. Ini didorong oleh kebutuhan Desa Yejianhe, bagian regional semi-otonom Ningxia Hui, China, akan tenaga medis.

Ia menjadi pelayan masyarakat di bidang medis, terutama melakukan proses vaksinasi serta penanganan penyakit-penyakit ringan. Setelah diberi izin praktik medis oleh Pemerintah Cina pada tahun 2011, titel "dr." pun diperolehnya. Membuatnya memperoleh keuntungan lumayan, baik status maupun penghasilan.

Namun, kurang dari lima tahun setelah izin praktik diperoleh, nasib baik Ma berakhir. Bukan karena izin praktiknya dicabut, melainkan karena Pemerintah China memaksa Ma, juga sekitar 7.000-an penduduk Desa Yejianhe untuk pindah ke desa lain, yakni Desa Danau Miaomiao. Dan di desa tersebut, pemerintah hanya menyediakan satu pos tenaga medis yang telah diisi.

Tak hanya itu, karena hanya tersedia satu pabrik serta kondisi tanah yang tak sesubur Desa Yejianhe, mayoritas penduduk yang dipaksa pindah mengalami masalah perekonomian. Juga diperparah dengan kewajiban membayar "fee" sekitar Rp 30 juta sebagai ongkos rumah baru dan sepetak lahan garapan.

Secara keseluruhan, tak hanya penduduk Desa Yejianhe yang terpaksa pindah, tapi juga 1,14 juta jiwa lainnya di seluruh China, khususnya kawasan utara Cina.

Mereka harus pindah dari kampung halamannya lewat program "migrasi ekologi" yang digagas Pemerintah China. Nasib ini harus diterima penduduk Desa Yejianhe karena China kini mengalami desertification alias penggurunan.

Qi Feng dalam "What Has Caused Desertification in China" (Nature, 2015) menyebut bahwa penggurunan di China terjadi dengan kecepatan mencapai 3.400 kilometer per tahun. Ini terjadi di wilayah bagian utara negeri Tirai Bambu (di atas 35 derajat lintang utara), yakni di Gurun Gobi bagian China, wilayah yang menyumbang 20 persen total teritorial China.

Ilustrasi gurun Pasir

Ilustrasi Gurun Pasir. FOTO/iStockphoto

Perubahan Iklim

Penggurunan diperkirakan terjadi atas multi faktor dengan perubahan iklim sebagai yang utama. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak badai pasir terbentuk di daerah gurun yang merusak tutupan vegetasi wilayah-wilayah sekitar gurun.

Hal ini terjadi karena luasnya Eurasia (tempat Gobi/China berada) sangat memengaruhi sirkulasi udara benua, atas perbedaan sifat termal tanah dan air di kawasan.

Selama zaman Pleistosen, banyak bentang alam China dipahat oleh proses aeolian, menghasilkan penguburan lempung Tersier. Merujuk studi yang dilakukan Xunmin Wang berjudul "Desertification in China" (Erath Science Review, 2008), hal ini diperparah dengan kian menipisnya curuh hujan, yakni kurang dari 450 milimeter per tahun.

Akibatnya, penggurunan tak terelakkan. China kini memiliki gurun seluas 55.000 kilometer persegi. Jumlah ini kian meluas dibandingkan tahun 1975, diperkirakan penambahannya seukuran Kroasia.

Menurut Xunming Wang dalam studinya yang lain, yakni "Climate, Desertification, and the Rise and Collapse of China's Historical Dynasties" (Hum Ecol, 2010), penggurunan memiliki sangkut paut dengan kejayaan dan keruntuhan dinasti-dinasti China.

Penggurunan dan Dinasti

"Perputaran terjadinya penggurunan yang mengakibatkan penurunan produktivitas biologis, dalam banyak kasus, [berkaitan erat dengan] berjaya atau tidaknya dinasti," ungkapnya.

Sebagai contoh, terjadi sejak lebih dari 2000 tahun lalu di wilayah bernama Mu Us, Ulan Buh, Hobq, Otindag, dan Horqin kala Dinasti Ming berkuasa di China, penggurunan merupakan salah satu sebab utama Dinasti Ming runtuh.

Penggurunan membuat tutupan vegetasi hancur yang membuat ternak tak bisa dikembangbiakkan, dan akibatnya masyarakat tak memiliki penghasilan atau sumber pangan.

Uniknya, China tak hanya mengalami penggurunan. Dalam rentang 300 hingga 700 SM, terjadi penggurunan terbalik.

Infografik Penggurunan Cina

Infografik Penggurunan Cina. tirto.id/Fuad

Tak diketahui secara pasti bagaimana fenomena ini terjadi, namun tutur Xunming, "selama periode tersebut, dunia kultural dan politik China berkembang, kota atau wilayah yang mengalami penggurunan terbalik mengalami pertumbuhan pesat," tulisnya.

Dinasti Jin, dinasti yang kala itu berkuasa, akhirnya berjalan gemilang.

Kini, mencoba mencegah atau melakukan penggurunan terbalik, banyak upaya dilakukan China. Untuk mengendalikan penggurunan, Pemerintah China menerapkan serangkaian program mitigasi berskala besar, termasuk Program Hutan Perlindungan Tiga Utara dan Program Pemberantasan Penggurunan.

Proyek-proyek ini berfokus pada peningkatan tutupan vegetasi dengan melarang penggembalaan, menanam pohon dan rerumputan, serta membangun hutan pelindung untuk melindungi lahan pertanian dari tiupan pasir.

Total daerah penggurunan telah menurun di banyak daerah, tetapi di tempat lain, penggurunan terus meluas.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pemerintah, terjadi perubahan positif di wilayah-wilayah yang mengalami penggurunan.

Baca juga artikel terkait PERUBAHAN IKLIM atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi