Pengaruh Sapardi Djoko Damono dalam Sejarah Kesusasteraan Indonesia

Oleh: Permadi Suntama - 20 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Sapardi Djoko Damono (SDD) pada Minggu (19/7/2020) lalu meninggal dunia dalam usia 80 tahun.
tirto.id - Puisi Hujan Bulan Juni menjadi salah satu karya terbaik yang digubah oleh Sapardi Djoko Damono (SDD) yang pada Minggu (19/7/2020) lalu meninggal dunia. Sang penyair telah menulis banyak puisi, novel, kritik, maupun karya sastra lainnya. Ia salah satu pelopor puisi liris dalam sejarah kesusasteraan Indonesia modern.

Diksinya yang romantis membuat puisi Sapardi bisa diterima oleh berbagai kalangan, terutama anak-anak muda. Hal itu pun membuat dirinya dikenal oleh generasi milenal tanah air, bahkan mereka yang berada di luar lingkungan kesusasteraan Indonesia.

"Dia [Sapardi Djoko Damono] adalah salah satu rasul utama dalam kesusasteraan Indonesia," tutur penyair Joko Pinurbo, dikutip dari Majalah Tempo edisi 12 April 2010.

Buku puisi pertama SDD adalah Dukamu Abadi (1969) dan mendapat respon positif dari kritikus sastra pada awal kemunculannya. Abdul Hadi WM dalam sebuah ulasan menyebut puisi Sapardi Djoko Damono memiliki kesamaan dengan persajakan Barat di akhir abad 19.

Sapardi disebut berhasil melanjutkan tradisi puisi liris yang dirintis oleh Amir Hamzah dan Chairil Anwar dalam kesusasteraan Indonesia modern. Puisi-puisi Sapardi, menjadi bentuk puisi yang banyak ditiru oleh penyair-penyair muda di Indonesia.

Karya Sapardi Djoko Damono

Melalui kumpulan puisi Dukamu Abadi, penyair kelahiran Solo, 20 Maret 1940 ini, mulai mencapkan pengaruhnya dalam puisi liris Indonesia modern.

Puisi karya Sapardi Djoko Damono banyak mengambil simbol alam, menggambarkan alam sebagai sesuatu yang hidup dan memiliki perasaan layaknya manusia.

"Saya menganggap benda dan orang itu sama. Seperti anak kecil, saya menganggap benda sebagai teman," tutur Sapardi Djoko Damono.

Setelah menerbitkan buku puisi pertamanya, Dukamu Abadi, Sapardi Djoko Damono kian giat menulis dan menerbitkan buku-buku lain, baik karyanya sendiri maupun terjemahan.

Beberapa tajuk buku puisi karya Sapardi Djoko Damono di antaranya adalah Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Hujan Bulan Juni (1994), dan lain-lain.

Karya terjemahan Sapardi Djoko Damono antara lain: Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra karya Eugene O'Neill), Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, karya John Steinbeck), Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway), dan sebagainya.



Infografik Senarai Kisah Sapardi Djoko Damono
Infografik Senarai Kisah Sapardi Djoko Damono. tirto.id/Fuadi


Pengaruh Sapardi Djoko Damono

Peranan Sapardi Djoko Damono, dalam kesusasteraan Indonesia menurut A. Teew, sangat penting. Dalam bukunya, Kesusasteraan Indonesia Modern II (1988), Teew, menyebut Sapardi, sebagai cendekiawan muda yang patut diperhatikan.

"Ada perkembangan yang jelas terlihat dalam puisi Sapardi, terutama dalam hal susunan formal puisi-puisinya. Oleh sebab itu, sudah barang tentu sangat perlu mengikuti jejak Sapardi dalam tahun-tahun mendatang," tulis A. Teew, dikutip dari Ensiklopedia Kemendikbud.

"Dia seorang penyair yang orisinil dan kreatif, dengan percobaan-percobaan pembaharuannya yang mengejutkan, tetapi dalam segala kerendahan hatinya, boleh jadi menjadi petunjuk tentang perkembangan-perkembangan mendatang," tambah profesor berdarah Belanda ini.

Selain aktif menulis karya sastra, Sapardi Djoko Damono juga aktif dalam pengembangan kesusasteraan Indonesia.

Lulusan UGM ini tercatat sebagai dosen di Universitas Indonesia dan pernah mengajar di berbagai universitas baik negeri maupun swasta di tanah air.

Selain itu, Sapardi Djoko Damono juga telah meraih beragam penghargaan dari dalam negeri maupun luar negeri. Hari Minggu tanggal 19 Juli 2020 kemarin, sang maestro wafat dalam usia 80 tahun.

Baca juga artikel terkait SAPARDI DJOKO DAMONO atau tulisan menarik lainnya Permadi Suntama
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Permadi Suntama
Penulis: Permadi Suntama
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight