Pengakuan Gebby Vesta di Instagram: Beda Transgender & Transeksual

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 20 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Aktivis perempuan dan Sekretaris PKBI DIY Gama Triono mengatakan Gebby Vesta berhak memilih seksualitas dan gender ekspresi, orientasi seks, preferensi seksual yang dia mau.
tirto.id - Gebby Vesta hari ini, Jumat (20/9/2019) menjadi salah satu trending topik di Google Indonesia karena mengaku sebagai transgender di media sosial Instagram pada Kamis (19/9/2019).

Pengakuan Gebby tersebut mendapat banyak komentar dari netizen yang sebagian besar memberi dukungan dan simpati pada Gebby.

Gebby juga mengaku sejak enam tahun silam sudah mengganti jenis kelaminnya.

“Ya hari ini aku mau buat sebuah pengakuan, pergolakan batin selama hampir dua tahun aku melawan pergolakan batin ini tapi hari ini aku mau jujur. Ya seperti rumor yang sudah kalian dengar dan ketahui diluar sana kalau aku adalah seorang transgender, ya aku adalah seorang transgender aku melakukan pergantian kelamin hampir dua tahun, hampir eman tahun silam,” ujar Gebby.

Gebby juga mengatakan bahwa selama 19 tahun ia menutupi jati dirinya. Menurutnya semua itu ia lakukan karena saat itu ia khawatir dan takut untuk kehilangan pekerjaannya.

Namun saat ini ia memutuskan untuk mengakui bahwa ia transgender dan berencana meninggalkan dunia hiburan yang sudah membesarkan namanya. Lalu apa sebenarnya perbedaan antara transgender dan transeksual?

  • Transeksual
Dilansir dari laman Medical Daily, transeksual adalah orang yang bertransisi dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya. Seseorang yang lahir sebagai laki-laki dapat menjadi perempuan yang dikenali melalui penggunaan hormon dan / atau prosedur bedah. Begitu pula sebaliknya seseorang yang terlahir sebagai perempuan bisa dikenali sebagai pria.

Aktivis perempuan dan Sekretaris PKBI DIY Gama Triono juga mengatakan transeksual artinya seseorang yang mengekspresikan seksual dan gendernya sebagai seks dan gender berbeda dari yang selama ini dikonstruksi oleh masyarakat (adat, budaya), kebijakan serta program turunannya.

Jadi, meski tanpa mengubah kelamin (atau belum mengubah) dia sudah menjadi transeksual. Beberapa transeksual sampai mengubah kelamin dan juga melakukan terapi hormon.

Meskipun beberapa dari mereka melakukan operasi dan mengganti penis menjadi vagina, tapi mereka tetap tidak dapat mengubah genetika mereka dan tidak dapat memperoleh kemampuan reproduksi dari seks yang mereka transisikan.

Sebab kemampuan reproduksi sudah dibentuk sejak lahir dan mengacu pada status biologis seseorang sebagai pria atau perempuan. Dengan kata lain, itu mengacu secara eksklusif pada fitur biologis: kromosom, keseimbangan hormon, dan anatomi internal dan eksternal.

Kita masing-masing terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, dengan pengecualian langka dari mereka yang lahir interseks yang dapat menampilkan karakteristik dari kedua jenis kelamin saat lahir.

  • Transgender
Transgender, tidak seperti transeksual. Transgender adalah istilah untuk orang yang identitas, ekspresinya, perilakunya, atau perasaan dirinya secara umum tidak sesuai dengan apa yang biasanya dikaitkan dengan jenis kelamin yang mereka bawa sejak lahir.

Dengan kata lain, menurut Gama transgender adalah orang yang menerima dirinya dengan seks (jenis kelamin) nya dan mengekspresikan gendernya berberbeda dari konstruksi gender yang ada.

Sering dikatakan seks adalah masalah tubuh, sementara gender muncul dalam pikiran. Gender adalah perasaan internal sebagai laki-laki, perempuan, atau lainnya.

Orang sering menggunakan istilah biner, misalnya, maskulin atau feminin, untuk menggambarkan gender sama seperti yang mereka lakukan ketika merujuk pada seks.

Tetapi gender lebih kompleks dan mencakup lebih dari dua kemungkinan. Gender juga dipengaruhi oleh budaya, kelas, dan ras karena perilaku, aktivitas, serta atribut yang dianggap sesuai dalam satu masyarakat atau kelompok.

  • Soal klaim transgender atau transeksual
Menyikapi pernyataan dan pengakuan yang dikeluarkan Gebby Vesta bahwa ia adalah transgender, Gama mengatakan bahwa paling penting orang yang berhak melabeli dirinya dengan seksualitasnya adalah dirinya sendiri sebab seksualitas adalah urusan yang sangat personal.

“Tapi, yang paling penting, orang tersebut yang berhak ‘melabeli’ dirinya sendiri. Karena seksualitas itu sangat hakiki, sangat personal dan hanya orang tersebut yang mampu merasakannya (kenikmatan, gairah, preferensi, hasrat, dan lain-lain) dan orang lain tidak bisa menduga-duga bahkan men-judge,” kata Gama.

Selain itu Gama juga mengatakan setiap orang memiliki hak untuk memilih seksualitas maupun orientasi seksualnya.

“Dia memiliki hak untuk memilih seksualitas dan gender ekspresi, orientasi seks, preferensi seksual yang dia mau,” pungkas Gama.


Baca juga artikel terkait TRANSGENDER atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Yantina Debora
DarkLight