Menuju konten utama
29 Maret 1974

Penemuan Patung Pasukan Terakota dan Sejarah Dinasti Qin

Ribuan patung Pasukan Terakota menyimpan masa lalu Cina yang penuh gejolak dari era Dinasti Qin.

Penemuan Patung Pasukan Terakota dan Sejarah Dinasti Qin
Ilustrasi Pasukan Terakota. tirto.id/Deadnauval

tirto.id - Xi’an, Cina, 29 Maret 1974, tepat hari ini 45 tahun lalu. Yang Zhifa dan Wang Puzhi tidak pernah menyangka cangkul yang mereka hujamkan ke tanah untuk membuat sumur ternyata berujung pada penemuan arkeologi paling spektakuler di abad ke-20: Terracotta Army yang dibuat pada masa Dinasti Qin (221-206 SM). Patung-patung itu berada di kompleks makam kaisar Qin Shi Huang.

Zhifa dan Puzhi adalah sepasang saudara yang berprofesi sebagai petani dan tinggal bertetangga di distrik Lintong County, luar kota Xi'an, provinsi Shaanxi, China. Xi’an bukanlah kota yang populer seperti Beijing atau Shanghai. Kendati di sana terdapat cerita tentang Biksu Tong Sam Cong dan Sun Go Kong atau bagaimana kota tersebut menjadi pintu masuk Islam ke Cina yang dibawa pedagang Arab pada 651 M (ralat: sebelumnya ditulis SM) di masa Dinasti Tang.

Syahdan, hari itu Zhifa dan Puzhi janjian untuk membuat sumur di sebuah ladang yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan bus dari rumah mereka. Ketika sudah tiba dan mulai mencangkul, Zhifa dikejutkan oleh sesuatu yang dihantam cangkulnya. Ia pun segera memberitahu Puzhi. Semula mereka mengira yang dihantam itu adalah patung Buddha. Namun, dugaan mereka salah: itu adalah patung Prajurit Terakota.

Kabar penemuan penting tersebut pun segera menyebar dengan cepat. Beberapa bulan kemudian, tim arkeologi yang dipimpin Zhao Kangmin dan beberapa pejabat Cina berdatangan ke sana. Penggalian lebih intens pun dilakukan. Hasilnya: jumlah Pasukan Terakota ditengarai mencapai 8.000 lebih dan seluruhnya dibuat tanpa menggunakan bantuan alat apapun alias hanya memakai tangan.

Dibuat sejak 246 SM dengan melibatkan lebih dari 700.000 pekerja, megaproyek ini memerlukan waktu hingga 40 tahun untuk penyelesaiannya. Selain patung-patung prajurit, ditemukan pula patung-patung lain yang menunjukkan profesi seperti musisi, akrobat, pejabat, hingga selir. Selain itu juga terdapat sekitar 40 ribuan senjata yang terbuat dari tembaga. Mulai dari panah, pedang, sampai pecut yang, ajaibnya, masih berada dalam kondisi bagus kendati telah berusia 2.000 tahun lebih. Patung-patung lainnya: 130 kereta kuda dan 670 kuda.

Seluruh patung tersebut dikubur di dalam 3 pit (lubang) yang berbeda dan disusun sesuai arahan seni perang kuno, yakni menghadap ke timur atau ke arah musuh. Pit 1 berukuran sebesar kandang pesawat dan berada di samping kanan. Pit 2 berukuran lebih kecil, berada samping kiri. Lalu pit 3 yang berukuran paling kecil (sekitar 21×17 m), berada di belakang sebagai pos komando dan hanya terdapat 68 patung.

Seturut riset dari tim arkeolog terkait, pembuatan ribuan patung tersebut menunjukkan bahwa kaisar Qin menginginkan pelayanan yang sama seperti ketika ia masih hidup. Sebab itulah Pasukan Terakota kemudian juga dinamai ‘tentara di dunia-akhirat’. Selain itu juga demi menunjukkan kejayaan sang Kaisar: bahwa ketika ia memimpin, seluruh wilayah Tiongkok berhasil dipersatukan. Adapun yang terpenting adalah penemuan Pasukan Terakota dapat menyingkap lebih jelas bagaimana sejarah kekaisaran pertama dalam sejarah Tiongkok itu.

Dengan merujuk kepada kedahsyatan pembuatannya, jumlahnya, serta nilai-nilai sakral yang tercantum di dalamnya UNESCO kemudian menetapkan Pasukan Terakota sebagai situs warisan dunia pada 1987. Sayangnya, ketika 10 patung dipinjamkan untuk acara pameran di The Franklin Institute di Philadelphia, AS, seorang pemuda 24 tahun bernama Michael Rohana kedapatan mencuri ibu jari dari salah satu patung tersebut.

Para petugas museum tidak menyadari pencurian tersebut hingga berminggu-minggu kemudian. Barulah pada 8 Januari 2018, pihak berwenang akhirnya menemukan jempol patung itu di laci meja di dalam kamar Rohana di Bear, Delaware, atau lima hari setelah para petugas museum menyadari hilangnya bagian dari patung mahal tersebut. Rohana pun dikenai dakwaan mencuri dan menyembunyikan karya seni berharga, namun telah dibebaskan sejak 18 Februari 2019 usai memberikan uang jaminan.

Pemerintah Cina yang mengetahui rendahnya hukuman bagi Rohana berang bukan main. Melalui Pusat Promosi Warisan Budaya Shaanxi, pihak yang mengawasi pameran benda-benda bersejarah Cina di luar negeri, menuntut hukuman keras bagi pemuda tersebut. Bukan apa-apa, sebab kendati “hanya” sepotong ibu jari, harganya di pasaran barang bersejarah ditaksir mencapai 4,5 juta dolar AS atau sekitar Rp61,5 miliar.

Kaisar Qin, si Tangan Besi yang Berjasa Besar

Untuk mengetahui bagaimana Dinasti Qin berhasil menyatukan keragaman suku bangsa di Cina sekaligus meletakkan dasar Sistem Kekaisaran feodal yang diteruskan dinasti-dinasti setelahnya selama ribuan tahun, penting untuk melihat ke periode Zhànguó Shídài atau Negara Berperang (403-221 SM).

Periode Zhànguó Shídài adalah sebutan suatu periode pada akhir Dinasti Zhou. Ketika itu seluruh kadipaten saling bermusuhan dan berebut wilayah kekuasaan hingga menyisakan tujuh yang terkuat: Qin, Chu, Han, Qi, Wei, Yan, dan Zhao. Dengan kekuatan ekonomi dan militernya, kerajaan Qin berhasil mengalahkan enam negara lain dan menyatukan kembali daratan Cina usai berperang selama 13 tahun. Tercatat ada enam perubahan fundamental yang terjadi pada Dinasti Qin.

(1) Menetapkan Xian Yang sebagai ibu kota negara; (2) Menghapus segenap peraturan feodalisme dan menggantinya menjadi sistem pemerintahan terpusat (sentralisasi) dengan kaisar memiliki kuasa absolut; (3) Posisi raja vazal (adipati) juga dihapus; (4) Pemerintahan pusat dijalankan tiga perdana menteri utama dan sembilan menteri biasa. Menteri utama terdiri dari perdana menteri dan dua wakil perdana menteri yang bertugas sebagai pelaksana militer dan administrator negara; (4) Pembentukan beberapa provinsi baru dan pemberlakuan undang-undang yang sama untuk semua wilayah; (5) Membakukan sistem ukuran standar dan tulisan; (6) Membuat satu jenis mata uang dari segi nilai, bentuk, dan berat.

Dengan sistem tersebut, kelak kaisar Qin Shi Huang dikenal memerintah dengan tangan besi. Ia juga kerap menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya atau melarang buku-buku yang memuat kritik terhadap kaisar agar kepatuhan rakyat terus terjaga. Sementara dalam pembangunan, sifat tangan besi kaisar Qin juga tampak. Sebelum ia memerintahkan pembangunan pasukan Terakota dan makamnya, kaisar Qin juga minta didirikan benteng pertahanan serupa tembok raksasa yang memanjang lebih dari 2.500 kilometer.

Itulah cikal bakal Tembok Besar Cina yang pengerjaannya memakan waktu ratusan tahun dan baru selesai di era Dinasti Ming.

Ketika usianya mulai menua, kaisar Qin memiliki ketakutan besar menghadapi kematian. Maka dari itu, ia pun memerintahkan Xu Fu, sosok dengan predikat "orang pintar" di kerajaannya, untuk mencari obat keabadian ke lautan timur Tiongkok. Dua kali Xu Fu berangkat, yakni antara tahun 298 SM dan 210 SM, dengan membawa armada 60 kapal dan sekitar 500 orang kru. Namun karena ia sudah menduga bahwa obat tersebut tidak akan dapat ditemukan, maka dalam perjalanan kedua, Xu Fu pun melarikan diri dan tak pernah kembali lagi.

Konon, ia hijrah ke sebuah lokasi yang kelak dikenal sebagai Jepang.

Infografik Mozaik Tentara Terakota

undefined

Runtuhnya Dinasti Qin

Sebelum wafat, kaisar Qin sempat menitip pesan kepada kasim kepercayaannya, Zhao Gao, agar posisinya digantikan putranya yang tertua, Fusu.

Gao adalah sosok yang tamak, sedangkan Fusu adalah pemimpin yang dikenal memiliki integritas tinggi. Maka ketika Gao mengetahui pesan tersebut, ia takut Fusu akan menghukum mati dirinya. Terutama karena Fusu akan memilih Meng Tian sebagai panglima perang kerajaan, sosok yang selama ini kerap berselisih dengan Gao dan Li Si, salah satu menteri di kabinet kaisar Qin. Alhasil, mereka pun melakukan siasat busuk dengan membohongi Fusu.

Alih-alih memberitahukan yang sebenarnya, Gao justru mengatakan bahwa titah kaisar Qin adalah meminta Fusu bunuh diri. Kendati bingung, Fusu tidak dapat menolak pesan tersebut. Sebagai pengganti Fusu, Gao menunjuk Huhai (Qin Er Shi), anak termuda kaisar Qin yang selama ini dikenal sembrono dan doyan main perempuan. Setelah naik takhta, ia hanya sibuk merayakan kenikmatan duniawi, sementara urusan negara diserahkan kepada Gao.

Efek dari pengkhianatan Gao adalah Dinasti Qin mengalami kekacauan akut. Dimulai dari pemberontakan rakyat yang diinisiasi dua tentara kerajaan yang ditugaskan untuk membantu pertahanan di Yuyang, Chen Sheng dan Wu Guang. Ketika kondisi makin kacau, Gao sempat menunjuk Ziying, putera Fusu, agar menjadi kaisar. Namun Ziying yang tahu bahwa strategi itu hanya akan menyebabkannya mati di tangan Gao pun balik bersiasat: berpura-pura sakit saat upacara penobatannya sebagai kaisar ketiga.

Gao yang kesal karena tahu hal ini lantas turun tangan langsung untuk menjemput Ziying di kamarnya. Dan persis ketika ia hendak menegur, Ziying segera menusukkan pisau tajam ke perut Gao. Kasim tamak itu tewas seketika. Kendati demikian, pemberontakan terus berkobar, terutama yang dilakukan rakyat Chu di bawah komando Liu Bang dan Xiang Yu. Akhirnya, pasukan Ziying dikalahkan dalam perang di sungai Wei, dan seluruh keluarganya pun dibantai.

Berakhirlah kekuasaan Dinasti Qin yang hanya berlangsung selama 14 tahun, berganti dengan Dinasti Han.

Baca juga artikel terkait SEJARAH DUNIA atau tulisan lainnya dari Eddward S Kennedy

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Ivan Aulia Ahsan