Penelitian: Nasi Bermanfaat Kurangi Risiko Obesitas

Oleh: Febriansyah - 4 Mei 2019
Dibaca Normal 1 menit
Penelitian menemukan nasi atau beras yang dikonsumsi dapat mengurangi risiko obesitas.
tirto.id - Sebuah studi yang menggunakan data dari lebih dari 130 negara menyimpulkan bahwa makan lebih banyak nasi dapat melindungi dari obesitas. Setelah meneliti berbagai faktor, peneliti menemukan hasilnya tetap signifikan.

Obesitas di negara-negara Barat dan sekitarnya terus meningkat. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), 39,8 persen orang Amerika Serikat sekarang mengalami obesitas. Dibandingkan dengan negara di Asia seperti di Jepang, WHO mencatata angkanya hanya 4,3 persen,

Berbagai faktor yang dapat memengaruhi fenomena tersebut mungkin masih membingungkan. Tetapi menurut satu kelompok peneliti, perbedaan itu dipengaruhi oleh nasi.

Penelitian yang dipresentasikan di Kongres Eropa tentang Obesitas (ECO2019) di Glasgow, Inggris ini mengambil data dari 136 negara.

Mereka menemukan bahwa negara-negara yang mana orang makan rata-rata setidaknya 150 gram beras per hari memiliki tingkat obesitas secara signifikan lebih rendah daripada negara-negara di mana orang kurang mengonsumsi beras yaitu sekitar 14 gram per hari.

Para peneliti berusaha untuk memperhitungkan sebanyak mungkin variabel perancu, termasuk tingkat pendidikan rata-rata, tingkat merokok, total kalori yang dikonsumsi, uang yang dihabiskan untuk perawatan kesehatan, persentase populasi di atas 65 persen, dan produk domestik bruto per kapita.

Semua variabel ini secara signifikan lebih rendah di negara-negara yang penduduknya paling banyak makan nasi. Dari data ini, peneliti memperkirakan bahwa meningkatkan tindakan mengonsumsi beras yaitu seperempat cangkir beras per hari (sekitar 50 gram per orang) dapat mengurangi obesitas global sebesar 1 persen. Itu sama dengan perubahan dari 650 juta menjadi 643,5 juta orang dewasa.

"Asosiasi yang diamati menunjukkan bahwa tingkat obesitas rendah di negara-negara yang makan nasi sebagai makanan pokok. Oleh karena itu, makanan Jepang atau makanan gaya Asia berdasarkan beras dapat membantu mencegah obesitas," jelas peneliti utama Tomoko Imai.

Mengapa nasi dapat memengaruhi tingkat obesitas? Imai mengatakan bahwa makan nasi tampaknya melindungi dan mencegah kenaikan berat badan.

"Bisa saja serat, nutrisi, dan senyawa tanaman yang ditemukan dalam biji-bijian utuh dapat meningkatkan perasaan kenyang dan mencegah makan berlebihan. Beras juga rendah lemak dan memiliki kadar glukosa darah postprandial yang relatif rendah, yang menekan sekresi insulin," jelas Imai seperti dilansir MedicalNewsToday.

Namun para peneliti dari Doshisha Women's College of Liberal Arts di Kyoto, Jepang ini mengakui bahwa penelitian mereka masih memiliki keterbatasan.


Para peneliti tahu bahwa meskipun mereka memperhitungkan sebanyak mungkin variabel perancu, masih ada kemungkinan bahwa mereka tidak mempertimbangkan banyak faktor penting lainnya dalam analisis.

Mereka juga menjelaskan bahwa mereka menggunakan data tingkat negara, bukan data tingkat orang. Ini memiliki beberapa kelemahan; misalnya, daerah tertentu di beberapa negara mungkin makan beras secara substansial lebih banyak daripada yang lain. Juga, tingkat obesitas dapat bervariasi di suatu negara dari wilayah ke wilayah.

Kekhawatiran lain adalah penggunaan indeks massa tubuh ( BMI ), meskipun ini adalah ukuran standar yang digunakan para peneliti secara luas, ini bukan ukuran kesehatan secara keseluruhan.

Masalah potensial lainnya adalah bahwa analisis tim tidak memperhitungkan jenis beras yang cenderung dikonsumsi oleh suatu populasi, yang mungkin penting. Misalnya, nasi putih jauh lebih rendah serat daripada jenis yang kurang diproses.

Berapa banyak serat yang dikonsumsi seseorang dapat berperan dalam risiko obesitas. Karena beberapa penelitian mengatakan ada hubungan nasi putih dan risiko diabetes. Keraguan tetap ada, jadi para ilmuwan harus terus mempelajari dampak beras terhadap obesitas.

Baca juga artikel terkait OBESITAS atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Febriansyah
Editor: Yantina Debora
Kontributor: Febriansyah