28 April 1932

Penelitian Demam Kuning dan Dendam Kempetai kepada Achmad Mochtar

Kontributor: Uswatul Chabibah - 28 Apr 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Profesor Achmad Mochtar, Direktur Eijkman Instituut, dibunuh kempetai. Diduga karena ia menentang hasil penelitian Hideyo Noguchi tentang demam kuning.
tirto.id - Siang itu Profesor Achmad Mochtar meninggalkan kantornya, Eijkman Instituut, menuju rumahnya di Jalan Cikini Raya. Direktur Eijkman Instituut itu pulang karena istrinya, Siti Hasnah, membuatkan masakan favoritnya untuk makan siang. Rupanya itu hari terakhir Siti Hasnah melihat suaminya. Pada Oktober 1944, Kempetai, polisi militer Jepang menjemputnya.

Beberapa hari setelah penjemputan Mochtar, Kempetai datang lagi untuk menggeledah rumahnya. Mereka hanya mengambil satu barang, yaitu salinan disertasi Achmad Mochtar yang ditulis ketika mempertahankan gelar doktor di almamaternya, Universitas Amsterdam, pada tahun 1926. (Hanifah, Abu. Tales of A Revolution. A Leader of the Indonesian Revolution Looks Back, 1972, hlm 127).

Di masa pendudukan Jepang, tidak ada seorang pun dapat merasa aman, karena sewaktu-waktu tentara Jepang dapat menjemput ke rumah atau menangkap begitu saja di jalan. Ancaman itu makin tinggi untuk warga Hindia yang berpendidikan tinggi dan dapat berbahasa Belanda. Achmad Mochtar, ahli leptospira dan penyakit tropis lain, jelas merupakan mangsa utama tentara pendudukan Jepang.

Penangkapan Achmad Mochtar berakhir dengan pemenggalan di tepi pantai Ancol pada 3 Juli 1945, setelah beberapa bulan disiksa di penjara Kempetai di bekas sekolah tinggi hukum (Rechtshoogeschool) yang kini menjadi kantor Kementerian Pertahanan di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Tetapi rupanya pembunuhan Mochtar bukan sekadar karena ia seorang intelektual lulusan Belanda yang dapat mengancam pemerintahan pendudukan.

Disertasi Mochtar yang disita Kempetai menjadi dugaan kuat mengapa dendam tentara pendudukan Jepang kepada Mochtar begitu hebat. Sementara semua kolega dan bawahan Mochtar di Eijkman Instituut yang ditangkap Kempetai pada akhirnya dibebaskan, tidak demikian dengan Mochtar.


Disertasi berjudul “Onderzoekingen Omtrent Eenige Leptospirren-Stammen” (Penelitian Pada Beberapa Galur Leptospira) tersebut memuat satu kesimpulan yang menentang hasil penelitian Hideyo Noguchi tentang penyebab demam kuning, penyakit yang mewabah di Afrika Barat. Ia terang-terangan menyebutkan bahwa Noguchi melakukan kesalahan.

Hideyo Noguchi yang ditentang Mochtar—ketika itu hanya kandidat doktor dari Bukittinggi yang tak dikenal—bukanlah peneliti sembarangan. Noguchi adalah ilmuwan kebanggaan Jepang yang dinominasikan untuk Hadiah Nobel Kedokteran sebanyak delapan kali. Kontribusi terbesarnya adalah pada 1913 ketika ia menemukan bakteri spiroket (Triponema pallidum) di otak pasien sifilis tingkat lanjut, yang menjelaskan kelumpuhan dan gangguan syaraf pada pasien.

Sebelumnya, dokter hanya menyebutnya sebagai “kelumpuhan umum orang gila” dan sama sekali tidak mengaitkannya dengan penyakit sifilis. Penemuan Noguchi serta-merta mengubah nama penyakit itu sebagai sifilis tersier atau neurosifilis. Untuk menghormati kontribusinya, nama Noguchi abadi disematkan pada spiroket lain, Leptospira noguchii. Noguchi jugalah yang pertama mendeskripsikan dan memberi nama genus ini. (Baird, Kevin B. & Sangkot Marzuki, Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang. Tragedi Lembaga Eijkman & Vaksin Maut Romusha 1944-1945, 2020, hlm 92-94).

Pada awal abad ke-20, leptospirosis, penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira, menjadi ancaman mematikan, terutama di Benua Amerika dan Afrika. Perwujudan klinisnya sangat beragam dan karenanya memusingkan ilmuwan. Ia dapat menyebabkan gagal hati, gagal ginjal, gangguan pernapasan, atau meningitis, tergantung organ apa yang diserang bakteri ini. Demam kuning, diduga merupakan perwujudan dari leptospirosis.

Pada periode 1919-1922, Hideyo Noguchi menerbitkan sejumlah makalah dan melaporkan telah menemukan Leptospira icteroides sebagai bakteri yang mungkin menyebabkan penyakit demam kuning. Ketika itu, Noguchi adalah salah satu peneliti penting di Rockefeller Foundation, sekaligus anak angkat Simon Flexner, direktur pertama Rockefeller. Ia mendapatkan fasilitas dan dukungan penuh untuk membuktikan bahwa L. icteroides adalah penyebab demam kuning.

Salah satu upayanya adalah dengan menyuntikkan vaksin pada 427 orang di Peru lalu melanjutkan dengan 20.000 dosis vaksin dalam uji coba di Ekuador, Peru, Brasil, dan Meksiko. Uji coba vaksin tersebut berbarengan dengan langkah antinyamuk, yang ketika itu terbukti sebagai alat yang efektif melawan demam kuning. Jumlah kasus demam kuning di wilayah-wilayah tersebut turun drastis—tidak jelas apakah karena vaksin Noguchi atau karena langkah antinyamuk. Pada 1925, Noguchi yakin bahwa vaksin untuk demam kuning telah berhasil ditemukan (Baird, hlm. 95-96).

Tantangan pertama Noguchi datang dari Max Theiler dan Andrew Sellards dari Universitas Harvard pada 1926. Dalam publikasinya, Theiler dan Sellards menyimpulkan bahwa “... leptospira mungkin tidak mempunyai hubungan etiologis dengan demam kuning.” Tak lama kemudian, muncul tantangan telak lainnya dari Amsterdam.


Infografik Mozaik Vaksin Wabah Kuning
Infografik Mozaik Vaksin Wabah Kuning. tirto.id/Quita


Pembimbing Mochtar di Universitas Amsterdam, WAP Schuffner, telah lama meragukan hipotesis Noguchi. Ia menugaskan Mochtar untuk menguji bahwa leptospira memang merupakan penyebab demam kuning. Hasil penelitian Mochtar menyimpulkan bahwa L. icteroides yang diambil dari pasien demam kuning kemungkinan adalah L. ictohaemorrhagiae, penyebab penyakit Weil, bukan demam kuning—Noguchi bersikeras bahwa ini merupakan dua bakteri ini berbeda. Menurut Mochtar, bisa jadi pasien sedang terkena demam kuning sekaligus penyakit Weil.

Serangan dari berbagai penjuru atas temuannya membuat Noguchi menyepi untuk mempelajari disertasi Mochtar. Noguchi masih berusaha membuktikan hipotesisnya. Ia berlayar ke Accra, Ghana, untuk upaya pembuktian di laboratoriumnya di sana. Pada 21 Mei 1928, Noguchi meninggal karena demam kuning. Ia menyuntik dirinya dengan serum dari pasien demam kuning yang telah ia saring guna menghilangkan bakterinya, yang tentu saja gagal, karena kemudian diketahui bahwa penyebab demam kuning adalah virus.

Pada 1930, Adrian Stokes berhasil mengisolasi virus dari pasien demam kuning bernama Asibi di Ghana. Lalu pada 1930, Theiler melanjutkannya dengan penelitian pada hewan uji yang kemudian berkembang pada penelitian antibodi.

Subkultur dari galur virus Asibi ini kemudian diberi nama galur 17D, yang kemudian menjadi dasar pembuatan vaksin yang masih digunakan hingga hari ini dan telah menyelamatkan jutaan nyawa. Penggunaannya untuk manusia diumumkan pada 28 April 1932, tepat hari ini 90 tahun lalu. Atas kontribusinya, Max Theiler dianugerahi Hadiah Nobel untuk Kedokteran pada 1951. (Staples, Erin J., Thomas P. Monath. Yellow Fever: 100 Years of Discovery, 2008).

Baca juga artikel terkait DEMAM KUNING atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Uswatul Chabibah
Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight