Peneliti Ungkap Alasan Mengapa Penderita Alzheimer Sering Mengantuk

Oleh: Rachma Dania - 19 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejumlah penelitian mengungkapkan alasan mengapa penderita Alzheimer sering mengantuk.
tirto.id - Salah satu gejala penyakit Alzheimer ialah kecenderungan untuk tidur seharian, meskipun sudah mendapatkan istirahat yang cukup di malam hari.

Menurut penelitian, terdapat hubungan antara rasa kantuk yang berlebihan dan kondisi kehilangan struktur atau fungsi sel neuron yang biasa disebut neurodegeneratif.

Para peneliti berspekulasi bahwa, melihat pola tidur siang hari dapat membantu memprediksi perkembangan Alzheimer.

Tetapi, yang masih belum jelas adalah mengapa orang dengan kondisi tersebut sering mengalami kantuk yang luar biasa.

Dilansir dari Medical News Today, terdapat sebuah studi baru yang dilakukan oleh para peneliti di University of California, San Francisco (UCSF) dan lembaga lainnya yang menyatakan bahwa orang dengan penyakit Alzheimer mengalami kehilangan sel otak utama di daerah otak yang bertugas menjaga tubuh agar tetap terjaga.

Temuan ini, juga muncul di dalam jurnal Alzheimer's & Dementia yang menunjukkan bahwa kelebihan protein memicu tau perubahan otak tersebut.

Pada penyakit Alzheimer, protein tau memiliki bentuk yang kusut hingga yang mengganggu komunikasi antara neuron (sel otak) dan berdampak terhadap kesehatan sel.

Protein tau sendiri merupakan protein yang membuat mikrotubula menjadi stabil. Protein ini memiliki banyak pada neuron di dalam sistem saraf pusat.

"Penelitian kami menunjukkan bukti definitif bahwa mengantuk dipengaruhi oleh protein tau- bukan protein amiloid (protein lain yang dapat menjadi racun pada penyakit Alzheimer) dari tahap paling awal penyakit ini," jelas penulis senior Dr. Lea Grinberg.

Dalam penelitian tersebut, Dr. Grinberg dan tim menganalisis otak 13 orang yang meninggal yang menderita penyakit Alzheimer, serta orang-orang dari tujuh orang yang meninggal yang tidak mengalami degenerasi neurologis klinis. Para peneliti memperoleh sampel ini dari Bank Brain Disease Neurodegenerative UCSF.

Tim menemukan bahwa, dibandingkan dengan otak yang sehat, mereka yang terkena penyakit Alzheimer memiliki tau tingkat tinggi di tiga wilayah yang merupakan kunci untuk tetap terjaga, yaitu locus coeruleus, daerah hipotalamus lateral, dan inti tuberomammillary. Selain itu daerah yang dipenuhi tau juga kehilangan 75 persen neuron mereka.

Dilansir dari laman Brightfocus, para ilmuwan telah lama menunjukkan pentingnya tau dalam penyakit alzheimer.

Akumulasi tau berlanjut sepanjang perjalanan penyakit. Berawal di bagian otak yang disebut korteks entorhinal dan hippocampus, otak tau terus menumpuk mulai menumpuk di beberapa bagian otak ketika penyakit berkembang.

Bukti terbaru menunjukkan bahwa tau menyebar melalui otak dengan cara inti protein tau melakukan perjalanan melintasi sinaps, yakni salah satu saraf yang memungkinkan untuk mengirimkan sinyal kimia ke sel saraf lain.

“Hal ini sangat luar biasa dikarenakan tidak hanya inti otak yang mengalami kemerosotan, akan tetapi seluruh jaringan yang menopang kesaran juga ikut merosot,” ujar penulis utama dalam penelitian tersebut, Jun Oh.

Ia menambahkan, “Yang terpenting bahwa dengan adanya penelitian ini, berarti bahwa tidak ada cara bagi otak untuk mengimbangi kerusakan yang terjadi karena semua jenis sel dihancurkan di saat yang sama.”

Untuk klarifikasi lebih lanjut, mereka menggunakan sampel otak dari tujuh orang yang memiliki kelumpuhan supranuklear progresif dan penyakit kortikobasal.

Ini adalah dua bentuk demensia yang ditandai secara khusus oleh kelebihan akumulasi protein tau.

Dalam penemuan ini peneliti tidak menemukan neuron yang hilang di daerah yang sama, yakni bagian otak yang bertanggung jawab atas tubuh yang terjaga.

Hal ini menunjukan bahwa kehilangan sel-sel otak secara destruktif hanya terjadi pada penyakit Alzheimer.

"Tampaknya jaringan yang membangunkan kesadaran sangat rentan terhadap penyakit Alzheimer, hal inilah yang perlu terus diteliti di masa depan," kata Oh.

Bukti sebelumnya ditemukan oleh Dr. Grinberg dan rekannya yang mencoba membuktikan bahwa protein tau mungkin memiliki dampak langsung pada degenerasi otak pada penyakit Alzheimer.

Dalam studi itu, tim menemukan bahwa orang yang meninggal dengan tingkat tau tinggi di batang otak mereka telah mulai mengalami perubahan suasana hati dan masalah tidur yang mana sesuai dengan gejala penyakit alzheimer awal.

"Bukti baru kami untuk degenerasi tau terkait pusat kesadaran otak memberikan penjelasan neurobiologis yang menarik," kata Dr. Grinberg.

"Ini menunjukkan bahwa kita perlu lebih fokus pada pemahaman tahap awal akumulasi tau di area otak, hal ini berguna dalam pencarian berkelanjutan kami untuk perawatan Alzheimer," tambahnya.


Baca juga artikel terkait PENDERITA ALZHEIMER atau tulisan menarik lainnya Rachma Dania
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Rachma Dania
Penulis: Rachma Dania
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight